Home / Nasional / Generasi Baru yang Tidak Mengenal Pancasila

Generasi Baru yang Tidak Mengenal Pancasila

Satu Islam, Jakarta – Prof. Dr. H. Nadhirsyah Hosen mengatakan bahwa ada generasi baru yang muncul 20 tahun terakhir ini. Mereka adalah generasi yang tidak paham akan Pancasila.

Hal ini disampaikan dalam Kajian Islam Madani “Kebangsaan dalam Ancaman Islamisme” yang digelar oleh IJABI dan Komunitas Islam Madani di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta Selatan. Jum’at, 16 Februari 2018.

Profesor dari Australia yang akrab disapa Gus Nadhir ini mengatakan generasi inilah yang mudah sekali digoyah dengan gerakan Islamisme. Karena sangat kurang wawasan kebangsaannya.

Uniknya, lanjut Gus Nadhir, gerakan Islamisme ini menggunakan istilah-istilah Pancasila dan NKRI. “Ada kekosongan dan kevakuman pendidikan pancasila dalam 20 tahun terakhir,” tandas Ketua Rais Syuriah PCINU Australia ini.

Menurut Gus Nadhir, hal ini terjadi karena salah satunya hal-hal yang berbau Orde Baru dihapus. Seperti Posyandu, Penataran P4, dan lain-lain. “Salahnya Orde Baru memaksakan penafsirannya terhadap Pancasila,” ujarnya.

“Terbentuknya Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila ( UKP-PIP) yang diketahui Yudi Latif sudah cukup terlambat,” pungkasnya.

Pembicara dan tokoh lain yamg juga hadir antara lain Jalaluddin Rakhmat, Zuhairi Misrawi, Usep, Sukmawati, Inayah.

Kang Jalal menjelaskan bagaimana perbedaan antara Islam dan Islamisme. “Islamisme adalah membatasi agama yang bersifat universal menjadi sangat temporal sangat lokal dan terbatas pada kelompok tertentu,” katanya.

“Politisasi dari agama, agama dijadikan manuver politik dan agamaisasi politik, politik disamakan dengan agama. Politik diseret menjadi agama.”

Islamisme itu, kata Kang Jalal, dilakukan oleh kaum oportunis yang ingin merebut kekuasaan.

Merespon Kang Jalal, Zuhairi Misrawi mengatakan “diskusi malam ini menjadi penting karena kita bisa membedakan antara Islam dan Islamisme.”

“Kita harus cerdas membedakannya. Karena Islamisme itu sudah terbukti gagal. Tidak ada contoh bagus yang menjadikan Islam sebagai dasar negara dan berhasil,” imbuhnya.

Ia mengatakan “Janganlah kita meniru kegagalan islamisme di Negara. Kita kan mengambil nilai-nilai subtantif dalam agama Islam.”

“Takdir politik Indonesia itu Pancasila bukan Islamisme,” pungkasnya.

Sementara Inayah, yang diberi kesempatan bicara menyampaikan bahwa sudah saatnya kita mengganti pancasila dengan kata kerja. Ia juga memohon pada para pembicara untuk terus ikut mengawal anak-anak muda mengenal Panacasila.

“Saya mohon kepada Gus Nadhir dan Gus Mis agar mau membimbing anak-anak muda yang dibesarkan dengan pendidikan pancasila dengan jargon-jargon ini,” tandasnya.(yusanwar)

Check Also

Isu Teror Kiai di Kediri Ternyata Karangan Tamu Pondok

Satu Islam, Kediri – SIsu laki-laki yang bernama Aziz yang mengancam kiai dan masayikh Pondok …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.