oleh

Ekstremisme adalah Ekspor Utama Arab Saudi

Arab Saudi berjuang untuk melakukan monopoli berbahaya atas pemikiran Islam di seluruh dunia. Amerika Serikat telah memperlakukan orang-orang Saudi seperti halnya Vatikan, dengan asumsi bahwa mereka memiliki hak untuk memberi tahu semua Muslim apa yang harus dilakukan, tapi Saudi tidak memiliki hak ini. Jika pandangan monolitik Islam yang didanai Arab Saudi terus bertahan, para ekstremis akan terus menemukan lahan subur untuk perekrutan di komunitas lokal.

Oleh: Farah Pandith (Foreign Policy)

Buku baru Farah Pandith bertajuk How We Win: Cutting-Edge Entrepreneurs, Political Visionaries, Enlightened Business Leaders, and Social Media Mavens Can Defeat the Extremist Threat, memberikan wawasan dan pengamatan yang seringkali terlewatkan dalam percakapan yang lebih besar tentang ekstremisme. Dalam bab terperinci, yang dipadatkan dan diadaptasi di sini, ia menyelidiki pengaruh global Arab Saudi, termasuk pelatihan imam, Al-Quran gratis yang diterjemahkan Arab Saudi, buku pelajaran, perusakan situs warisan budaya manusia, dan banyak lagi yang saya saksikan di hampir 100 negara saat bekerja di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Buku itu membedah bagaimana dan mengapa Arab Saudi memiliki pengaruh atas identitas Muslim di seluruh dunia.

Bulan Maret 2010, ketika menjabat sebagai perwakilan khusus pertama Departemen Luar Negeri untuk komunitas Muslim, posisi yang diciptakan untuk saya oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton untuk terhubung dan terlibat dengan milenial Muslim secara global, saya berhasil mendapatkan visa untuk mengunjungi China meskipun Laporan Hak Asasi Manusia Departemen Luar Negeri AS secara teratur mengecam China untuk perlakuan terhadap populasi minoritas Muslim dan khususnya kelompok etnis Uighur. China memandang masalah Uighur sebagai masalah terorisme domestik dan publik Amerika menyoroti itu sebagai pelanggaran.

Tetap saja, sebuah peluang telah muncul, dan, bekerja dengan kedutaan, Amerika merancang perjalanan yang memungkinkan saya untuk berbicara dengan pemuda Muslim China di Shanghai, Nanking, Kunming, dan di berbagai tempat lain.

Sorotan dari perjalanan itu ternyata adalah kunjungan ke kota kecil yang belum pernah saya dengar: Shadian, di bagian selatan China, sekitar 150 mil dari Kunming, di mana populasi Muslim Hui telah hidup lebih dari satu milenium. Saya dan tim berkendara selama berjam-jam melewati pedesaan yang subur, melintasi jalan-jalan berdebu melalui desa-desa penuh dengan toko-toko milik penduduk lokal dan tiang lampu putih kurus. Para pedagang menjual produk segar di sisi jalan, apel dan sayur-mayur ditumpuk sempurna. Papan petunjuk berbahasa China mempromosikan produk medis.

Kedatangan kami di Shadian membuat saya tersentak. Berbelok di tikungan, kami berhadapan langsung dengan bulevar pejalan kaki yang megah dengan deretan pohon-pohon palem yang ditanam di tengah. Di ujung pohon-pohon itu, berdiri sebuah bangunan besar dan modern yang terbuat dari apa yang tampak seperti marmer putih dan ditutup oleh kubah hijau muda. Air mancur dan dua layar Jumbotron yang luar biasa membingkai pintu masuknya. Saya terpesona. Bangunan apa ini? Kemudian saya melihat sekilas apa yang tampak seperti menara yang mengapit ruang ibadah dan saya tahu: Itu adalah masjid.

Keesokan harinya, seorang profesor di universitas Islam setempat, pria etnis China yang diidentifikasi sebagai Hui, dengan ramah menjamu saya untuk makan siang di rumahnya. Sepanjang waktu makan, tuan rumah berbicara tentang pendidikan Islam, betapa pentingnya bagi anak-anak Muslim untuk belajar tentang agama dan bergaul dengan siswa Muslim lainnya, dan betapa sedikitnya universitas Muslim yang ada.

Dia juga menceritakan bahwa pemuda setempat berusaha belajar tentang Islam dengan belajar di negara-negara Teluk Persia. Jam di pesawat televisi diatur untuk waktu Mekkah dan waktu lokal, dan televisi disetel ke saluran Arab Saudi.

Kemudian, saya mengunjungi masjid besar yang saya lihat ketika saya pertama kali tiba. Biaya pembangunannya US$19 juta, didanai sepenuhnya oleh sumbangan pribadi. Tuan rumah tampak bersemangat dan bangga menunjukkan gedung itu kepada saya. Saya bertanya kepadanya apakah Arab Saudi mendanai masjid. Dia membantah.

Saya cukup yakin saya sudah tahu jawabannya, jadi saya bertanya apakah dia bisa membawa saya untuk melihat masjid yang lebih tradisional dari wilayah China ini.

Setelah banyak dorongan, kami naik mobil untuk berkendara singkat. Ketika kami keluar, semua bukti keberadaan Teluk telah menghilang. Saya berdiri di jalan tanah yang dipenuhi rumah-rumah sederhana dan toko-toko. Tuan rumah menunjuk ke arah sebuah kompleks yang dikelilingi oleh tembok tinggi yang ditutupi oleh terakota yang dicat. “Ini dia.” Kami berjalan melalui pintu masuk ke halaman kecil, oasis pohon buah-buahan dan pot bunga, tempat yang sempurna untuk beribadah dengan penuh kontemplasi.

Masjid itu sendiri jauh lebih sederhana daripada masjid bergaya Teluk, terbuat dari kayu dan mencerminkan tema arsitektur tradisional China. Atap bangunan itu melengkung ke luar di ujung-ujungnya, sementara pintu-pintunya yang terbuka memungkinkan siapapun menyaksikan orang-orang yang beribadah di dalam. Layanan keagamaan di sana sesuai dengan apa yang diberitahukan kepada saya adalah pengabdian Sufi kuno yang bercampur dengan adat tradisional China.

Di pintu masuk ke ruang ibadah terbuka, puluhan pasang sepatu milik umat Muslim telah ditempatkan dalam barisan yang rapi. Saya mendekati sekelompok wanita tua yang duduk di dekatnya. Alih-alih mengenakan jubah hitam panjang, mereka mengenakan celana katun longgar dan kemeja sederhana seperti tunik serta jilbab longgar. Saya memberi tahu mereka bahwa saya sedang berkunjung dari Amerika Serikat dan bahwa saya tertarik mempelajari pakaian yang mereka kenakan untuk beribadah.

Mereka menunjukkan bahwa mereka mengenakan pakaian tradisional Muslim China. Bagaimana dengan masjid berkilau di dekat situ? “Oh,” kata mereka, “itu adalah Islam asing.”

Para ekstremis seperti ISIS dan Al-Qaeda ingin Anda berpikir tentang Islam sebagai kelompok homogen atau monolitik. Ketika mereka mengeksploitasi krisis identitas global di kalangan pemuda Muslim, mereka mengemukakan serangkaian gagasan yang sangat khusus tentang Islam dan tujuan individu, gagasan yang berasal dari wilayah Teluk dan Arab Saudi khususnya, dan itu termasuk klaim untuk mewakili satu-satunya Islam yang benar. Bentuk Islam ini, yang disebut Wahabisme, cenderung kaku, tidak toleran, sangat dogmatis, puritan, dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal.

Dalam beberapa dekade terakhir, Wahabisme telah berkembang berkat sponsor yang sangat penting: Kerajaan Arab Saudi. Kita tidak dapat memahami sistem global yang mendasari ekstremisme tanpa mengamati peran penting yang dimainkan oleh pemerintah Arab Saudi serta organisasi-organisasi swasta dan individu-individu di dalam kerajaan. Dalam beberapa dekade terakhir, Saudi telah menghabiskan hingga $100 miliar untuk menyebarkan Wahabisme dan melanggengkan anggapan bahwa mereka adalah penjaga Islam.

Metode mereka untuk mempersuasi dan menanamkan pengaruh telah menampilkan dan meliputi pendanaan masjid, sekolah, buku pelajaran, imam, pusat pembelajaran dan pertukaran imam, hingga lembaga budaya di seluruh dunia. Arab Saudi tidak hanya ingin bentuk ekstrem dari praktik keagamaan dan kepercayaan mereka berkuasa. Kekuatan agama di kerajaan, yang didukung oleh keluarga yang berkuasa, ingin menghancurkan tradisi lokal lain dalam Islam.

Untuk itu, mereka menulis ulang sejarah dan menghapus bukti masa lalu untuk mendukung narasi mereka sendiri, sebuah langkah yang telah ditiru oleh berbagai kelompok ekstremis yang sejalan secara ideologis di berbagai belahan dunia.

Hubungan antara Arab Saudi dan ekstremisme bukan sekadar hubungan dekat. Pemerintah Saudi dan orang-orang Saudi telah secara langsung mendukung kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah dan sekitarnya. Pada saat yang sama, dengan sangat paradoks, pemerintah Saudi juga bertindak sebagai sekutu yang gigih dalam perang melawan terorisme, berbagi intelijen dan aset militer, serta membantu mengendalikan pendanaan teroris. Arab Saudi juga berfungsi sebagai penyeimbang yang berharga terhadap pengaruh Iran di Timur Tengah. Membingungkan, bukan? Begitulah strategi cerdik yang telah dilakukan Saudi dengan baik selama ini.

Di luar dukungan langsung, upaya Arab Saudi dalam mengindoktrinasi pemuda Muslim di seluruh dunia telah membuat mereka sangat rentan terhadap perekrutan oleh kelompok-kelompok ekstremis, termasuk mereka yang secara resmi tidak selaras dengan atau bahkan menentang rezim Saudi.

Menurut Will McCants, pakar kontraterorisme dan mantan penasihat senior Departemen Luar Negeri AS, apa yang disebut sebagai ISIS pada khususnya tidak akan ada “dalam konfigurasi yang kita lihat sekarang.” Kelompok ISIS membenarkan kekerasannya dengan menggunakan prinsip dan ajaran Wahabi yang “telah digerakkan oleh negara Arab Saudi.”

Mengingat sejarah ini, satu-satunya langkah paling penting yang dapat dilakukan Amerika Serikat untuk menghilangkan ekstremisme adalah memerangi supremasi ideologi Arab Saudi di seluruh dunia dengan memotong uang Saudi yang mendanainya. Sangat penting juga bahwa Amerika mengambil tindakan untuk mendukung budaya dan tradisi Muslim setempat. Jika tidak, satu generasi Muslim berisiko jatuh di bawah pengaruh ideologi berbahaya yang menampilkan dirinya sebagai otentik dan absolut, dan umat manusia berisiko kehilangan catatan yang benar dan lengkap tentang masa lalu Islami yang lengkap.

Akhirnya, Amerika Serikat harus mengatasi ketidaktahuan pemerintah dan individu yang cukup polos yang mungkin memandang Arab Saudi sebagai hakim Islam yang sah. Apakah mereka menyadarinya atau tidak, mereka adalah bagian dari masalahnya juga.

Kekecewaan saya terhadap pengaruh dan homogenisasi Arab Saudi kian meningkat ketika saya terus melakukan perjalanan sebagai perwakilan khusus untuk komunitas Muslim.

Saya melihat bukti pengaruh Arab Saudi di Kazakhstan, Timbuktu, Burma, dan Balkan. Di Pakistan, Senegal, Guyana, dan Indonesia, para pemimpin mengatakan kepada saya bahwa mereka memahami motif sejati Arab Saudi dan hanya bermain di permukaan saja. Mereka sama sekali tidak ingin menerima uang Saudi, tetapi mereka tidak punya pilihan.

Mereka sangat membutuhkan dana untuk sekolah, pakaian, dan bahkan perawatan kesehatan. Mereka pikir mereka bisa mengendalikan dampak ideologi Saudi, mencegahnya berakar dalam budaya. Apa yang membuat mereka berani adalah gagasan bahwa tradisi Wahabi adalah asing bagi budaya lokal mereka dan dengan demikian merupakan sesuatu yang tidak akan pernah selaras dengan masyarakat setempat. Mereka salah. Seperti yang saya lihat sendiri, Islam sedang berada dalam proses homogenisasi, menjadi lebih identik dengan Wahabisme dan budaya Arab pada umumnya.

Alih-alih meminta tanggung jawab orang-orang Arab Saudi untuk memperbaiki masalah ideologis jangka panjang, Amerika Serikat lebih memilih untuk mengamankan kerja sama mereka dalam masalah-masalah jangka pendek dan menundukkan mereka sebagai hakim bagi semua Muslim hanya karena mereka memproklamirkan diri sendiri sebagai penjaga Mekkah dan Madinah.

Amerika Serikat telah memperlakukan orang-orang Saudi seperti halnya Vatikan, dengan asumsi bahwa mereka memiliki hak untuk memberi tahu semua Muslim apa yang harus dilakukan. Tetapi Saudi tidak memiliki hak ini. Ideologi adalah hal penting.

Saudi mungkin membantu Amerika Serikat memerangi kelompok-kelompok teroris, mereka mungkin membantu melawan pengaruh dan kekuatan Iran di kawasan, dan mereka mungkin membeli miliaran dolar sistem senjata dan produk komersial dari Amerika, tetapi mereka secara bersamaan mengambil tindakan yang menghidupi dan menumbuhkan ekstremisme. Toleransi AS terhadap perilaku Arab Saudi menunjukkan kepada negara-negara Teluk lainnya, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait, bahwa mereka dapat lolos dengan dukungan mereka sendiri yang lebih rendah untuk ekstremisme.

Jika kita membiarkan pandangan monolitik Islam yang didanai Arab Saudi terus bertahan, para ekstremis akan terus menemukan lahan subur untuk perekrutan di komunitas lokal. Memang, ketika apa yang disebut ISIS dikalahkan, kelompok-kelompok ekstremis lain akan muncul di tempat mereka dengan ideologi yang sama kerasnya, karena akarnya, krisis identitas yang mendorong kaum muda untuk mencari jawaban dari luar komunitas mereka, akan tetap ada. [MMP]

Farah Pandith adalah mantan (dan yang pertama) Perwakilan Khusus untuk Komunitas Muslim di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan penulis buku How We Win: Cutting-Edge Entrepreneurs, Political Visionaries, Enlightened Business Leaders, and Social Media Mavens Can Defeat the Extremist Threat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed