oleh

Episentrum Perang Ekonomi China versus AS di Indonesia

See the source imageKetika China yang diidentifikasi sebagai negara komunis kini telah mengubah diri menjadi seperti negara kapitalis. Sejatinya tak ada yang aneh karena hakikatnya tidak ada komunis.

Komunis merupakan kapitalis plat merah, atau kapitalis negara. Perubahan itu tak ada kendala yg berarti. Saat ini China berubah menjadi raksasa dunia di bidang ekonomi menyaingi hegemoni Amerika Serikat.

Ekspansi ekonomi atas nama kerjasama diluaskan dengan membangkitkan kembali jalur sutera dari kubur yaitu OBOR (One Belt One Road).

Tak hanya jalur sutera darat, China tergiur potensi jalur sutera laut entah karena mungkin takdir Indonesia masuk ke dalam jalur itu. China tentu saja semriwing melihat posisi Indonesia yang memiliki gerbang dua samudera yaitu Selat Malaka. Apalagi ketika Presiden Joko Widodo dengan ide tol laut, dengan serta merta China menawarkan bantuan dengan skema pembiayaan yang ditentukan China. Sejauh ini Presiden Jokowi belum menyepakatinya.

Ketika jalur sutera darat direalisasikan yang membentang hingga Afrika dan Eropa, beberapa negara ikut bergabung, tentu saja skema pembiayaan ditentukan China, modusnya debt trap alias jebakan utang yakni melalui gelontoran utang bunga tinggi dengan tempo singkat terhadap proyek-proyek infrastruktur ke negara dengan BUMN-nya.

Ketika negara target tidak mampu mengembalikan utang plus bunga sesuai tempo maka aset-aset strategis dari beberapa negara dimaksud pun diakuisisi. Alhasil beberapa negara seperti Srilangka, Maladewa, Angola, Zimbabwe, Djibouti harus menyerahkan BUMN-nya ke China. Inilah puncak kesaktian kolonialisme modern karena mampu menggabungkan dua ideologi dalam satu tarikan nafas.

Bagaimana dengan AS? Paman Sam tentu saja tidak mau kalah dengan soft power yang dimainkan China. Bersama India, Jepang, Australia, AS mendirikan Indo Pacific.

Lagi lagi Indonesia dilamar AS agar tergabung ke dalam jalur sutera laut versi negara Rambo itu. Melihat pertarungan lembut dua raksasa yang melibatkan Indonesia layak di curigai bahwa episentrum perang model soft power berada di tanah air.

Jika bangsa ini tidak segera menyadari, jangan-jangan sudah puluhan BUMN kita yang sudah beralih pemiliknya. Lebih mengerikan jika gerbang jalur sutera yang berada di kedaulatan negara kita jatuh kepada satu diantara dua raksasa itu.

Hati-hati dengan perang ekonomi dua raksasa ini, jangan sampai Indonesia korbannya.

Lam Yaim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.