Home / Editorial / Mendukung Invasi, Mendukung Pembunuhan

Mendukung Invasi, Mendukung Pembunuhan

141039_ulamadubesarab
Beberapa ulama yang mendatangi Dubes Saudi untuk Indonesia

Satu Islam – Beberapa orang yang mengaku ulama Indonesia yang tergabung dalam beberapa organisasi antara lain MIUMI, Al Irsyad mendatangi Kedubes Saudi. Termasuk di antara mereka ada Ali Mustofa Ya’qub dan KH Cholil Nafis datang ke Kedubes Saudi menyatakan dukungan bagi pemerintah Riyadh menyerang Yaman.

Sebagaimana diketahui Saudi merupakan negara yang memimpin pasukan koalisi dalam operasi militer terhadap Yaman dengan dalih membantu rakyat Yaman, bukan intervensi.

Setelah mengunjungi kedutaan Saudi Arabia Musofa Ya’qub mengatakan, Al-Haothi harus dihentikan. Karena kelompok radikal itu sudah seperti teroris. “Pertikaian disana memang bukan pertikaian sektarian,” ujarnya geram Sabtu 11 April 2015 lalu.

Namun, apakah pernyataan ini masuk akal ?

Pertama, bila Saudi ingin membantu rakyat Yaman mengapa dengan mengirimkan bom serta senjata lengkap. Dan bahkan disinyalir dibantu oleh AS?. Selain itu serangan ini malah banyak mengenai masyarakat sipil.

Kedua, bukankah ini peperangan dalam negara yang merdeka. Yakni, suku Houthi (Syiah Zaidiyah) didukung simpatisan bekas presiden tersingkir Abdullah Saleh melawan Presiden Mansour al Hadi (dukungan Saudi). Jika memang dalilnya membela rakyat Yaman, mengapa sejak dulu Yaman dibiarkan miskin dan tidak dibantu oleh Saudi.

Ketiga, bisa dilihat bahwa para ulama itu (yang mendatangi Kedubes Saudi) tidak mengikuti dan memahami realita di Yaman. Bahwa sejak Presiden Abdullah Saleh, Suku Al Houthi sudah pernah melakukan demo besar-besaran. Dan ketika ganti Presiden Mansur Al Hadi negara makin miskin, BBM naik tinggi dan lain sebagainya.

Keempat, Kita bisa melihat mengapa mereka mendukung Saudi-Arabia ? Itu adalah tagihan Saudi dimana mereka (organisasi ulama-ulama itu) sudah sangat banyak mendapatkan bantuan dari Saudi.

Kelima, kita bisa lihat siapa itu MIUMI. Organisasi ini sudah sangat-sangat jelas rekam jejaknya. Mereka sangat membenci Syiah. Sehingga dukungan terhadap Saudi yang menjadi lawan politik Iran untuk kawasan Teluk jelas dipastikan, mengingat Iran merupakan negara yang menjadi representasi Syiah. Ali Mustofa Ya’qub, ini juga sama sangat pro-Saudi. Bahkan beberapa waktu lalu demi kepentingan Saudi, Ali Ya’qub menulis artikel ‘Titik Temu Wahabi-NU‘ dimuat di Republika. Namun artikel itu dibantah habis oleh kader NU Nur Khalik Ridwan melalui artikel ‘ Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU‘ yang dimuat di Muslim Media News.

Apakah mereka membela Saudi karena motif pembacaan geopolitik Yaman atau justru sentimen sektarian? Kemungkinan yang kedua, yang lebih kental.

Keenam, Pemerintah Indonesia tidak pernah menyatakan dukungannya terhadap serangan pimpinan Arab Saudi. Justru Indonesia menyesalkan terjadinya kembali korban sipil dalam pertikaian di Yaman. Pemerintah Indonesia terus menyerukan agar semua pihak menahan diri dan memperhatikan keselamatan warga sipil. Baik itu warga Yaman maupun warga asing.

Pada beberapa kesempatan Menteri Luar Negeri Retno Lestari meminta kepada semua pihak di Yaman agar memberlakukan jeda kemanusiaan (humanitarian pause). Ini guna memberikan kesempatan bagi warga sipil dievakuasi keluar dari Yaman. Kesempatan ini akan digunakan oleh pemerintah untuk melakukan evakuasi WNI secepatnya dari Yaman. Dan sekarang Ratusan WNI sudah dikeluarkan dari sana.

Lalu mengapa mereka berkunjung ke kedutaan Arab Saudi dan memberikan dukungan itu? Ada beberapa kemungkinan. Yakni, sangat mungkin mereka ingin memberikan opini bahwa sekian ormas mendukung Saudi Arabia dan menyalahkan al Houthi. Ini sangat penting, sebab di Indonesia, tokoh-tokoh keturunan Arab atau para Habaib banyak diikuti warga NU. Mereka rata-rata keturunan Yaman.

Sekali lagi perang di Yaman, memang bukan perang Sektarian antara Saudi (Wahabi) dan Al Houthi (Syiah Zaidiyah). Tetapi itu peperangan Nasionalis, peperangan antara Yaman dan Saudi. Demi kepentingan supremasinya di Yaman. AS sangat berkepentingan disana. Dan isu sektarian, adalah isu yang sangat menguntungkan, khususnya untuk mendapat dukungan masyarakat umum dunia.

Dan untuk AS, isu sektarian itu punya dua sisi. Pertama, untuk kepentingan memenangkan tanpa keluar biaya banyak. Kedua, percekcokan antar madzab Islam adalah target berkelanjutan. Dan terus dihembuskan demi melemahkan Islam secara umum apapun madzabnya. Karena mereka tidak akan rela Islam kuat, sadar dan bersatu.

Para ulama tersebut perlu mememahami poin-poin penting sebagai berikut:

Pertama: Bukankah mestinya mereka mendatangi Kedubes Yaman, yang diklaim sebagai representasi dari Pemerintahan sah yang diakui Saudi?

Kedua: Sebagai manusia yang punya pamahaman agama dan moral, mestinya tahu bahwa tidak ada dasar logis dan etis memberikan dukungan kepada negara lain untuk mencampuri urusan negara lain. Mendukung intervensi berarti turut melakukan intervensi.

Ketiga: Sebagai warga negara Indonesia, mereka tidak patut memberikan pernyataan dan sikap tentang urusan negara lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan negara Indonesia. Pernyataan tersebut bisa dianggap sebagai intervensi.

Keempat: Indonesia adalah negara berdaulat dan berdiri sesuai dengan konstitusi. Satu-satunya yang layak dan berhak memberikan sikap dan pernyataan terkait konflik di negara lain adalah Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Luar Negeri. Mereka yang keburu memberikan dukungan dan pernyataan yang terkesan mencampuri urusan negara lain bisa dianggap melakukan kelancangan dan mengambil alih fungsi eksekutif Pemerintah.

Kelima: Salah satu tugas ulama adalah mendamaikan dan menjadi penengah serta penganjur kerukunan. Memberikan dukungan untuk melakukan penyerangan atas sebuah negara dan bangsa jelas bertentangan dengan fungsi keulamaan.

Keenam: Memberikan dukungan kepada pihak tertentu untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan terbunuhnya dan terlukanya manusia (warga sipil) berarti andil melakukannya. Ini bisa dianggap sebagai perbuatan yang menggugurkan atribut keulamaan.

Ketujuh; Dengan menggunakan teks suci sebagai dalil berarti mereka menganggap konflik di Yaman sebagai persoalan agama, dan karena itu mereka memberikan dukungan. Ini justru mengindikasikan adanya tendensi ideologi transnasional yang menjadi watak dasar ekstremisme. Kaum ekstremis pun menggunakan teks-teks suci sebagai dasar tindakan mereka.

Singkatnya, siapapun, apalagi yang mengaku ulama, harus mampu menjaga kewaraan, menghormati kedudukan ulama, waspada, jeli dan tidak naif.

“Jadi ulama itu tidak sesulit jadi manusia” kata penyair sufi Persia, Sa’di. (Faisal Akbar)

About Abu Nisrina

Check Also

Pro-Kontra Verifikasi Media Massa

Oleh: Mujib Munawan   Satu Islam – Dewan Pers telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah perusahaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *