Home / Editorial / Renungan Keharaman Berkoloni di Mars

Renungan Keharaman Berkoloni di Mars

1256185RobotCuriosityMars1376632271-preview780x390Satu IslamGeneral Authority of Islamic Affairs and Endowment (GAIAE), sebuah organisasi Islam yang bermarkas di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, mengeluarkan fatwa larangan bagi siapapun tinggal di Planet Mars.

Menurut laporan  Daily Mail, pada hari Rabu 19 Februari 2014 alasan keharaman ke Mars oleh organisasi besar tersebut adalah karena mereka berpendapat mencoba hidup di Planet Merah tersebut sangat penuh risiko dan membahayakan nyawa. Organisasi itu berpendapat menyengaja mengancam keselamatan nyawa dinilai sama saja dengan bunuh diri yang tidak diizinkan oleh Islam.

Fatwa itu dikeluarkan merespon  salah satu organisasi Belanda yang berencana membuat permukiman permanen di Planet Merah tersebut. Perjalanan menuju Mars yang penuh risiko dan alasan lain, seperti tak memungkinkannya menetap dalam waktu lama di planet itu dianggap bakal membuat manusia rentan terhadap bahaya kematian.

Siapapun yang berpartisipasi dalam proyek Mars One, perjalanan untuk membentuk koloni manusia pertama di Planet Merah itu, akan mendapat hukuman di akhirat sama dengan hukuman bagi mereka yang melakukan bunuh diri.

Jika larangan ke Mars dengan alasan hal itu membahayakan diri bagiamanakah hukumnya jika sebuah tindakan membahayakan diri terlebih sampai membunuh dirinya sendiri apalagi jika aksi bunuh diri itu juga menyebabkan nyawa pihak lain terenggut sia-sia? Bagaimana pula jika tujuan bunuh diri itu adalah untuk membunuh sesama muslimnya

Rangkaian aksi bom bunuh diri yang menyasar sesama muslimnya dengan target memang untuk dihabisi agar tujuan dominasi kelompok atas kelompok lain segera terwujud, malah dilakukan dengan cara membabibuta di belahan dunia ini lengkap dengan segala variannya.

Di Pakistan korban aksi bom bunuh adalah para peziarah muslim yang sedang berziarah ke makam sufi di kota Lahore di Pakistan timur yang menewaskan sedikitnya 41 orang dan melukai lebih dari 120 orang pada Kamis malam 1 Juli 2010.

Pejabat Lahore mengungkapkan, aksi biadab itu dilakukan saat ribuan orang mengunjungi Data Darbar, yang merupakan kompleks makam seorang tokoh suci umat Muslim aliran Sufi. Pelaku bunuh diri pertama beraksi di suatu ruang bawah tanah saat banyak pengunjung beristirahat maupun membasuh diri sebelum salat. Saat itu pula para relawan tengah membagikan makanan kepada pengunjung.

Beberapa menit kemudian, pelaku bom bunuh diri kedua menyalakan bom yang melekat di tubuh. Aksi itu terjadi di halaman depan makam. Saat itu banyak orang berlarian ke luar setelah terjadi ledakan pertama.

Di tanah air aksi bom bunuh diri yang menarget umat islam terjadi pada Jum’at 15 April 2011. Saat itu sebuah bom berkekuatan ledak rendah meledak pada saat ibadah shalat jum’at di Masjid dalam komplek Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Cirebon.

Kadivhumas Polri, Irjen Pol Drs Anton Bachrul Alam tiba-tiba ada satu orang ikut sholat dari dalam tubuhnya meledak. Ledakan bom bunuh diri yang menewaskan 1 orang dan melukai sedikitnya 17 orang ini menggunakan modus mengikuti sholat Jumat di masjid tersebut.

Di Suriah pelaku bom diri menewaskan seorang Ulama Besar Sunni Syekh Said Ramadhan Al-Buthi. Beliau tewas oleh aksi serangan bom diri saat sedang memberikan ceramah di sebuah Masjid di Ibukota Suriah, Damaskus 21 Maret 2011. Serangan tersebut selain menewas ulama besar ini juga menewaskan sedikitnya 42 orang.

Ketiga fakta penyerangan atas Umat Islam itu hanyalah sebagian kecil contoh atas aksi bom diri yang menarget sesama umat islamnya. Tentu akal sehat manapun tak bisa membenarkan perilaku tersebut sebagai kebenaran apalagi dianggap sebagai sebuah perintah suci dari Tuhan.

Jika bepergian ke Mars diharamkan dengan alasan membahayakan dirinya,  semestinya kita yang anugerahi akal ini berfikir bahwa tindakan bunuh diri dengan tujuan melenyapkan nyawa umat manusia apalagi melenyapkan nyawa umat islam selain bertentangan dengan akal sehat dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) juga pelanggaran atas Islam itu sendiri.

Bagaimana mungkin akal menerima sebuah tindakan melenyapkan nyawa umat manusia sementara nalar ini memastikan tindakan penghilangan nyawa tersebut sebagai tindakan yang irasional, bahkan sebuah tindakan yang melenyapkan nyawa diri sendiripun dipastikan tidak masuk akal.

Setiap orang di kolong bumi ini memiliki hak dasar yakni hak hidup. Tentu manusia memiliki kebebasan dan pilihan, namun kebebasan kita dibatasi oleh kebeasan pihak lain. Bukan saja kita dituntut untuk menghormati hak hidup pihak lain, melainkan sebuah kewajiban setiap pribadi untuk saling menjaga hak hidup setiap jiwa di atas bumi ini. Tindakan penghilangan nyawa pihak lain jelas dan pasti bertengan dengan HAM.

Di dalam agama Islam perintah untuk menghargai anugerah Allah SWT terhadap nyawa bukan semata hanya ditujukan ke setiap pribadi umat islam untuk menjaganya dan menggunakannya untuk kebaikan  demi menuju kepada kesempurnaan, perintah tersebut juga berlaku untuk menghormati kehidupan umat islam lainnya. Penghilangan nyawa umat islam dinilai sebagai pelanggaran besar terhadap anugerah Allah SWT.

Sesama umat islam digambarkan sebagai satu tubuh, jika salah satu organ tubuh terluka maka organ yang lainnya merasakan sakitnya. Jika hal ini direnungi dalam-dalam sepatutnya sesama umat islam saling menjaga bukan saling melenyapkan. 

About Abu Nisrina

Check Also

Pro-Kontra Verifikasi Media Massa

Oleh: Mujib Munawan   Satu Islam – Dewan Pers telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah perusahaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *