Home / Editorial / Mengapa Muncul ‘World Hijab Day’, dan Siapa Penggagasnya?

Mengapa Muncul ‘World Hijab Day’, dan Siapa Penggagasnya?

lHjUJHcxDR
Nazma Khan. Foto: Narrative.ly

Satu Islam – World Hijab Day telah menjadi fenomena dunia muslim saat ini. Kota-kota besar di dunia menyerukannya sebagai peneguhan eksistensi pemakian hijab bagi muslimah dan pengakuan sebagai muslimah bahwa penggunaan hijab merupakan konskwensi sebagai pemeluk agama Islam bagi kalangan wanita.

Pemakian hijab di negara mayoritas muslim saat ini memang tidak menimbulkan gesekan sosial, kecurigaan, bahkan diskriminasi. Namun, Bagi sebagian besar orang di negara-negara Barat, hijab memang belum sepenuhnya bisa diterima dengan baik oleh masyarakatnya.

Maka itu, tidak mengherankan bila terjadi banyak kasus diskriminasi akibat penggunaan hijab di berbagai negara. Karena mengalami sendiri fenomena tersebut, maka muslimah ingin haknya sebagai pemeluk agama Islam tidak ingin ada diskkriminasi.

Tahukah siapa penggagas World Hijab Day? Seorang perempuan yang tinggal di New York, Amerika Serikat, Nazma Khan adalah penggagas seruan itu. Nazma mengajak seluruh perempuan dunia, baik muslim maupun nonmuslim untuk menggunakan hijab. Pada 2013, Nazma menulis seruannya di dalam sebuah situs jejaring sosial.

Upaya Nazma pun berhasil. Seruannya, mampu menarik perhatian dan mendapat dukungan dari lebih dari 50 negara di dunia. Sejak saat itu, 1 Februari diperingati hari yang disebut World Hijab Day atau Hari Hijab Sedunia.

“Bagi banyak orang, hijab merupakan simbol penindasan dan perbedaan, dan hampir selalu menjadi perdebatan (mengenai Islam) di negara-negara Barat. Hari Hijab Sedunia dirancang untuk meredakan kontroversi itu, dan mendorong perempuan nonmuslim (atau perempuan muslim yang tidak menggunakannya) untuk menggunakan dan mengalami seperti apa menggunakan jilbab, sebagai bagian dari upaya untuk saling memahami,” demikian seruan yang ditulis Nazma, dilansir dari situs BBC.

Nazma merupakan imigran asal Bangladesh yang tumbuh di Bronx, New York City. Nazma perempuan muslim yang taat beragama yang sejak usia 11 tahun menjadi warga negara Amerika Serikat. Tinggal di negeri Paman Sama, Ia mengaku banyak mengalami diskriminasi akibat hijabnya. Sejak masa sekolah, Nazma mengaku hampir selalu mendapat julukan ‘hijabi’.

“Di sekolah menengah, saya ibarat ‘Batman’ atau ‘ninja’. Ketika saya kuliah tak lama setelah peristiwa 9/11, mereka memanggil saya Osama bin Laden atau teroris. Itu sangat mengerikan. Saya berpikir, satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi ini adalah jika kita meminta rekan kita untuk merasakan sendiri pengalaman berhijab,” paparnya.

Seruan penggunaan hijabnya yang direspon dunia tak disangka oleh Nazma. Ia tidak menyangka akan mendapatkan dukungan dari seluruh dunia, baik dari mereka yang beragama muslim maupun nonmuslim. Dia mengatakan telah dihubungi oleh puluhan orang dari berbagai negara, termasuk Inggris, Australia, India, Pakistan, Perancis, dan Jerman. Informasi mengenai imbauan ini pun telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa.

About Abu Nisrina

Check Also

Bagaimana Radikalisme Diwariskan?

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup …