oleh

Di Hari Peringatan Kemerdekaan Muslim Syiah Sampang Belum Merdeka

Syiah Sampang Semoga Ini Ramadhan Terakhir di Pengungsian

Satu Islam, Sidoarjo – Bagaimana perasaan muslim Syiah Sampang yang kini tinggal di pengungsian saat bangsa ini merayakan HUT Kemerdekaannya ke-71? Sungguh ironi memang tatkala sebagian besar bangsa ini merayakan ulang tahun kemerdekaanya, tetapi muslim Syiah Sampang malah tidak merdeka.

Setidaknya hal itulah yang terungkap dari pernyataan Pemimpin Syiah Sampang, Madura, Iklil al-Milal. Belum merdekanya muslim Syiah Sampang lantaran mereka masih mengalami diskriminasi karena tinggal di tempat pengungsian dan tidak dibolehkan kembali ke kampung halamannya.

“Makna kemerdekaan hakiki adalah tidak ada diskriminasi kelompok mayoritas atas kelompok minoritas,” kata Iklil di tempat pengungsian di Rumah Susun Puspa Agro, Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, 17 Agustus 2016 sebagaimana dikutip dari Tempo.co. (Baca: Anak Bangsa Meminta Pemerintah Tindak Tegas Pelaku Diskriminasi Minoritas)

Ia meminta pemerintah memulangkan muslim Syiah Sampang ke kampung halamannya disertai jaminan keamanan jiwa maupun harta benda. Menurutnya, jika pemerintah tidak menjamin keamanan mereka, akan menjadi preseden buruk bagi kemerdekaan anak bangsa. (Baca: Untuk Soal Kebebasan Beragama, Masih Banyak PR Belum Dikerjakan)

“Selama ini kami tidak memperoleh hak untuk hidup di desa kami sendiri,” ujarnya.

Untuk itu ia dan muslim Syiah Sampang lainnya akan terus berjuang agar mereka yang kini di pengungsian bisa kembali ke kampung halamannya menikmati alam kemerdekaan.

“Kami tidak ingin ada warga lain diusir dari kampungnya sendiri seperti yang sudah kami alami,” katanya.

Meski pemerintah telah memberikan uang jaminan hidup per bulan sebesar Rp 700 ribu per jiwa, tapi menurutnya nilai itu tak sebanding dengan penderitaan psikis yang dialami di pengungsian berupa tidak merdekanya mereka.

Iklil mengisahkan penyerangan atas muslim Syiah Sampang empat tahun silam yang menewaskan satu warga dan merusak puluhan rumah warga Syiah. Menurutnya, penyerangan itu tersebut bukan karena masalah beda paham keagamaan antara kelompok Sunni dan Syiah. Namun, di balik itu semua, kata dia, ada kepentingan oknum pemerintah dan sekelompok warga yang tidak bertanggung jawab.

Sebanyak 332 pengungsi Syiah Sampang tinggal di pengungsian sejak Agustus 2012 setelah kampungnya diserang dan dibakar warga Sunni. Sebanyak 20 rumah dibakar di wilayah perbukitan di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben; dan Dusun Gading Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang. (Baca: Kronologi Tragedi Kemanusiaan Syiah Sampang)

Para penyerang juga membakar ternak, tembakau di gudang, bambu, dan hutan akasia milik orang Syiah. Mochammad Kosim alias Abu Hamamah tewas di lokasi ketika serangan berlangsung. Sejumlah orang menderita luka bacokan dan lemparan benda keras.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed