oleh

Generasi M: Bagaimana Kaum Muda Sukses Muslim Mengubah Dunia

Banyak orang berpesan agar jangan menilai buku dari sampulnya, tetapi, ternyata pendapat tersebut kurang tepat. Di latar depan adalah seorang perempuan muda dengan lipstick fushia, berkacamata hitam Jackie O-style dan berkerudung warna-warni. Di belakangnya terdapat seorang laki-laki muda, dengan kumis potongan modern, headphones tergantung di telinganya dan satu tangan dengan santainya masuk ke dalam saku celana.

generation-m-book

Mereka adalah bagian dari generasi M, dan sebagaimana tertampak pada buku yang berjudul Generasi Muda Muslim Mengubah Dunia, adalah gambaran jelas pertama dari agama paling berpengaruh dengan jumlah pertumbuhan paling paling cepat di dunia. Menurut pengarang buku Shelina Janmohamed, generasi mereka merupakan generasi yang bangga pada keyakinannya, konsumen yang bergairah, dinamis, terlibat, kreatif, dan memiliki banyak permintaan. Dan perubahan yang akan mereka hadirkan bukan berdasar pada kebaikan orang lain: melainkan, Muslim pound, seperti pink pound sebelum itu, akan memaksakan perubahan kultural secara perlahan dalam aktivitas ekonomi.

Untuk mendemonstrasikan semua hal itu, gambar pada sampul memiliki peran penting.”Ketika anda membicarakan kaum Muslim secara khusus, seharusnya ia merupakan pemeluk agama secara umum, tetapi gambaran yang anda dapatkan justru cukup menyedihkan,” ujarnya bersama secangkir kopi dan baklava di kebunnya di pinggiran luar kota London. “Namun, saya pikir hal ini sungguh-sungguh menangkap fenomena yang sebenarnya. Tegas, bersemangat, sangat mencerminkan kepribadian perempuan. Mereka memang sungguh-sungguh cerminan jenis generasi yang sedang saya tulis.”

Janmohamed mengenang saat ia pergi ke sebuah toko buku beberapa tahun yang lalu. “Mereka memajang buku tentang kaum Muslim, dan semua hal itu merupakan memori menyedihkan dengan perempuan dalam kerudung yang hanya menyisakan mata yang menjadi korban penculikan dan dijual, dan mereka yang menunggang unta di gurun pasir yang jauh.” Ujarnya.

“Tetapi Kaum Muda Muslim menangis keras agar bisa menyuarakan pendapatnya bahwa hal itu bukanlah gambaran tentang mereka, kami melakukan hal-hal biasa selayaknya orang lain, dan kami memiliki hal menarik untuk dibicarakan – khususnya ketika obrolannya adalah tentang Kaum Muslim.” Hanya sedikit publikasi berharga tentang pengalaman menjadi Kaum muda Muslim, yang tidak berkutat pada permasalahan politik dan teologi, ujarnya.

Generasi M adalah generasi Muslim milenial, generasi global yang lahir 30 tahun lalu, namun dengan sebuah kejutan. Tidak seperti Kaum Kristiani seangkatannya di Amerika dan Bagian Barat Eropa, sebagian besar mereka justru berbalik arah menjadi pemeluk agama yang terorganisasi, Generasi M memiliki karakter menyeluruh yakni mereka mempercayai bahwa memiliki keyakinan (beriman kepada Tuhan) dan kehidupan modern dapat berjalan searah, dan tidak ada kontradiksi di antara keduanya.” Ucap Janmohamed.

Dalam bukunya, ia menulis: “Keimanan mereka berpengaruh pada semua hal, dan mereka ingin dunia mengetahuinya. Hal inilah yang membedakan mereka dari teman non-Muslim sebayanya. Itu adalah faktor satu-satunya yang akan membentuk mereka dan dunia yang mereka dambakan dapat menyediakan keperluan mereka. Mereka adalah generasi yang ramah teknologi, dapat mengembangkan dirinya, kelompok anak muda yang percaya bahwa identitas mereka mencakup keimanan dan modernitas.”

Data demografi menggambarkan sebuah lintasan yang tidak biasa. Pada 2010, terdapat 1,6 miliar Kaum Muslim di dunia, angka diramalkan akan meningkat hingga 73% dalam empat dekade ke depan – dua kali lipat angka pertumbuhan pada umumnya. Pada 2050, berdasarkan Pew Research Center, terdapat 2,8 miliar kaum Muslim secara global, jumlah yang lebih dari seperempat populasi dunia.

Dari 11 negara yang tergabung dalam ekonomi terbesar dunia abad ini, enam diantaranya memiliki kelebihan populasi Muslim dan dua diantaranya adalah minoritas Muslim. Pada 2050, India akan memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, dengan estimasi sejumlah 311 juta, meskipun mereka masih akan menjadi minoritas diantara Negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar. Di Britania, Eropa dan Amerika Selatan, minoritas Muslim berusia muda, sejahtera dan sedang berkembang. Sepertiga dari seluruh warga Muslim berusia di bawah 15 tahun, dan dua pertiganya berusia di bawah 30 tahun.

Warga kelas menengah Muslim diprediksi meningkat tiga kali lipat mencapai 900 juta pada 2030, mengendalikan konsumsi setara dengan perubahan sosial dan politik. Kekuatan yang mereka berikan sangat besar: laporan terbaru State of the Global Islamic Economy meramalkan industri makanan halal dan gaya hidup bernilai $2.6tn pada akhir dekade ini, dan perbankan Islam berada pada lintasan yang serupa. Biro perjalanan Muslim dapat bernilai $233bn. Pada 2014, estimasi fashion Muslim bernilai $230bn, dan sebesar $54bn dihabiskan untuk kosmetik Muslim.

“Lewat jumlah populasi belaka, pertumbuhan yang tinggi dari kelas menengah, pergeseran kekuatan ekonomi dan politik di Timur Tengah dan Asia, rumah bagi sebagian besar warga Muslim dunia, dengan minoritas Muslim yang berpengaruh dan sebagai pemimpin yang terkoneksi dengan baik, oleh kekuatan inspirasional dari keimanan mereka dan penolakan mereka untuk menerima status quo, generasi M merupakan penentu perubahan. Dan merupakan gambaran dari perubahan yang akan terjadi.” Tulis Janmohamed.

Ia memetakan awal perubahan ini. Permintaan pada produk-produk halal merupakan dorongan untuk pertumbuhan dalam skala bisnis, seperti makanan, busana, kosmetik dan biro perjalanan. Di antara sejumlah pengusaha yang dikutip dalam buku adalah keluarga Radwan, yang memulai lahan organik halal di Oxfordshire; produsen bir non-alkohol – sebuah sektor yang tumbuh 80% dalam lima tahun hingga 2012 menurut the Economist; Shazia Saleem, yang meluncurkan ieat, jenis produk sajian makanan halal meliputi pie shepherd dan lasagna, yang pada hari ini dijual di Asda, Sainsbury dan Tesco; dan “keseluruhan industri fashion Muslim baru”, bekerjasama dengan ritel online, blogger video, pertunjukan catwalk dan penjahit pakaian.

Tetapi Generasi M, menurut buku ini, menginginkan sebuah bentuk yang melampaui halal kepada tayyib, yang secara kasar diterjemahkan sebagai “baik dan bermanfaat”. Mereka menginginkan keseluruhan pasokan rantai produksi dan konsumsi untuk memiliki integritas. “Sumber daya harus dihargai benar-benar, pekerja di industri primer tidak boleh dieksploitasi. Sustainability dan renewability adalah bagian dari gagasan Islami untuk “melestarikan bumi”, Generasi M eco-Muslim sedang memperjuangkan hal ini.”

Menurut Janmohamed, generasi Muslim milenial ini telah terbentuk oleh dua faktor monumental. Pertama adalah kejadian 15 tahun lalu, sejak 9/11, dan respons global pada ekstremisme dan terorisme Islam; hal lainnya adalah internet, yang dideskripsikan dalam buku sebagai “perekat yang menyatukan (Generasi M) bersama-sama dan menciptakan massa penting yang mengarahkan mereka pada kekuatan global yang berpengaruh.”

Ia mengungkapkan bahwa internet juga memiliki ruang yang diberikan untuk suara-suara marjinal (tradisional) dalam komunitas – Generasi muda Muslim dan perempuan – untuk mengekspresikan pandangannya.”

Di antara pandangan tersebut adalah frustasi dan kekangan yang didefinisikan oleh hijab mereka atau dikatakan bahwa mereka diopresi oleh keimanan mereka. Janmohamed mengutip Azra, 20: “Saya adalah perempuan muda Muslim. Saya tidak diopresi oleh hijab saya, saya mendapat kebebasan karenanya. Jika anda tidak memahaminya, tidak masalah, anda tidak perlu memahaminya… Emosi yang anda lihat di mata saya bukan permintaan untuk “mohon bantu saya” tetapi tanda agar anda membuang keegoisan omong kosong anda dan memaksa anda menelannya mentah-mentah.”

Bukannya diinjak-injak dan ditundukkan, perempuan Muslim justru mengalami peningkatan pada penguatan dalam pendidikan, pekerjaan, kehidupan publik, pernikahan dan pengasuhan anak, ungkap Janmohamed. “Seandainya kita mengambil potongan ilustrasi perubahan global, sebagian besar hal yang nampak adalah gambaran wajah perempuan Muslim – ia adalah bagian dari populasi terbesar, dalam bangsa yang mengalami perubahan paling cepat, dan dalam segmen di mana perubahan paling berpotensi. Singkatnya, perempuan Muslim sedang menjadi sorotan.

Meskipun usianya yang 42 tahun telah melampaui Generasi M, Janmohamed dalam banyak hal merupakan perwujudan perempuan muda Muslim yang ia deskripsikan.

Ia lahir di London dari orang tua imigran yang tiba di UK dengan sebuah kopor dan uang tunai sebesar £75, dan ia pergi ke sekolah di mana hanya terdapat sedikit wajah non-kulit putih. “Agama merupakan perkara penting dalam keluarga kami – saya ingat orang tua saya sembahyang dan berpuasa, pergi ke mesjid secara rutin; komunitas Muslim yang mereka menjadi bagiannya adalah yayasan yang merupakan bagian dari kehidupan sosial mereka. Tetapi di sekolah, saya menghabiskan waktu untuk menyembunyikan tangan saya yang berhias hena, tidak mengatakan pada teman-teman bahwa saya memakan kari di rumah, sangat malu menjadi Muslim.”

Hanya ketika pergi ke Oxford ia mulai mengenakan kerudung. “Saya menemukan universitas sebagai pengalaman yang membebaskan. Saya mengeksplorasi siapa diri saya di masa lalu, dan bagian identitas saya sebagai seorang Muslim yang jadi sangat mengherankan di sekolah.”

Setelah universitas, ia bergabung ke pelatihan tersertifikasi dalam bidang pemasaran, dan selanjutnya menghabiskan satu tahun bekerja di Bahrain, yang “membuka mata saya pada pengalaman global menjadi Muslim.” Ia kembali ke UK sekejap sebelum 9/11, menyusul bom London pada Juli 2005, mulai menulis sebuah blog “berbicara perihal bagaimana menjadi Warga Inggris dan Muslim dan perempuan. Hal ini nampak seperti percakapan itu, tentang seseorang yang menapaki warisan temurun yang berbeda dan merasa nyaman pada semuanya, hanya saja tidak didengar.”

Blog ini kemudian mewujudkan sebuah buku,  Love in a Headscarf, terbit pada 2009, tentang pertanyaannya selama 10 tahun untuk cinta dalam pernikahan yang terwujud melalui perjodohan tradisional. Janmohamed diminta untuk membantu peluncuran Ogilvy Noor, sebuah divisi periklanan dan agensi pemasaran Ogilvy & Mather, yang membantu menghubungkan merek-merek dengan konsumen warga Muslim.

Ogilvy merekrutnya ketika ia sedang mengandung anak pertamanya delapan bulan, dan generasi  M sebagian besar tebentuk selama kehamilan keduanya dan sejak kelahiran anak perempuannya yang paling muda 18 bulan lalu. Pada halaman persembahan buku, Janmohamed menulis: “Untuk anak-anak perempuanku. Sebab kamu dapat melakukan apapun. Take it from Mummy.”

Generasi M, ujarnya, memiliki aspirasi yang tinggi. “Mereka ingin menjadi astronot, anda kerap mendengar kabar pemain anggar pada olimpiade dan ice skaters untuk olimpiade Musim Dingin, pegawai perempuan untuk Brunei airways – ada anak-anak muda yang sungguh-sungguh bertarung dengan kenyataan bahwa mereka memiliki aspirasi yang mesti bertabrakan dengan kenyataan yang mencoba mengurung mereka ke kotak khusus.”

Tetapi, ia mengakui, tidak semua generasi muda Muslim merupakan Generasi M. Yang termasuk ini tidak tergantung kepada pendapatan yang dapat ditabung atau tingkat pendidikan, tetapi mereka yang mempertemukan karakter keimanan dan modernitas. “Generasi mereka mungkin akan disebut tradisionalis, lebih konservatif secara sosial, bertindak seolah mengelola harmoni, lebih memiliki rasa hormat pada kewenangan dan, sebagaimana mereka menyebut dirinya, mencoba untuk memegang teguh kepada segala yang mereka lihat sebagai elemen yang baik pada keluarga, komunitas, dan tradisi,” tulisnya.

Dan sedikit generasi muda Muslim, tentu saja, menjadi radikal, mengatasnamakan Islam untuk ekstremisme kekerasan dan kebencian, berlawanan kutub dengan Generasi M.

Saya bertanya padanya kepada siapa buku tersebut ditujukan. Satu tujuannya adalah menawarkan platform untuk generasi M, jawabnya,”Untuk mereka yang ingin suaranya didengar.” “Jadi terdapat pengakuan pada identitas pribadi mereka, konsolidasi perihal siapa mereka, bagaimana mereka berbicara kepada orang lain.”

Kemudian, ia menambahkan: “Terdapat perbincangan bagi komunitas Muslim yang lebih luas untuk memiliki, untuk memahami beberapa dinamisasi yang terjadi di dalamnya, beberapa tantangan kaum muda Muslim adalah menghadapi dan mencari jalan menyelesaikan masalah.”

Tetapi buku ini juga – barangkali utamanya – bagi publik yang lebih luas. “Orang yang bekerja dalam bisnis, politik, budaya, pembangunan. Populasi Muslim UK hanya 3 juta, populasi Eropa adalah 50 juta dan terus bertumbuh, populasi seluruh dunia adalah 1,6 miliar. Saya pikir seseorang yang cukup serius untuk memahami hal-hal yang terjadi di seluruh dunia memiliki sesuatu untuk dicapai.”

Dan marketing executive Janmohamed menginginkan merek global dan perusahaan multinational agar membangun kekuatan Muslim pound, dollar, rupee atau euro. “Brand juga harus sedikit waspada,” ia mengungkapkan, menegaskan bahwa bisnis tidak kebal dari hujaman stereotype yang besar. “Ada sebuah ide radikal yang nyata ketika Muslim membeli barang-barang, Muslim mengatakan:’Halo, kami memiliki banyak uang untuk dibelanjakan, kami muda, kami keren, ayolah, bisakah kau bersepakat dengan kami dengan cara yang sama ketika bekerja dengan orang-orang lainnya?”

  • Generation M: Young Muslims Changing the World oleh Shelina Janmohamed diterbitkan pada 6 September by IB Taurus.
  • Naskah asli dari The Guardian (dan diunggah ulang oleh Muslimvillage.com) oleh Harriet Sherwood, diterjemahkan oleh Kalis Mardiasih (@mardiasih) dari satuislamdotorg
  • Backlink https://muslimvillage.com/2016/09/05/120056/generation-m-young-successful-muslims-changing-world/

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed