Home / Editorial / Menag Lukman Hakim dan Keseriusan Pemerintah Jokowi Pulangkan Pengungsi Syiah

Menag Lukman Hakim dan Keseriusan Pemerintah Jokowi Pulangkan Pengungsi Syiah

098836900_1409825846-a4
Lukman Hakim saat menyatakan, mundurnya ia sebagai anggota DPR RI terpilih periode 2014-2019 dari Partai Paersatuan Pembangunan (PPP) – Foto : Liputan6.com

Satu Islam – Diangkatnya Lukman Hakim Saifuddin membantu pemerintahan Jokowi-JK untuk mengisi pos Menteri Agama di jajaran ‘Kabinet Kerja” mendapat respon posistif banyak kalangan terkecuali kalangan pengusung ideologi radikalisme.

Lukman semasa menjabat Menteri Agama di Kabinet Indonesia Bersatu II yang menggantikan Suryadharma Ali karena kasus dugaan korupsi dinilai berbagai kalangan telah menorehkan sejumlah prestasi.

Meski hanya menjabat Menag hanya 4 bulan, Lukman sudah memiliki sejumlah prestasi di antaranya berhasil melobi untuk menghemat biaya pemondokan haji di Mekkah sebesar Rp 97 miliar dan di Madinah Rp 43 miliar untuk tahun anggaran 2015. Ia juga mampu mengakomodasi Muhammadiyah dalam sidang isbat penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1434 Hijriyah. Padahal sebelumnya ormas muslim tersebut tak pernah hadir dalam penentuan tersebut.

Lukman juga seorang yang toleran. Berbagai aliran yang dituding sesat seperti Syiah dan Ahmadiyah bisa bernafas lega. Ia pernah mengklaim kementeriannya sebagai kementerian semua agama dan kepercayaan di Indonesia. Sikap toleran politisi PPP ini bukan sebatas retorika belaka. Sikap toleran itu ia buktikan dalam kebijakan di jajarannya maupun dalam sikap pribadinya. Ia bahkan bersedia menjadi pengantar buku ‘Pemimpin Non Muslim’ yang ditulis filsuf Indonesia, Muhsin Labib.

Keseriusan Lukman untuk membereskan persoalan di kemenag dan persoalan keagamaan di Indonesia ia buktikan dengan keputusannya mengundurkan diri dari daftar anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terpilih periode 2014-2019. Keterangan pengunduran diri Lukman, disampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum RI Husni Kamil Manik di Jakarta, Selasa 2 Agustus 2014.  Padahal ia belum tentu dipilih Jokowi sebagai Menteri Agama.

Secara logika politik, tak mungkinlah PPP yang tak berkeringat, apa lagi sedang “berkepala dua”, dapat jatah menteri dalam Kabinet Kerja-nya Jokowi-JK. Tapi logika kompetensi ternayata memihak ke sosok Lukman Hakim Saifudin. Saat menteri KIB-II SBY rame-rame mundur dari kabinet demi posisi anggota DPR, dia tetap bertahan sebagai Menag demi suksesnya misi haji. Tapi Jokowi memilih sosok yang tidak gila jabatan itu menjadi Menag.

Saat ini Lukman dihadapkan pada kasus yang di masa pemerintahan SBY-Boediono belum dituntaskan. Nasib minoritas yang telah menjadi korban kezaliman hingga saat ini masih terkatung-katung di pengungsian. Menyikapi persoalan minoritas sebagaimana nasibnya muslim Syiah yang masih terkatung-katung hingga saat ini, Lukman telah membuat program kerja untuk menyelesaikannya. Pada pekan pertama sebagai Menteri Agama (Menag) Kabinet Kerja Jokowi-JK, Lukman, mencoba mendalami masalah yang terkait nasib minoritas yang telah menjadi korban intoleransi, terutama soal pengungsi Syiah.

Ia mengaku tengah menelaah masalah pengungsi Syiah dalam upaya mengatasi problem tersebut. Apa ganjalan tersebut? Namun ia belum bisa mengungkapkannya ke publik.

“Sejauh yang saya dalami ada bagian-bagian yang saya bisa share, tapi ada yang bagian-bagian lain jika di-share bisa kontraproduktif,” ujar Lukman di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa 28 Oktober 2014.

Ada persoalan cukup rumit. Semisal, pengungsi itu sendiri berada di dalam wilayah yang menyangkut pemerintahan daerah. Hal ini diakui oleh Lukman

Ada juga wilayah sosial yang sering menjadi akar dari persoalan itu sendiri. Untuk itu, pihak Kemenag akan mengkomunikasikan masalah tersebut kepada pemerintah daerah tempat pengungsi itu menetap.

“Persoalannya kompleks, ada wilayah yang menjadi domain di pemerintah daerah. Ada wilayah sosiologis dan di luar struktrur pemerintah, tapi itu justru murni persoalan masyarakat. Selain tentu ada persoalan paham-paham keagamaan. Komunikasi antara pemerintah daerah di tempat pengungsi-pengunsi itu akan lebih intens,” tutur Lukman.

Di masa pemerintahan SBY, kemenag telah membuat skema awal yang menjadi acuan dalam menjalankan program pemulangan pengungsi. Hal itu akan mempermudah pekerjaannya di Kabinet Jokowi. Ia pun mengaku tak banyak mendapatkan kendala dalam transisi pemerintahan dari SBY-Boediono ke Jokowi-JK.

“Tidak ada kendala sama sekali. Yang lalu saya menikmati 4 bulan terkahir. Sejauh ini respons masyarakat sangat apresiatif dan praktis tidak ada persolan prinsipil yang ditolak oleh masyarakat. Bagi kami, ini tinggal dilanjutkan saja,” tutup Lukman.

Masalah pengungsi sekte tertentu telah menjadi pekerjaan rumah pemerintah selama bertahun-bertahun. Seperti kaum Syiah yang sudah lebih dari 2 tahun mengungsi di Sidoarjo. Jika pemerintahan Jokowi serius memulangkan pengungsi Syiah Sampang, selain telah dibuat skemanya, modal sosial di akar rumput telah siap sejak mulainya rekonsiliasi di tingkat warga antara  Sunni dengan Syiah.

Rekonsialiasi itu dikukuhkan dengan penandatanganan Deklarasi Piagam Islam dan Ikrar Damai tanggal 23 Septeber 2013. Sejauh ini rekonsiliasi di akar rumput terus menguat. Tanggal 6 Februari 2014 para ulama Madura di antaranya KH. Ali Karrar dan KH. Syafiuddin Wahid bisa menerima kepulangan warga Syiah dengan mensyaratkan dilakukannya pembinaan untuk pengungsi di Ponpes Assiddiqiyyah asuhan KH. Noer Iskandar S.Q.

Harapan yang saat ini dibebankan ke Jokowi  adalah semoga ia tidak tersandera kepentingan politik sehingga bisa menuntaskan persoalan kelompok minoritas seperti pemulangan pengungsi Syiah dan Ahmadiyah. Harapan itu wajar, mengingat pasangan Jokowi-JK pada kampanye bulan Juni 2014 lalu berjanji Jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 nanti, akan memanusiakan kaum minoritas di Tanah Air, seperti kaum Ahmadiyah dan Syiah.

About Abu Nisrina

Check Also

Bagaimana Radikalisme Diwariskan?

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup …