Home / Editorial / Krisis BBM? Minyak ISIS Solusinya

Krisis BBM? Minyak ISIS Solusinya

2131061Satu Islam, Jakarta – Di tanah air saat ini terancam kelangkaan BBM terutama BBM bersubsidi. Pemerintah dituntut peras otak untuk menuntaskan persoalan yang jika dibiarkan bisa menyebabkan kelumpuhan negara.

Ditengah krisis energi itu, di timur tengah sana kelompok geng teroris Islam Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dikabarkan menjual minyak mentah dari ladang-ladang minyak yang mereka rebut dengan harga super obral ke pasar gelap. Mungkinkah minyak ISIS salah satu solusi yang harus dipertimbangkan?

Bagai obrolan di pasar, pembahasan solusi mengatasi krisis energi ini bukan lagi dimonopoli para pakar. Di trotoar dengan mudah kita mendapati kumpulan orang yang sedang geram dengan kebijakan pemerintah yang mencabut sudsidi BBM.

Tuntutan publik semakin kencang berhembus. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik pernah mengatakan, ada empat cara mengatasi persoalan energi di Indonesia.

Mengutip dari Inilah.com, empat cara yang disebut Jero ‘Catur Dharma Energi’ itu mencakup peningkatan produksi migas, pengurangan pemakaian BBM karena sebagian besar BBM berasal dari impor, mendorong secara masif pengembangan energi baru dan terbarukan, serta gerakan hemat energi.

Di sisi lain, sementara harga minyak dunia terus membubung—sekitar 103 dolar AS per barrel untuk jenis Brent Crude, ISIS membanting harga jual minyak mereka pada kisaran 25-60 dolar AS per barrel.

Jangan salah, sebagaimana pepatah tua mengatakan bahwa uang itu buta agama, minyak ISIS tak kekurangan pembeli. Luay al-Khatteeb, direktur Iraq Energy Institute mengatakan, ISIS menyelundupkan minyaknya ke Jordania, lewat Provinsi Anbar, ke Iran lewat Kurdistan, serta ke Turki lewat Mosul. Perjalanan minyak ‘haram’ itu nyaris lancar tanpa halangan.

“Ada pula minyak yang dibawa ke pasar lokal Suriah, dan kawasan Kurdistan di Irak,” kata al-Khatteeb. Lalu ia menuding,”Turki tahu semua itu, hanya mereka menutup mata.” Menurut al-Khatteeb dalam wawancara khusus dengan CNN, selama Juli lalu ISIS yang menguasai pasar minyak di utara Irak itu bisa meraup satu juta dolar AS per hari. Bulan ini, dengan penambahan ladang-ladang minyak yang mereka kuasai, al-Khatteeb memperkirakan pemasukan ISIS bisa dua juta dolar AS per hari.

Akankah Indonesia menyergap peluang mendapat minyak murah itu? Bagi anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi dan migas asal Partai Golkar, Dito Ganindito, itu tidak mungkin. Menurut Dito, persoalannya bukan soal harga.

“Tidak mungkinlah Indonesia beli minyak dari ISIS. Sepertinya bakal sulit diterima,” kata Dito kepada Iwan Purwantono dari INILAHCOM, Rabu 27 Agustus 2014

Dito mengakui, harga minyak mentah yang dilego ISIS sangat menggiurkan. Untuk minyak jenis Brent Crude, ISIS membanderol tak lebih dari 60 dolar AS per barrel. Sementara harga di pasaran minyak dunia sudah di atas 100 dolar AS per barrel. Pada penutupan pekan lalu (Jumat 22 Agustus 2014, minyak mentah jenis Brent dipatok 106 dolar AS per barel.

Urusan bisnis minyak, kata Dito, memerlukan kejelasan. “Misalnya, pemerintah Indonesia butuh crude seberapa banyak, trader-nya siapa? Semuanya harus transparan.” Itu yang membuat sulit bila berdagang dengan ISIS. “Apalagi pemerintah Indonesia sudah sepakat untuk menolak ISIS,’’kata dia.

Pandangan senada diungkap anggota Komisi VII asal PDIP, Dewi Aryani. Meski negeri ini tengah dilanda krisis BBM dan minyak ISIS dipatok dengan harga miring, belum tentu pemerintah Indonesia melirik.

‘’Masalah trading crude adalah masalah serius. Harus jelas asal-usulnya, trader-nya, harganya juga. Sepertinya memang sulit kalaupun harganya jauh lebih murah,” kata Dewi.

About Abu Nisrina

Check Also

Takbir Bung Tomo dan Takbir 411: Tak Serupa dan Tak Sama

Logika apa yang dipakai para massa anti-Ahok sekaligus pendukung aksi 411 ketika menyetarakan teriakan “Allohu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *