Home / Editorial / Editorial Satu Islam : Menjadi Mandela

Editorial Satu Islam : Menjadi Mandela

Dok : The Guardian
Dok : The Guardian

Satu Islam – 5 Desember lalu, dunia berduka atas kematian Nelson Mandela di usia 95 tahun. 27 tahun masa penjara yang ia lewatkan dan tahun-tahun panjang perjuangan melawan rezim apartheid telah membawanya menjadi pribadi yang dicintai oleh semua orang. Bahkan oleh mereka yang awalnya menganggap bahwa ia adalah seorang teroris.

Bukan berarti Mandela tidak punya pilihan saat ia di penjara. Ia punya pilihan untuk menggadaikan apa yang ia perjuangkan sebelumnya dengan sebuah kebebasan. Bisa saja ia memilih kenyamanan hidupnya sendri daripada harus menderita di penjara yang membuat paru-parunya terinfeksi.

Kita tidak akan pernah lupa bagaimana Mandela berjuang tidak hanya untuk bangsanya sendiri. Ia juga berbicara tentang kemerdekaan bangsa lain terutama tentang pentingnya kemerdekaan bangsa Palestina.Ia mengajarkan kita untuk tidak bersifat kompromistis pada kekerasan atas nama apapun. Sekalipun dibayar mahal dengan kemudaan, kesehatan dan kenyamanan hidupnya.

Mandela memang telah tiada, berhari-hari yang lalu. Namun spiritnya akan tetap menyala.

Saat keluar dari penjara, Mandela melangkahkan kakinya dengan mantap ke ranah politik. Bukan untuk memimpin orang-orang kulit hitam berdemonstrasi merongrong pemerintah Afrika Selatan. Tapi justru ia bergabung dengan pemerintahan de Klerk untuk menghapus sistem yang membuat warga kulit hitam terdiskriminasi. Ia memilih untuk berdamai dengan penindasnya dengan mengubah berbagai kebijakan yang selama ini berjalan timpang antara warga kulit putih dengan warga kulit hitam. Bukan membentuk barisan oposisi radikal yang akrab dengan kekerasan.

Bagaimana dengan kita?

Pekan lalu, warga Ahmadiyah di daerah Singkut Jambi diserang oleh 300 orang massa KMII (Kongres Mahasiswa Islam Indonesia) yang merupakan organisasi sayap dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Padahal, pengusiran atas nama agama yang menimpa 150 orang Syiah di Sampang Madura belum tuntas terselesaikan.

Tentu saja, konsep kemanusiaan seharusnya bersifat universal. Pemerintah juga tahu bahwa kewajibannya adalah melindungi warganya tidak peduli agama, suku dan berapa beban pajaknya. Namun kenyataannya, kekerasan agama terus terjadi. Bahkan cenderung ada pembiaran sehingga hampir semua kasus kekerasan atas nama agama terbengkelai dan akhirnya kasus baru bermunculan lagi. LSI (Lembaga Survei Indonesia) mencatat, sejak tahun 1998, 65% kekerasan di Indonesia adalah kasus kekerasan atas nama agama. Mirisnya, pelakunya adalah masyarakat melawan masyarakat. Bukan pemerintah lawan masyarakat seperti yang terjadi di masa orde baru.

Kekerasan di sini tidak seperti yang terjadi di Afrika Selatan dulu. Jika di negeri Mandela kekerasan dilakukan oleh sistem yang dibuat oleh pemerintah, kekerasan atas nama agama di sini justru terjadi antar masyarakat. Diperparah dengan pembiaran dari pemerintah jika kekerasan itu melibatkan kelompok besar tertentu.

Sebagai individu yang menjadi bagian dari masyarakat, kita dapat ikut berperan di sini. Dengan menampilkan wajah islam yang damai dan saling menghormati antar umat beragama di dunia nyata maupun dunia maya. Jika itu terjadi, kita semua bisa jadi Mandela yang mencintai perdamaian.

Kemanusiaan yang adil dan beradab jadi produk langka di Indonesia. Ideologi berbasis pedang yang mengkafir-kafirkan kelompok islam lain yang tidak sama dengannya tersebar merata bahkan sampai akar rumput. Di mana-mana kita jumpai orang yang dapat mengklasifikasikan siapa saja yang berhak masuk surga, siapa yang berhak masuk neraka. Bahkan, kematian Mandela juga tidak luput dari pengklasifikasian ini. Mandela disebut masuk neraka karena pernah menolak masuk Islam. Pelaku korupsi dari partai Islam justru disebut sedang mendapat ujian dari Tuhan dan suatu hari berhak mendapatkan surga. Logika seperti ini diajarkan dimana-mana, dari anak-anak di SD, mahasiswa di kampus-kampus sampai ke ibu-ibu pengajian di berbagai masjid. Sehingga jika kita mendengar ada kekerasan atas nama agama yang terjadi, seolah itu jadi hal yang wajar dan pantas didapatkan bagi pengikut aliran sesat.

Penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena berbeda pandangan agama telah menodai kemanusiaan dan keindonesiaan kita. Keislaman telah dipersempit menjadi sekedar urusan masuk neraka atau surga yang ditentukan oleh segelintir manusia yang sering menginjak-injak wajah damai keislaman kita.

Kematian Mandela mengingatkan kita pada kata-kata filosof Denmark, Soren Aabye Kierkegaard. Ia berkata, ketika seorang tiran mati, pemerintahannya berakhir. Ketika seorang pejuang mati, pemerintahannya justru dimulai.

Pertanyaannya adalah, apakah masih ada yang mau jadi pejuang kemanusiaan?

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Bagaimana Radikalisme Diwariskan?

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup …