Home / Editorial / Fanatikkah Kita ?

Fanatikkah Kita ?

Dok : www.nrimatters.com
Photo : www.nrimatters.com

Satu Islam – Pemilihan Umum dapat mengungkapkan mana karakteristik bangsa yang terbaik dan terburuk : Salah satu hal terburuk pada musim Pemilu 2014 yang telah terjadi adalah kita semua menjadi fanatik.

Lihatlah bagaimana cara kita menyebarkan kampanye hitam terhadap Joko “Jokowi” Widodo, salah satu dari dua calon presiden dalam pemilu 9 Juli nanti. Sebuah publikasi melalui tabloid yang banyak beredar di pondok pesantren (pesantren) menyatakan bahwa Jokowi adalah seorang etnis Cina beragama Kristen.

Kampanye ini sudah melewati batas yang mengerikan. Penyebaran kebohongan mengenai ras dan agama si calon penguasa ini memberikan masukan bahwa banyak pemilih yang terpengaruh oleh sentimen sektarian. Sementara taktik smear seperti ini menjijikkan, reaksi kita dan cara kita mengatasi mereka yang menyebarkan kebohongan bahkan lebih menyedihkan. Ini adalah bukti bahwa kita rasisme dan fanatisme telah merasuk ke dalam diri kita.

Salah satu tanda sikap rasis kita adalah cara kita yang bebas menggunakan istilah “black campaign” untuk menunjukkan segala sesuatu yang negatif mengenai metode kampanye. Mengapa kita akan cenderung mendukung gagasan mengenai supremasi kulit putih ketika kita bahkan aslinya tidak berkulit putih? Tapi ini tidak lebih membingungkan daripada popularitas krim pemutih kulit yang selama ini tersedia dan dipakai di kalangan perempuan dan laki-laki kami.

Indonesia bisa belajar mengenai hal ini dari bangsa lain yang sama pluralisnya, Amerika Serikat misalnya, ketika identitas keagamaan dari Barack Obama menjadi isu perdebatan selama pemilihan presiden pada tahun 2008. Kubu Hillary Clinton, saingan utamanya dari Partai Demokrat, menyebarkan berita berbahaya yang menyebutkan bahwa Obama adalah seorang Muslim dan dia memainkan issue Islamophobia.

Mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell (layaknya Obama, adalah seorang Afrika-Amerika), memiliki jawaban yang benar: “Memangnya kenapa jika ia adalah seorang Muslim?” Setiap jawaban lain dalam pertahanan Obama, sementara berniat baik, sebesar kefanatikan.

Ini juga merupakan satu-satunya jawaban yang benar dengan klaim bahwa Jokowi adalah Cina dan dia bukan seorang Muslim: “Memangnya kenapa kalau dia Cina atau bukan Muslim, atau keduanya?” Semua jawaban lain yang menyangkal tuduhan ini hanya membuat kita semua terlihat seperti sekelompok fanatik.

Dan sayangnya, mungkin kita adalah salah satunya.

Kita seharusnya menjadi bangsa yang menjunjung tinggi keragaman dan menjamin hak-hak yang sama bagi semua warga negara, tanpa memandang ras, etnis, agama dan kelas sosial latar belakang mereka. Jelas, kita belum sampai di sana.

Bukan untuk mengatakan bahwa tidak ada kemajuan. Penunjukan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama sebagai penjabat gubernur Jakarta bulan ini, mengisi posisi sementara yang ditinggalkan oleh Jokowi, menjadi sebuah langkah konkrit. Ahok adalah Indonesia-Cina yang beragama Kristen. Sejak Kemerdekaan tahun 1945, Jakarta tidak pernah diperintah oleh Indonesia-Cina atau non-Muslim. Begitupun juga Indonesia.

Haruskah Jokowi memenangkan pemilu pada bulan Juli, kami berharap pengukuhan Ahok sebagai gubernur penuh. Itu akan menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi Ibukota Jakarta, yang seharusnya memimpin kita untuk membersihkan kefanatikan yang ada saat ini. Ya, dia adalah Indonesia-Cina dan Kristen.

Tapi kemudian, mengapa ?

 Diterjemahkan dari : The Jakarta Post

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Pro-Kontra Verifikasi Media Massa

Oleh: Mujib Munawan   Satu Islam – Dewan Pers telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah perusahaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *