Home / Editorial / Inilah Milisi Moderat Indonesia yang Siap Melawan Kelompok Radikal

Inilah Milisi Moderat Indonesia yang Siap Melawan Kelompok Radikal

Ratusan anggota GP Ansor mengikuti apel kebangsaan dan kemah kemanusiaan di lapangan Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa 18 April 2017 – Foto: Okezone

Satu Islam, Jakarta – Jika di Lebanon ada milisi muqawamah Hizbullah yang dipersiapkan untuk bertempur dengan Israel dan kelompok radikal Islam, di Indonesia milisi serupa adalah Banser GP Ansor dari Nahdhatul Ulama (NU)

Bedanya, jika Hizbullah telah menyerupai militer lengkap dengan peralatan tempurnya yang modern, kalau Banser tidak memilikinya. Kesamaan keduanya mengenakan seragam militer doreng-doreng hijau. Keduanya juga melakukan pendidikan kemiliteran.

Terkait fungsi, Banser sebelumnya ditugaskan melakukan pengamanan hajatan di internal NU serta pengamanan tempat-tempat ibadah. Kini fungsi itu bertambah dengan diaktifkannya untuk melawan kelompok radikal.

Banser Ansor memang menempatkan diri di garda terdepan dalam perang melawan intoleransi dan radikalisme agama sejak kelompok intoleran dan radikal telah berkembang dan mengancam keutuhan NKRI.

Klaim itu bukan isapan jempol belaka. Belum lama ini Banser menggeruduk sebuah hotel di Semarang yang dijadikan lokasi pertemuan Hizb Tahrir. Mereka mengepung gedung dan memaksa penyelenggara acara membubarkan “Forum Khilafah” tersebut.

Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas sendiri saat orasi di Apel kebangsaan yang digelar dalam memperingati Hari Lahir Ansor ke-83 di Ponpes Lirboyo, Kediri, 20 Mei 2017 menyatakan perang kepada kelompok pengusung khilafah.

Menurut Yaqut, siapapun yang mengubah NKRI adalah ancaman bagi eksistensi negara. Yaqut pun mengajak segenap personel Banser untuk siap melawannya.

Indonesia memang sedang menghadapi ancaman intoleransi, radikalisme dan teorisme. Pluralisme yang menjadi kekuatan Indonesia telah menghadapi ancaman yang serius. Ormas Islam terbesar menegaskan dirinya menjaga pluralisme. Harapan untuk menangkal kelompok-kelompok itu ada NU.

Harapan itu wajar, mengingat para kiyai dari jam’iyah Nahdhatul Ulama turut menjadi pendiri NKRI, sebagaimana dikatakan oleh Yaqut dalam apel akbar itu. Di samping itu, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu sejak hampir satu abad mewakili wajah Islam yang moderat dan inklusif yang memang menjadi ciri keislaman Indonesia.

Sementara Banser bergerak di pengadilan jalanan, Ansor meniti jalur dialog untuk membangun konsensus di antara umat Muslim terkait penerapan hukum Islam di era kekinian.

Namun Sekretaris Jendral NU Yahya Cholil Staquf meyakini perang melawan radikalisme agama tidak bisa menunggu konsensus politik.

“Kita harus memerangi mereka sebelum mereka menimbulkan kerusakan lagi. Kami akan memerangi ini hingga akhir,”  ujarnya kepada AFP sebagaimana dikutip dari Deutsche Welle.

About Abu Nisrina

Check Also

Pro-Kontra Verifikasi Media Massa

Oleh: Mujib Munawan   Satu Islam – Dewan Pers telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah perusahaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *