Home / Editorial / Rencana Investasi 300 Triliun, Kok Santunan Korban Crane Belum Dibayar

Rencana Investasi 300 Triliun, Kok Santunan Korban Crane Belum Dibayar

Satu Islam – Jumat sore 11 September 2015 11 orang jamaah haji asal Indonesia tewas tertimpa crane yang rubuh saat melaksanakan ibadah haji. Kecelakaan itu menelan korban  secara keseluruhan berjumlah 300 orang termasuk yang terluka dan sebagian diantaranya berakibat cacat permanen.

Setelah tragedi mencengangkan itu, media Arab Saudi mengumumkan crane rubuh karena tiupan angin kencang dan hujan deras.

Stasiun teve Al Arabia, misalnya, mengklaim rubuhnya alat berat itu akibat hantaman angin berkecepatan 65 km/jam. Jaringan teve berbasis Amerika, CNN, bahkan menyatakan kecepatan angin di seputaran Mekkah saat kejadian mencapai 95 km/jam.

Terkait insiden itu, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud  menjanjikan santunan sebesar satu juta riyal atau setara Rp 3,8 miliar untuk korban meninggal dan 500 ribu riyal untuk korban luka-luka. Dia juga menjanjikan memberangkatkan haji gratis bagi keluarga korban. Namun, setelah setahun lebih berlalu janji ini belum juga terlaksana. Janji tetaplah jani meski yang menjanjikan adalah khadimul haramain.

Berbagai upaya telah dilakukan pihak pemerintah Indonesia untuk menagih janji si Raja yang doyan plesir ini. Setahun lalu Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin, mempertanyakan santunan yang dijanjikan oleh Saudi terhadap para keluarga korban crane yang jatuh.

“Sampai saat ini belum ada (pembayaran santunan) dari pihak pemerintah Arab Saudi. Sampai sekarang kita berharap agar secepatnya dibayarkan. Semoga pemerintah Saudi Arabia bisa mendengarnya,” ujar Menteri kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 23 februari 2016.

Namun hingga menjelang kunjungan Raja Salman ke Indonesia pun, belum ada keterangan dari Arab Saudi akan membayar santunan yang dijanjikan. Padahal, kunjungan ke Indonesia nantinya selain menguatkan hubungan bilateral Indonesia-Arab Saudi dengan rencana investasi senilai Rp 300 triliun dan dijadwalkan plesir ke Pulau Dewata Bali dengan membawa rombongan sebanyak 1.500 orang yang tentu saja menghabiskan uang yang sangat banyak.

Di Pihak Indonesia sendiri, kunjungan Raja Salman diharapkan bisa memberikan nilai positif, baik kerja sama antar negara maupun investasi di Indonesia. Pemerintah berharap Arab Saudi semakin gencar menanamkan modalnya di Indonesia.

Sementara bagi korban crane di Masjidil Haram, momen kunjungan Raja Saudi diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menagih janji pemerintah Saudi. Sebab, tak sedikit jamaah haji asal Indonesia yang turut menjadi korban insiden crane itu.

Harapan itu wajar mengingat hingga jelang kunjungan itu mendekati hari’H’ belum ada tanda-tanda santunan itu dibayarkan. Namun  nasib korban crane sekarang bergantung pada kegigihan Pemerintah Indonesia mendesak Pemerintahan Arab Saudi.

Sebagaimana dikatakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang atas nama korban Crane Zulfitri Zaini, pihaknya meminta Presiden Jokowi mendesak Raja Arab untuk segera menepati janjinya.

“Ada 33 Jemaah Haji asal Indonesia yang menunggu pertanggungjawaban Pemerintahan Arab Saudi. Presiden tidak boleh lupa akan itu, menagih janji Raja Arab Saudi selama kunjungannya ke Indonesia,” ucap Direktur LBH Padang Era Purnama Sari dalam pesan tertulisnya, Sabtu, 25 Februari 2017.

Kunjungan itu menjadi momen yang tepat untuk menagih janji. Apalagi kunjungan itu juga akan ditandai dengan penandatanganan lima nota kesepahaman (MoU). Kementerian Agama sendiri mendapatkan dua porsi MoU kerjasama.

Porsi MoU,yang akan didapat Kementerian Agama adalah mengenai penguatan sektor keagamaan di Indonesia. Pihak Kemenag menyebut  pemberdayaan umat juga akan diupayakan dalam MoU itu. Hal itu terungkap sebgaimana yang dikatakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kepada wartawan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu 26 Februari 2017

Sayangnya, mengenai tindak lanjut ganti rugi pemerintah Arab Saudi terkait kecelakaan crane yang menimpa peserta haji Indonesia pada 2015 lalu, Menteri Lukman belum berani memberi kepastian. Dia harus melihat arah perbincangan yang tercipta nantinya.

“Ya itu tentu akan tergantung dari perkembangan dialog dalam pertemuan nanti,” ucapnya.

Apakah korban crane akan gigit jari? Tentu ketegasan sikap pemerintah Indonesia yang menjadi kuncinya, sebab mengaharapkan pemerintah Saudi sepertinya hanya mendapat janji-janj kosong belaka. Lebih baik uang itu digunakan untuk berinvestasi dan plesir itu digunakan untuk menyantuni korban crane.

Dari pihak Pemerintah Indonesia sendiri, janganlah investasi menyilaukan mata sehingga melupakan hak-hak rakyatnya mendapat santunan.

About Abu Nisrina

Check Also

Inilah Milisi Moderat Indonesia yang Siap Melawan Kelompok Radikal

Satu Islam, Jakarta – Jika di Lebanon ada milisi muqawamah Hizbullah yang dipersiapkan untuk bertempur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *