Home / Editorial / Tantangan Stabilitas Laut China Selatan di Tengah Propaganda AS dan Korut

Tantangan Stabilitas Laut China Selatan di Tengah Propaganda AS dan Korut

Dok: Kontan

Satu Islam – Stabilitas di kawasan Laut China Selatan (LCS) menjadi perhatian penting pemimpin negara-negara ASEAN. Pasalnya, suhu memanas di Semenanjung Korea dikhawatirkan merember ke kawasan itu.

Indonesia melalui Presiden Jokowi di di KTT ASEAN XXX di Formal Living Room, Coconut Palace, Manila, Filipina, Sabtu, 29 April 2017 menyerukan stabilitas dan perdamaian di Semenanjung Korea. Jokowi mengharapkan  semua pihak untuk menahan diri agar ketegangan di Semenanjung Korea tidak makin memburuk.

Terkait pemantapan stabilitas di LCS, sebelumnya Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat bekerja sama menjaganya. Kesepakatan antarpemerintah kedua negara itu dicapai saat Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Wapres Mike Pence juga menyampaikan bahwa soal menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan terkait Laut China Selatan itu bukan cuma kepentingan negara-negara yang ada di kawasan, tetapi negara di seluruh dunia,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat, 21 April 2017 pekan lalu.

Pemerintah Indonesia akan terus aktif mendorong perundingan dan kesepakatan dalam penyelesaian kerangka kerja tata perilaku (Code of Conduct/CoC) dalam penanganan sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Negara-negara anggota ASEAN dan China belum lama ini mencapai kemajuan dalam pembahasan kerangka kerja CoC di Laut China Selatan yang dilakukan Kelompok Kerja Bersama ASEAN-China untuk Implementasi Deklarasi Pihak-pihak dalam Sengketa Laut China Selatan (DoC).

Pembahasan tersebut telah menghasilkan draf awal kerangka kerja CoC yang di sepakati dalam pertemuan di Bali pada 27 Februari 2017.

Hasil Pertemuan di Bali tersebut merupakan dasar kuat untuk menghasilkan CoC yang bisa menjadi aturan tata perilaku di kawasan Laut China Selatan.

Namun ancaman stabiliitas itu terancam oleh ketegangan di Semenanjung Korea. Forum pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas krisis nuklir Korea Utara diwarnai perdebatan sengit. Amerika Serikat (AS) menyatakan, sudah waktunya untuk melakukan tindakan militer terhadap Pyongyang

Menlu AS ini mendesak DK PBB bertindak sebelum Korut melakukan tindakan berbahaya lebih dulu. Dia minta berbagai negara untuk memutuskan hubungan diplomatik dan keuangan dengan Pyongyang.

”Gagal untuk bertindak sekarang mengenai masalah keamanan yang paling mendesak di dunia dapat membawa dampak bencana,” ucap Tillerson.

AS, kata Tillerson, tidak mendorong pergantian rezim Pyongyang dan telah memilih solusi yang dinegosiasikan. Namun Pyongyang, demi kepentingannya sendiri, harus membongkar program nuklir dan rudalnya.

”Ancaman serangan nuklir di Seoul atau Tokyo adalah nyata, dan ini hanya masalah waktu sebelum Korut mengembangkan kemampuan untuk menyerang daratan AS,” kata Tillerson.

Tillerson lantas mengulangi sikap pemerintah Donald Trump yang menyatakan bahwa semua opsi—termasuk opsi serangan militer—ada di meja jika Pyongyang bertahan dengan pengembangan nuklir dan rudalnya.

Pendapat Tillerson itu ditentang Rusia China dan Rusia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi, mengatakan, ancaman militer tidak akan membantu.

“Dialog dan negosiasi adalah satu-satunya jalan keluar,” katanya.

”Penggunaan kekuatan tidak memecahkan perbedaan dan hanya akan menimbulkan bencana yang lebih besar,” lanjut dia, seperti dikutip Reuters, Sabtu 29 April 2017

Bahkan, di hadapan 15 anggota DK PBB itu Wang menyatakan  tanggung jawab untuk memecahkan masalah Korut tidak dipikul Beijing sendirian.

”Kunci untuk memecahkan masalah nuklir di semenanjung (Korea) tidak terletak di tangan China,” kata Wang.

”Perlu untuk mengesampingkan perdebatan mengenai siapa yang harus mengambil langkah pertama dan berhenti berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah,” lanjut Menlu China itu. ”Sekarang saatnya untuk serius mempertimbangkan untuk melanjutkan perundingan.”

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk penyelesaian krisis nuklir Korut sama sekali tidak dapat diterima.

”Retorika yang agresif ditambah dengan pelenturan otot yang sembrono telah membawa pada situasi di mana seluruh dunia secara serius bertanya-tanya apakah akan ada perang atau tidak,” katanya di hadapan forum DK PBB.

”Salah satu langkah pikir atau disalahartikan dengan buruk dapat menyebabkan konsekuensi yang paling menakutkan dan menyedihkan.”

Di tengah memanasnya perdebatan di forum DK PBB, Militer Korea Selatan melaporkan bahwa Korut melakukan ujicoba rudal balistik. Rudal tersebut dilepaskan dari wilayah Pukchang di arah timur laut, mencapai ketinggian 71 km (44 mil) sebelum terpecah beberapa menit kemudian.

Korea Utara telah melakukan kegiatan rudal dan senjata nuklir terkait dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal tahun dan diyakini telah membuat beberapa kemajuan dalam mengembangkan rudal jarak menengah dan rudal yang diluncurkan di kapal selam.

Bukan hanya propaganda peluncuran rudal balistik saja, Korut juga mempropaganda AS dengan mengeluarkan sebuah video propaganda mengerikan yang menunjukkan operasi militernya untuk menghancurkan sejumlah lokasi penting di AS, a ntara lain Gedung Putih dan gedung DPR/Kongres, yaitu Capitol. Video itu menampilkan pasukan Korut dengan tank-tank dan pesawat militernya sedang menargetkan AS, sambil mengeluarkan deklarasi “musuh yang akan dihancurkan berada dalam pandangan kita”.

Media propaganda Korut, Arirang-Mearir, mengeluarkan potongan video tersebut tak lama berselang setelah AS mengumumkan akan mengirimkan kapal perang ke Semenanjung Korea. Video berdurasi 2,5 menit itu dimulai dengan gambar parade militer dan ditayangkan dengan musik klasik yang dramatis. Video itu juga menunjukkan gambar dari artileri Korut dan peluncuran rudal-rudalnya.

Peluncuran video itu dilakukan setelah AS memerintahkan agar kapal induknya, USS Carl Vinson, meneruskan pelayaran ke Semenanjung Korea. Perang kata-kata antara Pyongyang dan Washington juga meningkat sejak saat itu.

“Kami akan menunjukkan kepada Anda negara hebat seperti apa yang memimpin dunia dalam teknologi nuklir dan rudal,” sebut pernyataan Korut dalam video itu. Lalu dilanjutkan, “Keruntuhan terakhir akan dimulai,” sebut pernyataan itu.

Jika tidak ada tanda-tanda meredanya ketegangan di Semenanjung Korea, akankah langkah negara-negara ASEAN dan kesepakatan yang telah dicapai antara AS dengan RI saat kunjungan Wapres AS Mike Pence ke Indonesia bisa meredakan ketegangan, dan ataukan stabilitas di kawasan LCS sebagaimana yang diharapkan negara-negara ASEAN tetap terjaga?

Semoga outcome document akan dihasilkan oleh kesepuluh kepala negara anggota ASEAN ini mampu mendinginkan negara-negara yang terlibat dalam ketegangan di Semenanjung Korea.

 

About Abu Nisrina

Check Also

Inilah Milisi Moderat Indonesia yang Siap Melawan Kelompok Radikal

Satu Islam, Jakarta – Jika di Lebanon ada milisi muqawamah Hizbullah yang dipersiapkan untuk bertempur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *