oleh

Hadapi Tekanan AS yang Tiada Habisnya, Iran Mulai Serang Balik

Iran memutuskan mereka sudah cukup menahan diri dan mulai mengambil tindakan yang lebih agresif terhadap Amerika Serikat. Dengan pemerintahan Trump memperketat sanksi ekonomi dan mengintensifkan tekanan militer, Teheran sekarang berusaha untuk menyoroti kerugian yang juga dapat dijatuhkan pada Amerika Serikat—misalnya, dengan mengganggu pasokan minyak dunia—tanpa mengambil tindakan yang kemungkinan akan memicu perang habis-habisan. Tujuan dari pendekatan agresif ini adalah pencegahan, untuk membuktikan kepada pemerintah AS bahwa AS tidak dapat mempengaruhi perilaku Teheran melalui kekerasan.

Oleh: Tamer El-Ghobashy dan Liz Sly (The Washington Post)

Iran telah membuat perubahan dramatis dalam bagaimana mereka menghadapi Amerika Serikat (AS). Iran meninggalkan kebijakan menahan diri dalam beberapa pekan terakhir dan mulai melakukan serangkaian tindakan ofensif yang bertujuan mendorong Gedung Putih untuk memikirkan kembali upayanya dalam mengisolasi Teheran, kata para diplomat dan analis.

Dengan pemerintahan Trump memperketat sanksi ekonomi dan mengintensifkan tekanan militer, Teheran sekarang berusaha untuk menyoroti kerugian yang juga dapat dijatuhkan pada Amerika Serikat—misalnya, dengan mengganggu pasokan minyak dunia—tanpa mengambil tindakan yang kemungkinan akan memicu perang habis-habisan.

Ketika empat kapal diserang di Teluk Persia pekan lalu—termasuk dua kapal tanker Arab Saudi dan satu kapal Emirat—para pejabat AS dan Arab mengatakan bahwa mereka menduga Iran telah memerintahkan sabotase tersebut. Sebuah surat kabar Lebanon yang mendukung sekutu Iran Hizbullah, membual bahwa serangan itu adalah pesan dari Teheran yang disampaikan melalui “UEA dan Saudi”.

Dan setelah roket Katyusha mendarat dalam jarak satu mil dari kompleks Kedutaan Besar AS yang luas di Baghdad pada Minggu (19/5), kecurigaan segera beralih pada milisi yang didukung Iran di Irak. Para pejabat senior Irak memperingatkan Iran agar tidak menggunakan wilayah mereka untuk menargetkan Amerika Serikat dan kepentingannya.

Para pemimpin Iran mengecam insiden itu dan menyangkal bertanggung jawab. Tetapi para diplomat dan analis mengatakan bahwa serangan itu menunjukkan ciri khas Teheran dan merupakan bagian dari strategi yang muncul sebagai tanggapan atas sanksi yang melumpuhkan yang diberikan pemerintah Trump kepada Iran, setelah AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir penting tahun lalu.

Yang paling menyakitkan bagi Iran adalah keputusan AS pada musim semi ini untuk tidak memperbarui keringanan bagi delapan negara yang memungkinkan mereka untuk mengimpor minyak Teheran meskipun ada sanksi.

“Sama sekali tidak mengherankan jika kita melihat Iran mulai melenturkan otot-ototnya di wilayah di mana ia memiliki tangan yang cukup kuat dan memiliki potensi untuk menimbulkan kerugian pada AS dan sekutunya di kawasan itu,” kata Ali Vaez, seorang ahli Iran di International Crisis Group.

Selama setahun terakhir, pemerintah Iran telah menerapkan strategi penahanan diri relatif, dengan harapan bahwa Pemilu AS pada tahun 2020 akan menghasilkan Presiden Amerika yang kurang bermusuhan, kata para analis.

Sebelum tahun 2017, kapal-kapal Angkatan Laut Iran telah secara rutin mendekati kapal-kapal Angkatan Laut AS di Selat Hormuz yang strategis dengan cara yang mengancam, yang memicu tembakan peringatan pada beberapa kesempatan. Insiden itu meningkat, dan pada tahun lalu telah berhenti sama sekali.

Iran juga sebagian besar menahan diri untuk tidak membalas serangan udara Israel di Suriah yang menargetkan instalasi militer Iran dan pengiriman senjata ke kelompok militan Syiah Lebanon Hizbullah, yang terkait erat dengan Iran.

Dan alih-alih memobilisasi milisi dan dukungan Iran untuk melawan pasukan AS di Irak dan di tempat lainnya, Teheran justru menempatkan kelompok-kelompok itu untuk bekerja mengangkut barang-barang Iran ke Irak, Suriah, Lebanon, dan Afghanistan dalam upaya untuk mengimbangi dampak dari sanksi perdagangan AS.

Para pemimpin Iran berharap penahanan diri mereka akan memenangkan opini dunia dan membujuk negara-negara Eropa dan lainnya untuk menentang kampanye AS untuk mencekik ekonomi Iran, kata para analis. Menurut inspeksi yang dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran terus mematuhi ketentuan-ketentuan perjanjian nuklir, yang telah dinegosiasikan dengan Amerika Serikat dan negara-negara dunia lainnya dan membatasi program nuklir Iran.

Yang mengecewakan Teheran, mereka belum melihat keuntungan ekonomi seperti yang diharapkan ketika kesepakatan nuklir tersebut ditandatangani. Upaya Eropa untuk mempertahankan bisnis dengan Iran juga tidak memberikan bantuan.

Awal bulan ini, Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan bahwa negaranya akan berhenti mematuhi beberapa bagian dari perjanjian nuklir tersebut, yang membatasi Iran dalam menimbun uranium yang diperkaya dan air berat. Dia juga menetapkan batas waktu 60 hari untuk mendapatkan keringanan sanksi, menekan Eropa khususnya untuk mengabaikan embargo AS, dan mengatakan bahwa Iran akan melanjutkan pengayaan uranium ke tingkat yang lebih tinggi daripada yang diizinkan berdasarkan perjanjian tersebut.

Pada Senin (20/5), para pejabat nuklir Iran mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan kapasitas pengayaan nuklir empat kali lipat, tetapi tetap dalam batas 3,67 persen yang ditentukan oleh perjanjian itu. Para pejabat mengatakan bahwa peningkatan itu adalah pesan bahwa Iran mampu dengan cepat melewati batasan dengan infrastruktur yang ada, menurut media resmi pemerintah Iran, IRNA.

“Jika Eropa menginginkan kapasitas produksi Iran tetap pada level ini, mereka harus mengambil tindakan yang diperlukan,” kata juru bicara nuklir Iran, Behrouz Kamalvandi, seperti dikutip oleh IRNA.

Meningkatnya tekanan ekonomi—khususnya berakhirnya keringanan AS bagi para importir minyak Iran—telah memperkuat argumen para garis keras Iran yang melihat konflik dengan Amerika Serikat sebagai hal yang tak terhindarkan, kata para analis.

Meskipun masih minoritas, namun para garis keras ini mengatakan bahwa akan lebih baik untuk memprovokasi Amerika Serikat ke dalam aksi militer di saat Iran masih mampu memberikan tanggapan yang kuat, menurut Ellie Geranmayeh, seorang ahli Iran di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.

Mereka takut bahwa sanksi ekonomi yang berkelanjutan pada akhirnya dapat mengikis kemampuan Iran untuk mempertahankan diri, dan mereka mendorong dipercepatnya konflik dengan Amerika Serikat di saat Iran masih memiliki “ekonomi yang dapat mengelola kerugian apa pun dari konfrontasi militer,” kata Geranmayeh.

Tujuan dari pendekatan agresif ini adalah pencegahan, untuk membuktikan kepada pemerintah AS bahwa AS tidak dapat mempengaruhi perilaku Iran melalui kekerasan, katanya.

Konfrontasi militer juga dapat menghasilkan manfaat langsung untuk beberapa faksi di Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). IRGC—sebuah lengan militer Iran—ditetapkan oleh Amerika Serikat bulan lalu sebagai organisasi teroris.

Dengan pemilu parlemen yang diharapkan tahun depan, bentrokan dengan Amerika Serikat “akan secara signifikan memperkuat kubu yang lebih konservatif dan garis keras” yang telah frustrasi dengan kepemimpinan moderat Rouhani, kata Vaez.

Para pemimpin Iran, tampaknya, ingin menghindari perang. Dari pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, hingga Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Iran telah berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak mencari konflik, tetapi menekankan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan Amerika.

“Jika situasi ekonomi di Iran sebagai akibat dari sanksi mulai berputar di luar kendali, saat itulah sistem di Iran akan menyambut konfrontasi dengan AS karena itu akan mengubah subjek dalam negeri,” kata Vaez.

Untuk saat ini, Iran telah memperkirakan bahwa Trump tidak memiliki keinginan untuk konfrontasi militer baru di Timur Tengah, dan bahwa memberikan tekanan pada ekonomi Amerika melalui gangguan perdagangan internasional akan menghalangi sanksi tambahan AS, kata Sami Nader, Direktur Levant Institute for Strategic Affairs.

Sabotase kapal tanker di Teluk Persia “dirancang dengan sangat baik untuk mencapai tujuan Iran,” kata Nader. “Jenis tindakan itu sampai sekarang tidak menunjukkan adanya provokasi. Jika Anda ingin memprovokasi perang, Anda harus melakukan sesuatu yang akan membenarkan pembalasan militer. Pembalasan militer belum dibenarkan (dalam kasus ini).”

Iran pada tahun-tahun sebelumnya telah mengarahkan kampanye yang sangat efektif yang menargetkan pasukan Amerika di Timur Tengah—terutama di Irak pada tahun 2007 hingga 2011, ketika Teheran mendanai dan mempersenjatai milisi Syiah yang menentang pendudukan Amerika. Pentagon mengatakan bahwa sekitar 600 tentara Amerika terbunuh oleh milisi yang memiliki hubungan dengan Iran antara tahun 2003 hingga 2011.

Tetapi pendekatan seperti itu akan bertentangan dengan strategi Iran saat ini untuk menyusun reaksi yang disesuaikan dengan hati-hati terhadap tekanan dan risiko AS yang memicu konflik regional yang lebih besar, kata Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment for International Peace.

Selain itu, katanya, Iran tidak ingin membahayakan hubungan dengan negara-negara Eropa dan Asia dengan secara langsung menyerang pasukan Amerika, dan sebaliknya memilih tindakan seperti sabotase melalui proksi di Teluk Persia yang akan menaikkan harga minyak, sementara memungkinkan Teheran menjaga jarak.

“Tujuannya adalah untuk memecah komunitas internasional, bukan untuk mempersatukannya untuk melawan Anda,” katanya. “Anda ingin menunjukkan kepada China dan Eropa: ‘Lihat, kalian juga akan membayar untuk kampanye tekanan (Amerika) ini.” [MMP]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed