oleh

Fakta Ledakan ‘Paskah Berdarah’ di Sri Lanka

Polisi Sri Lanka telah menangkap 24 orang terkait serangkaian ledakan bom di gereja dan beberapa hotel mewah pada Minggu, 21 April 2019 kemarin. Pihak berwenang setempat belum memberikan rincian tentang terduga tersangka yang ditahan setelah serangan tersebut. Namun sumber kepolisian mengatakan bahwa 13 orang dari mereka ditahan di dua lokasi yaitu di Kolombo dan wilayah sekitarnya.

Hingga hari ini total korban meninggal dunia akibat serangkaian ledakan bom di Sri Lanka telah mencapai 290 orang. Ledakan tersebut terjadi di gereja dan hotel-hotel mewah di Sri Lanka pada Minggu, 21 April 2019.

Pemerintah Sri Lanka memberlakukan jam malam nasional, setelah ledakan yang juga menyebabkan sekitar 500 orang terluka itu. Tentara yang dilengkapi dengan senjata otomatis juga berjaga di hotel-hotel besar, termasuk World Trade Center yang menjadi pusat bisnis negara tersebut.

Sebagian besar korban meninggal dunia merupakan warga negara Sri Lanka. Sementara 32 korban meninggal adalah warga negara asing yang berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Turki, India, China, Denmark, Belanda, Portugis dan Jepang.

“Selain itu, sementara sembilan warga negara asing dilaporkan hilang. Ada 25 mayat tak dikenal yang diyakini sebagai orang asing,” kata pihak Kementerian Luar Negeri Sri Lanka, seperti dikutip Channel News Asia, Senin 22 April 2019.

Serangan-serangan tersebut sebagian besar menargetkan hotel-hotel mewah di ibukota dan gereja-gereja tempat warga Kristen dan Katolik menghadiri ibadah Paskah.

Minoritas Kristen di Sri Lanka, yang berjumlah sekitar enam persen dari total populasi sebanyak 21 juta orang, telah menjadi sasaran kekerasan beberapa waktu lalu. Namun tidak pernah mengalami serangan brutal seperti yang terjadi kemarin.

Belum ada kelompok atau pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun polisi mengatakan 24 orang telah ditangkap. Namun Pemerintah Sri Lanka meyakini dalang di balik delapan ledakan di sejumlah gereja dan hotel mewah pada Hari Paskah, Minggu (21/4), adalah militan Islam lokal yang dikenal sebagai Jemaah Tauhid Nasional (NTJ).

Juru bicara pemerintahan Sri Lanka, Rajitha Senaratne, mengonfirmasi hal tersebut. Namun, hingga kini pemerintah masih menyelidiki kemungkinan hubungan NTJ dengan organisasi internasional.

“Kami tak yakin organisasi kecil di negara ini bisa melakukan semua itu,” ujar Senaratne sebagaimana dikutip AFP.

Senaratne kemudian berkata, “Kami sedang menyelidiki dukungan internasional untuk mereka, hubungan lain mereka, bagaimana mereka membuat bom bunuh diri di sini, dan bagaimana mereka membuat bom seperti ini.”

Hingga kini, masih sangat sedikit informasi mengenai NTJ di berbagai media lokal. Sejumlah pemberitaan hanya menyebutkan bahwa NTJ kerap merusak patung-patung Buddha di Sri Lanka. (viva/cnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed