Home / Editorial / Ancaman Perang Sektarian Akibat Kegalauan Saudi

Ancaman Perang Sektarian Akibat Kegalauan Saudi

0546596teheran780x390
Walau sudah larut malam di Iran, banyak warga yang merayakan kesepakatan nuklir yang dicapai. – Foto : AP

Satu Islam – Deal nuklir Iran yang diiringi pencabutan sanksi membuat Arab dan negara-negara lain di Timur Tengah (Timteng) saudi galau berat. Sebab, kekuatan dan pengaruh Iran di wolayah Timteng akan menguat. Terlebih bukan rahasia lagi, bahwa selama ini Iran dan Arab Saudi bermusuhan. Hubungan kedua negara meruncing saat Arab saudi menggempur militan Syiah Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Ketidaksukaan Saudi terhadap kesepakatan nuklir Iran ini terlihat sangat jelas. Saudi sangat takut Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi sekutunya tidak lagi sepenuhnya memenuhi hawa nafsu Saudi.

Sebabnya, sama dengan Saudi, Iran merupakan penghasil penghasil minyak yang cukup besar. Selain itu kepentingan politik di kawasan untuk hegemoni, merupakan ambisi Saudi untuk menjadi super power di kawasan teluk. Dengan kata lain, Iran kini dan mendatang memiliki daya tawar yang kuat di hadapan AS manakala ekonomi dan teknologinya semakin kuat.

Saudi kian galau setelah mantan kepala intelijennya, Pangeran urki al-Faisal, awal bulan ini memperingatkan akan terjadi normalisasi hubungan Iran dan AS pasca kesepakatan nuklir Iran.

mantan Duta Besar Inggris di Riyadh Sir William Petey pun mengungkapkan, para petinggi Saudi takut dengan adanya kesepakatan nuklir Iran ini. Yang ditakutkan adalah dengan adanya kesepakatan nuklir Iran ini, negara-negara teluk akan kembali ke sebelum Revolusi Iran pada 1979. Saat itu AS lebih memilih bersekutu dengan Iran.

“Terkait dengan isu nuklir ini, Arab saudi mengalami dilema. Mereka tidak ingin Iran menjadi salah negara yang memiliki kekuatan nuklir. Namun, di sisi lain Saudi tidak ingin terpaksa membuat keputusan sulit (terkait dengan hubungan AS dengan Iran. Red),” ujar Petey.

Selama bertahun-tahun, membatasi ambisi nuklir Iran merupakan agenda utama bagi negara-negara teluk. Sebab, selain masalah nuklir, mereka juga mengkhawatirkan meluasnya pengaruh Syiah. Hal ini mengancam paham Wahabi yang menjadi mazhab resmi kerajaan Saudi. Wahabi merupakan alat politik dominasi Saudi bagi negara-negara teluk negeri Muslim.

Negara-negara di Jazirah Arab, takut jika Iran akan menjadi negara besar yang bakal mengancam kepentingan mereka. Selama ini perbedaan sektarian antara Sunni dan Syiah di Timur Tengah memang kuat. Perbedaan ini lah yang dimainkan Saudi Cs untuk dijadikan alat politik demi mendapatkan dukungan umat Islam.

UEA dan Arab Saudi adalah negara yang menggunakan wahabisme sebagai alat politik. Ironisnya mereka mengklaim sebagai representasi Sunni. Di sisi lain, Iran merupakan negara yang mayoritas bermazhab Syiah. Saat ini empat negara di Timur Tengah tengah terjadi perang sektarian. Yaitu, Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman.

Dengan mencatut identitas Sunni, Saudi telah berhasil mendulang dukungan umat Islam Sunni untuk menggiring mereka ke konflik sektarian dengan mengusung jargon perang suci memerangi Syiah.

Tidak seperti Israel, yang mengungkapkan ketidaksukaannya atas kesepakatan nuklir Iran secara blak-blakan, Saudi memilih cara yang lebih halus. Duta Besar Saudi untuk AS, Adel Jubeir memilih tidak mengeluarkan kritikan apapun sebelum kesepakatan benar-benar final. Jika dibandingkan jalan konfrontasi dengan sekutunya, AS, pemerintah Saudi memilih untuk menguatkan persatuan di negara-negara teluk. Sayangnya tidak mudah melakukan itu. Oman dan Qatar lebih memilih di sisi Iran. Sementara itu, Qatar sejak awal jelas-jelas mendukung Teheran.

Karena merasa begitu terancam dengan Iran, ada kabar yang berembus bahwa saat ini Arab Saudi berusaha mencari cara untuk membuat senjata nuklirnya sendiri. Namun hal itu ditepis mentah-mentah oleh Jubeir. Pemerintah AS menangkap gelagat kegalauan sekutunya. Kamis, 2 April 2015, Presiden AS Barack Obama menelepon koleganya Raja Arab Saudi Salman untuk menegaskan lagi komitmen AS terhadap sekutunya di teluk. Obama akan mengundang Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman ke Kamp David beberapa minggu ke depan untuk membicarakan masalah keamanan.

Janji Obama kepada Raja Salman untuk tetap menguatkan keamanan Saudi patut dicurigai, sementara di sisi yang lain Washington ingin terjalin kembali hubungan erat dengan Iran. AS terlihat memainkan standar gandanya di kawasan teluk. Satu sisi AS tetap mesra dengan Saudi sementara di sisi lain AS mengaktifkan kedekatannya dengan Iran.

Dugaan yang bisa diambil adalah, AS sedang mengadu domba negara-negara teluk dengan memainkan banyak isu termasuk isu sektarian untuk kontrol kepentingan dominasinya di Timur Tengah.

About Abu Nisrina

Check Also

Bagaimana Radikalisme Diwariskan?

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup …