oleh

Dituding Bernuansa Provokatif, MUI NTT Tolak Pawai Akbar Hizbut Tahrir di Kupang

Pawai Akbar HTI ( Dok : Surau Pos)
Pawai Akbar HTI ( Dok : Surau Pos)

Satu Islam, Kupang – Guna menyerukan penegakkan kembali syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyelenggarakan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) di 36 kota sepanjang  Mei 2015. Dan untuk wilayah Kupang, NTT agenda ini direncanakan pada tanggal 16 Mei 2015, namun dengan alasan keamanan agenda ini tidak mendapat restu MUI dan Ormas Islam lainnya, seperti GP Ansor.

Ketika dikonfirmasi Surau Pos tak ada penjelasan resmi MUI Kupang terkait hal ini. Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Mandarlangi Puaupa, hanya berdalih umat muslim daerah itu, diminta agar menghindari peringatan yang bernuansa provokatif yang dapat mengganggu kerukunan antarumat beragama.

“Umat muslim di Kupang, harus menjaga situasi dan memanfaatkan momentum perayaan keagamaan untuk mempertegas jatidiri sebagai Islam yang mencintai kedamaian dan menolak segala tindakan yang bisa menjurus pada nuasa kekerasan,” katanya.

Mandarlangi Puaupa menyebutkan warga kota Kupang sangat sensitif jika ada pawai. Karenanya dia minta Ormas Islam tidak power full kegiatan yang dapat memancing keamanan. Mari kita berdakwah untuk mempertegas tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

“Tahun ini memang ada rencana pawai akbar oleh ormas Hizbut Tahrir Indonesia, dan MUI NTT tegas menolak itu. Seluruh elemen muslim yang bernaung di bawah MUI ingin agar kegiatan keagamaan harus membawa perdamaian,” katanya.

Dalam hubungan dengan itu, MUI meminta seluruh umat muslim di daerah itu agar memanfaatkan momentum ini untuk membangun persaudaraan, membina hubungan antarumat beragama yang sudah terbina selama ini.

“Tidak boleh ada kegiatan-kegiatan apapun yang bisa menimbulkan gesekan di masyarakat dan menodai kebersamaan,” kata Puaupa.

MUI NTT juga meminta aparat keamanan untuk membubarkan setiap kegiatan yang bisa menggangu kenyamanan umat beragama lain. Demikian dilansir dari laman Surau Pos.

“Artinya, semua kegiatan perayaan keagamaan harus memberi warna bahwa Islam identik dengan kedamaian,” katanya.(Surau Pos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed