oleh

Din Syamsuddin: Pilkada 2018 Rawan Konflik Agama

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin mengunjungi kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Jalan Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 31 Oktober 2017 – Foto: Kompas

Satu Islam, Jakarta – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin. beraudiensi dengan Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Suharyo di Jakarta, Selasa 31 Oktober 2017.

Pertemuannya dengan Iganatius  yang dilakukan Din merupakan bagian safari ke tokoh lintas agama setelah dirinya diberi amanat oleh Presiden. Sebelumnya ia mengunjungi majelis Persekutuan Gereja Indonesia (PGI).

“Organisasi agama-agama ini adalah elemen bangsa dan stakeholder di Tanah Air kita. Kita harus libatkan mereka,” tandasnya usai pertemaunnya dengan Ignatius, di Kantor KWI,  Selasa 31 Oktober 2017.

Din menilai perlu mendengar masukan-masukan dari berbagai pihak. “Ini untuk meminta nasihat, saran-saran, pikiran, dan dukungan bagi pelaksanaan tugas saya sebagai utusan khusus presiden. Beliau sudah menyampaikan pesan-pesan yang baik,” ungkapnya.

Menurut Din, konflik antar agama yang kerap terjadi belakangan ini bukan murni karena faktor ajaran agama. Konflik yang lahir justru disebabkan karena sejumlah faktor non agama seperti politik, ekonomi dan hukum.

“Ada yang bisa kami lakukan, tokoh agama lakukan, tapi juga ada peran dari para tokoh negara, dari parpol untuk mengeliminasi dari daya rusak faktor non agama ini terhadap kerukunan,” kata Din

Menurut dia, pada tahun politik potensi retaknya kerukunan antarumat beragama selalu ada. Din mendorong agar partai politik berkompetisi dengan cara-cara yang baik saat pemilihan kepala daerah, pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Dengan begitu, akan timbul suasana yang baik dan tidak menimbulkan perpecahan. “Apabila faktor non agama ini bisa diatasi, maka kerukunan antarumat beragama di Indonesia akan terus terjaga,” ujarnya.

Din mengatakan, Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk terus menjaga kerukunan antarumat beragama. Modal pertama adalah agama itu sendiri. Pada prinsipnya, tak ada agama yang mengajarkan permusuhan.

“Yang kedua, Indonesia juga memiliki Pancasila dan Bineka Tunggal Ika,” ucap mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini.

Terkait pertemuannya dengan Ignatius, Din mengatakan, kdeua belah pihak berepakat bahwa kerukunan antarumat beragama, khususnya umat Islam dan Katolik perlu dikembangkan, dirajut, dan dipelihara. Apalagi, Indonesia mempunyai modal dasar penting untuk merealisasikan hal tersebut. Salah satu di antaranya berasal dari agama-agama di Indonesia yang sejatinya mengajarkan kerukunan dan kemajemukan.

“Kita punya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kalau dua modal ini kita pelihara maka walaupun ada ujian gangguan dari faktor nonagama, baik politik ekonomi, itu bisa teratasi,” tandasnya.

Dia pun mengagendakan awal tahun depan untuk melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh berbagai agama.

“Ini untuk membahas permasalahan-permasalahan yang ada secara konkret. Bukan seminar atau simposium, tapi percakapan hati ke hati untuk membahas masalah yang ada. Sehingga disepakati komitmen bersama,” ungkapnya.

Dengan adanya kesepakatan tersebut diharapkan ada realisasi kerukunan antarumat di tataran akar rumput.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed