oleh

Faktor dan Dampak Mundurnya Uni Emirat Arab dari Yaman

Baru-baru ini pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk mengurangi jumlah pasukannya di perang Yaman. Lantas apa alasan dan dampak dari keputusan terbaru Abu Dhabi ini.

Keputusan Uni Emirat Arab mundur dari Yaman memiliki beragam alasan. Faktor ini terbagi menjadi empat level, internal, kondisi internal koalisi, kondisi medan pertempuran dan kondisi regional.

Uni Emirat Arab terdiri dari tujuh emirat. Kondisi internal Uni Emirat Arab khususnya emirat Sharjah, Dubai dan Ras al-Khaimah terlibat friksi dengan Abu Dhabi terkait partisipasi negara ini di perang dan kini terkait belanjutnya partisipasi negara ini di perang Yaman. Berbagai berita menunjukkan bahwa para pemimpin sejumlah emirat di negara ini menekan Pangeran Mahkota Abu Dhabi, Mohammad bin Zayed Al Nahyan untuk mengakhiri partisipasi negara ini di perang Yaman. Alasan penentangan ini adalah Emirat mengalami kerugian ekonomi akibat berlanjutnya partisipasi di perang Yaman.

Pasukan Koalisi Arab di Yaman

Salah satu faktor utama sikap Uni Emirat Arab yang memilih untuk mengurangi partisipasinya di perang Yaman dapat dicermati di kondisi internal koalisi Arab pimpinan Saudi dan eskalasi friksi antara Abu Dhabi dan Riyadh. Friksi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai meletus sejak tahun kedua perang di Yaman.

Pencopotan Khaled Bahah, perdana menteri pemerintahan Mansur Hadi yang telah mengundurkan diri, merupakan kunci dari friksi ini. Khaled Bahah merupakan sosok yang dekat dengan UEA, namun Arab Saudi dengan pengaruhnya terhadap Mansur Hadi telah membuka peluang bagi pencopotan Bahah dan menggantikannya dengan Ahmed Obeid bin Daghr. Peristiwa ini mengindikasikan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga terlibat persaingan dalam menentukan sosok yang berkuasa di struktur pemerintahan Mansur Hadi. Tak hanya itu, keduanya juga terlibat friksi dalam masalah ini.

Bulan Mei 2017, friksi antara Emirat dan Arab Saudi semakin transparan. Mansur Hadi di bulan Mei 2017 mencopot Aidarus al-Zoubaidi, gubernur Aden beserta wakilnya. Langkah ini semakin memperparah friksi antara Abu Dhabi dan Riyadh, pasalnya peristiwa ini berujung pada aksi demo dan protes pendukung al-Zoubaidi dan pada akhirnya terbentuk Dewan Transisi Selatan yang dipimpin mantan gubernur Aden ini serta disetir oleh Uni Emirat Arab.

Langkah Emirat ini memicu konfrontasi antara milisi yang berafiliasi dengan Abu Dhabi dan pasukan yang loyal kepada Mansur Hadi yang didukung oleh Arab Saudi. Friksi antara pasukan UEA dan Arab Saudi sangat intens bahkan Dewan Transisi Selatan menyebut pasukan Hadi sebagai pasukan teroris dan penjajah utara.

Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi dua anggota utama koalisi anti Yaman, namun ada banyak friksi politik antara kedua pihak. Contoh nyata dalam kasus ini adalah penentangan UEA terhadap Partai Reformasi dan dukungan Arab Saudi terhadap partai tersebut dan upaya untuk memasukkan anasir partai ini di struktur kekuasaan Yaman. Emirat untuk melawan partai ini memilih mendukung kubu-kubu anti partai tersebut termasuk kubu Salafi yang sangat dekat dengan al-Qaeda dan kelompok separatis selatan.

Isu Iran juga menjadi salah satu bagian friksi antara Abu Dhabi dan Riyadh. UEA di luarnya menentang Iran, namun negara ini memiliki banyak hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Tehran. Tentunya hubungan ini tidak sesuai dengan keinginan Riyadh.

Samuel Ramani, peneliti hubungan internasional di Universitas Oxford terkait hal ini mengatakan, “Meski hubungan Emirat dan Arab Saudi di luarnya tampak stabil, namun kaolisi kedua negara ini terbentuk atas dasar kepentingan dan tidak dipupuk di atas ideologi yang kuat. Kedua negara ini memiliki friksi nyata terkait sistem regional. Arab Saudi memiliki pandangan ideologi agamis terkait mayoritas isu, dan menyebut Iran serta pendukungnya sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan. Sementara Emirat menentang pendekatan Arab Saudi ini.”

Poin penting di kasus ini adalah sejumlah sumber media bahkan menyebutkan permintaan Uni Emirat Arab kepada Iran untuk membantu Abu Dhabi keluar dari krisis Yaman secara terhormat. Koran al-Akhbar cetakan Lebanon terkait hal ini menulis, “Sepertinya pemimpin Abu Dhabi telah mengambil keputusan strategis ketika api telah mencapai rumahnya, dan untuk memadamkan api ini, Abu Dhabi mulai meminta bantuan Tehran dan Moskow.”

Pendekatan ini menunjukkan puncak friksi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi terkait upaya melawan Republik Islam Iran di kawasan serta terkait perang Yaman.

Pasukan Emirat di Yaman

Persaingan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi untuk menjadi pemimpin dunia Ahlu Sunnah di dunia Arab juga menjadi salah satu friksi politik antara kedua negara. David Hearst dalam sebuah artikelnya yang dimuat di laman Middle East Eye terkait persaingan ini menulis, “Persaingan dan konfrontasi antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi terkait Yaman adalah persaingan mengenai siapa pemimpin Sunni Arab.”

Persaingan ini mendorong Abu Dhabi dan Riyadh berlomba-lomba menempatkan catur meraka di struktur kekuasaan Yaman. Emirat berusaha mempersulit transisi kekuasaan di Yaman oleh Arab Saudi dan menggagalkan pemerintah Mansur Hadi yang anggotanya terdiri dari anasir Partai Reformasi yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin serta menggantikannya dengan Ahmad Ali Saleh, anak dari mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh serta mantan komandan pasukan garda nasional dan mantan dubes Yaman di Emirat.

Alasan lain dari keputusan Emirat mundur dari Yaman harus dicermati di kondisi medan perang. Salah satu alasan penting dari kondisi ini adalah perubahan pendekatan Ansarullah dan militer Yaman dari sikap defensif ke arah ofensif. Pemimpin Ansarullah Yaman Abdul Malik al-Houthi di peringatan awal tahun kelima agresi koalisi Arab menyebut tahun ini sebagai tahun kemenangan.

Dalam hal ini, ada tiga langkah mendasar yang diambil. Pertama, data intelijen dan informasi militer dan pasukan komite rakyat Yaman berhasil mengidentifikasi 300 titik sensitif dan strategis Arab Saudi serta Uni Emirat Arab. Kedua, kemampuan rudal dan nirawak militer serta pasukan komite rakyat Yaman semakin kuat dan ketiga, diambil strategi serangan bandara udara dibalas serangan serupa. Terkait hal ini, pangkalan militer dan instalasi minyak Arab Saudi serta Emirat menjadi target rudal serta drone Yaman.

Salah satu dampak dari peralihan strategi militer Yaman dari defensif ke ofensif adalah keputusan Emirat untuk mengurangi jumlah militernya di Yaman. Meski kantor berita Perancis AFP mengutip salah satu petinggi Emirat menyebut salah satu alasan pengurangan militer Emirat di Yaman adalah perubahan strategi dari perang ke perdamaian, namun ini sekedar faktor yang yang diumumkan.

Praktisnya, apa yang mendorong pengambilan strategi seperti ini oleh Emirat adalah Abu Dhabi memahami jika operasi militer di Yaman telah mencapai jalan buntu, mereka sudah tidak mampu untuk meraih kemenangan militer di Yaman serta praktisnya ini membuktikan ketidakefektifan koalisi Arab anti Yaman.

UEA sampai pada kesimpulan bahwa bukan saja tidak ada peluang bagi koalisi Arab untuk memenangkan pertempuran ini, bahkan mengingat kemampuan rudal dan drone militer Yaman yang terus meningkat, maka terbuka lebar ancaman bagi instalasi minyak, bandara udara dan wilayah strategis Emirat.

Pasukan Emirat ditarik dari Yaman

Kondisi ini dapat menimbulkan kerugian serius di sektor ekonomi Emirat, karena ekonomi negara ini bergantung pada sektor perdagangan. Penerapan keamanan merupakan syarat utama bagi perekonomian seperti ini. Di sisi lain, rudal dan drone Yaman menjadi mimpi buruk bagi Emirat dan ketakutan negara ini akan berkurangnya keamanan mereka.

Di kondisi seperti ini, Hassan Mneimneh, direktur Middle East Alternatives di Washington menilai mundurnya Emirat dari Yaman sebagai upaya untuk keluar dari kubangan lumpur di Yaman dan mengatakan, kita tidak harus berlebih-lebihan menganalisa penarikan mundur Emirat dari Yaman, karena tidak ada lagi peluang untuk melanjutkan perang ini.

Sementara itu, eskalasi tensi antara Iran dan Amerika merupakan faktor regional yang mendorong Emirat mundur dari Yaman. Sejatinya ketakutan dan kekhawatiran petinggi Emirat atas potensi konfrontasi antara Iran dan Amerika khususnya jika medan pertempuran juga mencakup Yaman, menjadi salah satu faktor yang mendorong Abu Dhabi memutuskan untuk mundur dari Yaman.

Emirat memiliki gudang senjata besar dan kontrak pembelian senjata tersebut mencapai ratusan miliar dolar, namun militer Emirat tidak memiliki kesiapan dan keberanian untuk terlibat dalam segala bentuk konfrontasi dengan Republik Islam Iran dan sekutu regionalnya. [PT]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed