oleh

Foreign Policy: Bukan Soal Uang, Inilah Sumber Kekuatan Tersembunyi Iran

Kekuatan pendorong revolusi Iran bukanlah soal uang atau karena pencarian fanatik untuk politik Islam. Keinginan untuk menyingkirkan penjajahan asing adalah dorongan utama revolusi di Timur Tengah selama beberapa generasi. Isu-isu inti revolusi Iran dan perjuangan bersama kelompok-kelompok proksinya adalah kedaulatan dan kemerdekaan dari kekuatan luar. Yang tidak diketahui AS, hubungan Iran dengan para proksi-nya jauh lebih dalam dari yang dipahami oleh pemerintahan Trump.

Oleh: Narges Bajoghli (Foreign Policy)

“Apa yang Amerika tidak mengerti adalah bahwa kelompok-kelompok yang kami dukung di wilayah itu bukan tentara bayaran kami,” Ali, seorang anggota tingkat tinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), mengatakan ketika saya baru-baru ini bertanya kepadanya tentang salah satu tujuan sanksi pemerintahan Trump terhadap Iran: untuk membatasi kemampuan Iran untuk secara finansial mendukung milisi di wilayah tersebut.

Dia melanjutkan, “Amerika berpikir bahwa semuanya tentang uang. Mereka pikir kami membeli loyalitas di wilayah ini, karena itulah cara mereka membeli loyalitas.”

Dalam 10 tahun saya melakukan penelitian bersama para produser budaya di pasukan militer Iran yang terkenal, IRGC, saya melihat banyak pembuat film yang setia kepada Hizbullah dan kelompok Syiah Irak dan kelompok Kurdi yang melakukan perjalanan melalui pusat-pusat budaya rezim di Teheran. (Mereka semua setuju untuk berbicara dengan saya dengan syarat anonim. Nama pertama yang digunakan di sini adalah nama samaran.)

Mehdi, seorang pembuat film pro-rezim Iran, pernah tinggal di Lebanon untuk membuat film bersama produser media Hizbullah. Ketika mereka mengunjunginya di Teheran, mereka berbicara bahasa Persia dengan lancar dan menavigasi kota dengan mudah. Para pembuat film Irak akan secara rutin datang untuk menghabiskan waktu di Teheran, di studio pengeditan yang terkait dengan organisasi Basij paramiliter.

Meskipun penelitian saya berfokus pada para produser budaya, namun saya melihat aliran asing yang sama dalam ekonomi dan senjata militer IRGC. Aliran barang, ide, dan orang-orang antara Iran dan proksi-proksinya dipastikan akan terus berlanjut di tengah sanksi Presiden Donald Trump, yang difasilitasi oleh berbagai institusi yang tidak bergantung pada investasi keuangan yang besar, dan dengan menjalin persahabatan di semua pihak.

Secara historis, hubungan antara Iran, Irak, dan sekitarnya, sudah dimulai sejak generasi sebelumnya. Rute perdagangan dan upacara ziarah yang telah lama ada, membuat komunitas dan seluruh keluarga dengan lancar bepergian, hidup, berbincang, dan menciptakan ikatan budaya dan sosial. Namun, keberadaan ikatan ini semata-mata tidak diterjemahkan ke dalam kelompok yang aktif secara politik. Para pembuat kebijakan dan publik salah memahami sifat ikatan ini, dan menjelaskannya sebagai ikatan yang diikat oleh Syiah sebagai doktrin agama tradisional.

Kesalahpahaman ini muncul dari kerangka yang secara fundamental cacat yang menopang seluruh kebijakan Iran dan Timur Tengah Washington—keyakinan bahwa apa yang mendorong revolusi tahun 1979 di Iran adalah pencarian fanatik untuk politik Islam. Tetapi apa yang sebenarnya mengikat kelompok-kelompok ini bukanlah kepatuhan terhadap doktrin teologis yang spesifik—jika itu masalahnya, Iran tidak akan memiliki hubungan dekat dengan faksi-faksi Palestina tertentu, atau dengan kelompok-kelompok Kurdi Irak.

Untuk memahami bagaimana pencarian politik untuk kedaulatan—dan bukannya pencarian pemerintahan agama—mendorong hubungan Iran dengan para proksinya, pertama-tama perlu untuk membongkar asumsi saat ini tentang revolusi yang mengarah pada Republik Islam.

Dalam generasi baru dari para ilmuwan yang bertujuan membangun sejarah sosial revolusi, penelitian menunjukkan bahwa apa yang memotivasi orang Iran untuk mendukung revolusi secara massal adalah keinginan untuk menyingkirkan negara imperialisme. Seperti yang dikatakan seorang sejarawan terkemuka Iran, Ervand Abrahamian, bahwa revolusi 1979 harus dilihat sebagai kelanjutan dari perjuangan nasional untuk pembebasan pada tahun 1953 oleh kudeta yang diatur oleh Amerika Serikat (AS).

Amerika Serikat menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadeq yang terpilih secara demokratis, mengembalikan Shah Mohammad Reza Pahlavi, dan mengambil kendali atas ladang minyak Iran. Di dalam negeri, tidak peduli apa yang Shah lakukan dalam jangka waktu 26 tahun antara tahun 1953 dan 1979, kudeta itu membayangi pemerintahannya. Terdapat perasaan bahwa ia menerima penawaran Amerika dan Inggris dan menjual integritas nasional negaranya untuk kekuasaan dan kekayaan.

Seperti yang dikatakan sejarawan Naghmeh Sohrabi, revolusi 1979 di Iran harus dipahami “sebagai salah satu revolusi sukses besar terakhir dari dunia pasca-kolonial dan dalam bentuk pasca-revolusionernya, sebagai salah satu revolusi pertama untuk menjawab pertanyaan dan kecemasan global Islam.”

Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah lawan simbolis dari kekayaan mewah Shah. Pesan populis Khomeini untuk mengembalikan keadilan dan integritas Iran dalam menghadapi penghinaan internasional dan domestik, didukung oleh masyarakat Iran, yang—meskipun kaya minyak pada tahun 1970-an—sebagian besar tetap miskin dan tinggal di pedesaan.

Sebuah revolusi rakyat besar-besaran mengusir Shah tersebut bukan hanya karena kekurangan ekonomi, budaya, atau politik (yang juga terjadi di negara lain tetapi tidak menghasilkan gerakan revolusioner), tetapi lebih karena kaum revolusioner menyebut Shah sebagai boneka Amerika yang tidak memikirkan kepentingan terbaik bangsa. Isu-isu inti revolusi adalah kedaulatan dan kemerdekaan dari kekuatan luar.

Sekarang, apa hubungannya ini dengan hubungan Iran dengan para proksinya? Dalam 40 tahun sejak revolusi, Republik Iran telah mendukung kelompok-kelompok yang secara aktif terlibat dalam perjuangan melawan pendudukan asing, baik di Lebanon, Irak, atau wilayah Palestina yang diduduki. (Analisis ini juga melihat kebijakan di Suriah, di mana Suriah percaya bahwa Amerika Serikat, Eropa, dan Israel menggunakan kelompok domestik—dan kemudian tentara bayaran—untuk menggulingkan Assad untuk mencapai tujuan geopolitik mereka.)

Ketika seseorang memperhatikan dengan saksama wacana kelompok-kelompok ini—dari pernyataan resmi mereka hingga media—penekanannya adalah pada kedaulatan dan perjuangan melawan imperialisme. Tentu saja, simbolisme Islam sebagai identitas budaya dan politik juga ada, tetapi itu bukan kekuatan pendorongnya.

“Amerika berpikir kami membuat orang-orang Muslim menjadi gila dan turun ke jalan kemartiran dan bahwa Irak dan Lebanon sama-sama gilanya,” kata Hossein, seorang komandan IRGC selama Perang Iran-Irak dan sekarang menjadi produser media. “Mereka tidak ingin berpikir bahwa kami memiliki kekhawatiran politik yang sah tentang wilayah yang bebas dari dominasi penjajahan dan upaya untuk mengendalikan sumber daya kami.”

Mehdi—pembuat film Iran yang telah menghabiskan bertahun-tahun tinggal dan bekerja di Lebanon bersama produser media Hizbullah—mengatakan, “Saya bergabung dengan pasukan revolusioner karena saya ingin menjadi seperti Dr. Chamran. Apa yang dia lakukan untuk Lebanon dan Palestina, dan kemudian untuk Iran, itulah yang mendorong begitu banyak dari kami.”

Mehdi merujuk kepada salah satu ahli strategi angkatan bersenjata revolusioner Iran serta menteri pertahanan pertama pemerintah revolusioner Mostafa Chamran. Sebagai seorang fisikawan dari University of California, Berkeley, yang sangat terlibat dalam gerakan anti-kolonial tahun 1960-an dan 1970-an, Chamran berlatih taktik gerilya di Kuba dan Mesir dan bekerja di Lebanon untuk mengorganisasi kaum Syiah pada tahun 1970-an. Mehdi dan kolaborator Lebanonnya telah membuat film tentang Chamran dan program pendidikan publik untuk mengajar generasi muda mereka tentang pemimpin militer ini.

Taktik militer dari gerakan anti-kolonial tahun 1970-an diterapkan dalam IRGC dan dalam milisi yang didukung Iran di wilayah tersebut. Taktik perang asimetris ini diuji dalam pertempuran selama periode delapan tahun selama Perang Iran-Irak. Dari tahun 1980 hingga 1988, IRGC belajar bagaimana berperang, menciptakan strategi militer, dan menahan kekuatan militer superior yang didanai dan dipasok oleh Barat.

Seperti banyak gerakan anti-kolonial pada masa itu, revolusi Iran tidak mengarah pada pembebasan, tetapi perjuangan berdarah untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya menekan suara-suara yang berbeda pendapat. Dalam empat dekade sejak didirikan, Republik Iran dan IRGC telah mempraktikkan politik berat yang telah mengakibatkan luka mendalam yang tidak akan mudah dimaafkan.

Namun di antara para pendukung Republik Iran—baik secara internal maupun eksternal—pemerintah Iran pasca-revolusioner tetap sah dan patut diperjuangkan bersama, justru karena mereka telah mampu menggagalkan agresi AS di Irak dan Afghanistan; karena mereka berperang melawan ISIS, yang sebagian besar mengarah pada kekalahannya; dan karena dukungannya kepada Hizbullah telah membantu Israel keluar dari Lebanon.

Sejak pemerintahan Trump berkuasa, kebijakan luar negeri AS adalah menggunakan kekuatan untuk menggertak mereka yang tidak mau patuh terhadap AS. Di Timur Tengah, bukan hanya Iran yang ditargetkan oleh Amerika Serikat. Sehubungan dengan pencaplokan Dataran Tinggi Golan baru-baru ini dan pemberian hak pengeboran kepada perusahaan yang terkait dengan Dick Cheney, serta dukungan yang lebih luas terhadap kebijakan ekspansionis Benjamin Netanyahu di wilayah Palestina yang diduduki, keinginan yang lebih luas oleh Amerika dan Israel atas hak kontrol—dan keuntungan dari—sumber daya alam di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kelompok-kelompok ini, terutama Hizbullah, tetapi juga terhadap berbagai kelompok Irak yang peduli tentang kontrol atas ladang minyak mereka.

Bagi para pendukungnya, kesulitan Iran saat ini dalam menghadapi pemerintahan AS yang menginginkan agar Iran patuh pada AS, terlalu mirip dengan contoh sejarah.

Di dalam negeri, terlepas dari keputusasaan yang meluas di rezim tersebut, pencarian energi nuklir telah menjadi hak nasional di Iran selama beberapa dekade. Dalam penelitian saya, saya telah melacak bagaimana IRGC telah menumbuhkan pesan nasionalis dalam semua program budaya dan media sejak setidaknya tahun 2005.

Mengingat tindakan pemerintah Trump terhadap Iran, dari penarikan diri dari kesepakatan nuklir Iran hingga menunjuk IRGC sebuah organisasi teroris asing—yang memengaruhi jutaan pria muda yang telah melayani wajib militer mereka di bawah IRGC—Iran tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menyuarakan persatuan nasional dalam keadaan seperti ini.

Dalam beberapa bulan terakhir sejak banjir dahsyat yang melanda hampir seluruh pelosok Iran, para pembuat film Irak, Afghanistan, dan Lebanon yang terikat dengan berbagai kelompok milisi di wilayah tersebut, telah berada di Iran untuk membuat berita dan dokumenter tentang upaya IRGC dan kelompok paramiliter Iran dalam memberikan bantuan banjir. Upaya media ini telah dibingkai sebagai kebutuhan untuk solidaritas di seluruh wilayah dengan Iran, seiring Iran menghadapi bencana alam dan tekanan pemerintah Trump.

Di seluruh wilayah—bahkan dalam masyarakat yang berselisih dengan Iran—kelompok-kelompok ini telah berhasil menyuarakan penderitaan rakyat Yaman sebagai masalah yang terus diabadikan Saudi. Cabang media kelompok-kelompok ini—yang menyebarkan materi dalam bahasa Arab dan Kurdi (dalam berbagai dialek lokal)—tidak memiliki anggaran besar untuk operasi media Saudi atau Emirat di wilayah tersebut. Namun, seperti taktik militer mereka di lapangan, kelompok-kelompok ini telah menciptakan operasi komunikasi asimetris yang efektif.

Para pejabat AS dapat berharap bahwa sanksi akan membatasi kemampuan Iran untuk mendanai kelompok-kelompok ini, tetapi dengan harapan tersebut, mereka mengungkapkan kenaifan mereka tentang dua bidang: Pertama, melalui jaringan pendanaan penduduk asli, uang akan terus mengalir ke kelompok-kelompok ini melalui sistem yang rumit yang akan sulit dilacak oleh Departemen Keuangan AS; dan kedua, keinginan untuk menyingkirkan penjajahan asing adalah dorongan utama revolusi di Timur Tengah selama beberapa generasi. Uang bukanlah faktor penentu utama. (MMP)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed