oleh

Fraksi PKS MPR: Hilangkan Radikalisme dengan Imunisasi Pancasila

densus-tangkap-isis
Densus 88 menangkap warga yang diduga ISIS. (Ist)

Satu Islam, Jakarta – Wakil Ketua dari Fraksi PKS MPR, Ahmad Zainuddin, mengatakan, fenomena radikalisme belakangan ini tumbuh subur di masyarakat dalam beragam bentuk. Dari yang bersifat ideologis, kriminal hingga budaya. Untuk itu, perlu upaya sistematis guna menghadapi radikalisme yang kian merebak.

“Karenanya kami (MPR) memandang radikalisme harus dihilangkan. Namun caranya tidak boleh represif dan sewenang-wenang. Karena represif hanya akan menimbulkan radikalisme baru,” kata Zainuddin disela-sela Seminar Nasional bertema `Upaya Penanggulangan Radikalisme Melalui Imunisasi Ideologi` yang digelar pada masa reses MPR, Senin 11 Mei 2015.

Zainuddin menyatakan, MPR sangat memahami bahaya radikalisme bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI. Apalagi pasal 10 Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2009 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, telah mengamanatkan kepada setiap anggota MPR untuk memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan UUD NRI 1945, serta mempertahankan kerukunan nasional dan menjaga keutuhan NKRI.

Karena itu, menurut dia, sistem pertahanan nasional harus terus diperkuat dan sosialisasi tentang ideologi bangsa harus terus dilakukan dengan langkah yang terukur dan sistematis. Semua elemen masyarakat dan bangsa harus terlibat dalam upaya penguatan ini.

“Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah dengan imunisasi ideologi,” ujar anggota Komisi I DPR itu.

Sementara, Rektor Universitas Ibnu Khaldun, HE Bahruddin, menyebut munculnya radikalisme karena faktor politik, ekonomi, pemikiran, hukum, psikologis dan pendidikan. Terlebih, kata dia, merebaknya radikalisme juga karena munculnya ketidakadilan dan ketimpangan dalam bidang-bidang tersebut.

“Eksekutif, legislatif dan yudikatif harus menjadi contoh yang baik dan mengedepankan sikap dan prilaku adil, baik di politik, ekonomi, pendidikan dan hukum, sehingga tidak menjadi penyebab lahirnya radikalisme baru,” ucapnya.

Sedangkan, Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Reform (CIR), Sapto Waluyo, menegaskan, imunisasi ideologi merupakan penanaman nilai atau orientasi yang harus dilakukan sejak dini dalam keluarga, sekolah dan lingkungan pergaulan. Pembentukan karakter kepribadian diri akan membentuk seseorang memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan.

Lulusan Nanyang Technological University itu melanjutkan, bahwa bahaya kekosongan ideologi membuat kerentanan untuk terprovokasi oleh kelompok yang memiliki kepentingan tersembunyi.

“Justru kegiatan rohis di sekolah itu sebenarnya salah satu bentuk imunisasi ideologi, karena kalau tidak ada rohis berbagai ideologi radikal bisa masuk ke sekolah. Banyak anggota rohis yang berprestasi olimpiade. Yang di luar justru terlibat tawuran,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed