oleh

Din Syamsuddin: Muhammadiyah Akomodatif dengan Kultural

din-syamsuddin-sidang-isbat
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin

Satu Islam, Malang – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin mengingatkan, ada empat catatan dalam revitalisasi dakwah kultural menuju masyarakat Islam.

Pertama, perlunya penyesuaian metodologi dakwah kultural di tengah-tengah masyarakat. Kedua, jangan sampai ada kesan Muhammadiyah hendak membumi hanguskan budaya yang telah ada, karena Islam sejatinya adalah agama yang akomodatif.

Ketiga, hendaknya dakwah kultural mengangkat local wisdom. Keempat, agar warga Muhammadiyah memanfaatkan dakwah menggunakan teknologi informasi.

“Banyak contoh cara ibadah Islam diambil dari cara ibadah kaum terdahulu yang di-Islamkan, termasuk cara salat, puasa bahkan ibadah haji. Muhammadiyah perlu sedikit agak rileks, tidak alergi pada budaya,” ujar Din Syamsuddin ketika menutup Seminar dan Lokakarya Nasional (Semloknas) Dakwah Kultural di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), belum lama ini.

Semloknas yang digelar Lembaga Kebudayaan UMM itu mengambil tema Dakwah Kultural menuju Masyarakat Islam. Menurut Din, Muhammadiyah harus lebih akrab dengan budaya yang ada dalam masyarakat sebelum budaya itu diambil oleh orang lain.

Muhammadiyah, katanya, dikenal memiliki aktualisasi teologi yang terlampau keras, karena ketegasan pada semangat purifikasi. Hal ini berimplikasi pada nyaris ditolaknya seluruh unsur sinkretis di masyarakat.

“Memang, Muhammadiyah memiliki ketegasan ideologis, tetapi dakwah kultural harus memperhatikan sasaran, audiensnya, jangan sampai terjadi penolakan yang justru kontra produktif pada tujuan dakwah,” kata Din dengan mengutip sebuah hadits tentang pentingnya menyesuaikan tingkat pemahaman (kemampuan akal) masyarakat.

Din lebih lanjut mengemukakan, mendengar musik rap, misalnya, adalah budaya pop yang akrab dengan anak muda dan itu tidak perlu dijauhi alih-alih dibuat syair (isi)-nya yang mengandung dakwah yang menggugah.

“Selain itu pemanfaatan media mainstream maupun media sosial sangat penting untuk menjangkau kalangan masyarakat modern saat ini. “Kita memiliki konten yang sangat bagus, tetapi tidak pandai mengemasnya di media, sementara orang mengemas sangat bagus hal-hal yang sifatnya tidak penting lewat media massa melalui hiburan-hiburan,” tutur Din mencontohkan tayangan televisi yang sangat cepat direspons para pemirsanya.

Semlok yang dibuka Rektor UMM, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP ini dimaksudkan untuk mendorong tumbuh kembangnya seni-budaya di kampus ini melalui berbagai cara. Salah satunya melalui pertunjukan-pertunjukan yang digelar baik oleh even organizer yang ada di bawah UPT UMM Dome maupun Lembaga Kebudayaan.

Khazanah budaya Islam yang kental diharapkan tumbuh sehingga warna karakter kampus ini semakin kuat. Namun dalam resume hasil Semloknas dipaparkan antara lain tentang problematika dakwah kultural yang masih belum diimplementasikan secara masif.

Sementara itu, menurut Ketua LK UMM, Dr Tri Sulistyoningsih, Muhammadiyah perlu melakukan kampanye dan kegiatan seni budaya dan olahraga secara lebih giat lagi.

“Warga Muhammadiyah harus menyadari pentingnya seni budaya dan olah raga sebagai sarana dakwah syiar yang efektif,” katanya.

LK UMM sudah menggencarkan pergelaran berbagai pertunjukan budaya bernuansa dakwah. Dalam Semloknas itu menampilkan beberapa tokoh sebagai nasasumber, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah Sukriyanto AR, MHum, Prof Dr Munir Mulkhan, Dr M Damami Dr M Nurhakim, dan Bupati Bojonegoro Suyoto yang juga Ketua DPW PAN Jatim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.