Home / Editorial / Tiongkok Investasi di Indonesia Disebut Antek Komunis, Saat Investasi di Saudi Disebut Apa?

Tiongkok Investasi di Indonesia Disebut Antek Komunis, Saat Investasi di Saudi Disebut Apa?

Satu Islam, Riyadh – Kelompok Islamis yang kerap membuat propaganda sebagai ‘pembela agama’ mengecam langkah pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat bermitra dengan Tiongkok dalam hal kerjasama ekonomi.

Sebut saja media kelompok ini nahimunkan.com dalam artikel yang dimuat 7 Maret 2017 pemerntah Jokowi disebut sebagai rezim antek Tiongkok  dan kongsi rezim komunis dengan alibi lapar uang. Disebutkan pula, lantaran cengkeraman Tiongkok melalui antek-antek mereka di Indonesia, secara cepat pemerintah berbenturan dengan umat Islam.

Padahal, Rezim Saudi melalui Otoritas Investasi Umum Arab Saudi atau The Saudi Arabian General Investment Authority (SAGIA) baru-baru ini sedang mengadakan pertemuan dengan 50 perwakilan bisnis asal Tiongkok.

Pertemuan tersebut tersebut bertujuan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan meningkatkan perdagangan dan investasi antara kedua negara. Keduanya  membuat langkah signifikan untuk meningkatkan hubungan ekonomi serta mengembangkan perdagangan dan investasi bilateral.

Sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency  (SPA), Kamis 3 Agustus 2017, pertemuan dilaksanakan di kantor pusat SAGIA, Riyadh. Perwakilan dari Tiongkok kemudian  diperkenalkan peraturan Kementerian Tenaga Kerja dan juga prosedur untuk mendapatkan izin usaha.

Dalam pertemuan itu, Ibrahim Al-Suwail, Deputi Gubernur Jasa Investor, mengatakan pihaknya merasa terhormat menjadi tuan rumah perwakilan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok terkemuka di berbagai sektor.

“Memang tujuan kami adalah memperkuat kerja sama komersial dan investasi antara Kerajaan Saudi dan Republik Rakyat Tiongkok dengan memperluas informasi, bantuan, dan kesempatan bagi perusahaan Tiongkok untuk berpartisipasi dalam Visi 2030,” katanya.

Dia berharap dialog dengan puluhan pengusaha itu dapat berlanjut dengan penyelesaian kesepakatan dan inisiatif dalam waktu dekat di berbagai bidang, seperti energi, teknologi informasi, transportasi, dan hiburan.

Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud yang disebut sebagai pemelihara dua tempat suci di Saudi telah mengunjungi Tiongkok dan menandatangani kesepakatan antara dua negara senilai 65 miliar AS.

Saat ini di Saudi ada 192 proyek senilai 9,2 miliar riyal yang sedang berjalan melibatkan perusahaan-perusahaan Tiongkok. Pihak SAGIA yakin, bagaimanapun kerja sama ini baru tahap permulaan.

Karena lebih banyak kesempatan di bawah Visi 2030 yang dibuka, SAGIA berharap dapat bekerja sama dengan sejumlah besar perusahaan Tiongkok untuk membantu mengukir cerita sukses berikutnya antara Arab Saudi dan Republik Rakyat Tiongkok.

Sementara itu, investasi Tiongkok di Indonesia menurut data BKPM sebesar US$ 1,96 miliar atau Rp 26 triliun dalam kurun waktu Januari-Juni 2017, sedangkan jumlah proyeknya sebanyak 1.243 proyek.  Tiongkok menduduki peringkat ketiga sebagai negara terbesar yang berinvestasi di Indonesia setelah Singapura dan Jepang.

“Investasi dari Tiongkok di sektor padat modal, smelter, dan infrastruktur. Tapi kini mulai merambah ke sektor padat karya dan pariwisata yang strategis buat kita,” kata Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong di kantornya, Jakarta, Rabu 26 Juli 2017 lalu.

Sebelumnya, BKPM mencatat realisasi nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp 206,9 triliun atau US$ 15,55 miliar (asumsi kurs Rp 13.300 per dolar Amerika Serikat) sepanjang Januari-Juni 2017.

About Abu Nisrina

Check Also

Pro-Kontra Verifikasi Media Massa

Oleh: Mujib Munawan   Satu Islam – Dewan Pers telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah perusahaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *