oleh

Demo Berdarah di Irak dan Campur Tangan Amerika

Konflik memang sudah bukan barang baru di Irak. Tapi demonstrasi yang memicu bentrok aparat dengan massa sudah berlangsung enam hari belakangan merenggut lebih dari 100 jiwa dan ribuan orang luka.

Peristiwa demonstrasi besar-besaran di Ibu Kota Baghdad dan beberapa kota lain ini bisa dilacak hingga ke kabar seorang pejabat militer yang baru dipecat. Dia adalah Letnan Jenderal Abdulwahab al-Saadi. Saadi dikenal sebagai pejabat militer senior dari Divisi Kontra-terorisme Irak.

Pasukan kontra-terorisme kerap beroperasi dengan militer Amerika Serikat. Saadi adalah jenderal didikan AS dan dia diduga bisa menjadi pimpinan untuk menggulingkan pemerintahan Irak.

Akhir bulan lalu dia dipecat oleh Perdana Menteri Adil Abdul Mahdi dan ditempatkan di posisi belakang meja di Kementerian Pertahanan tanpa alasan jelas. Saadi mengatakan pemecatan dirinya yang kemudian ditempatkan di Kementerian Pertahanan adalah sebuah “penghinaan” dan “hukuman”.

Keputusan ini memicu kemarahan pendukung Saadi dan menerbitkan dugaan: pemerintah sedang menyingkirkan para pejabat militer yang dinilai bisa menjadi ancaman bagi pasukan paramiliter Irak Hashid al-Shaabi yang di dalamnya ada unsur dukungan Iran. Seorang pejabat Irak yang menolak diketahui identitasnya mengatakan kubu pro-Iran di dalam militer Irak melobi Mahdi untuk memecat Saadi.

Dalam beberapa bulan terakhir ada rumor yang menyebut AS sedang merencanakan kudeta di Irak.

Pemimpin Syiah di Irak Qays Khaz’ali yang 12 tahun lalu memerangi AS dan Inggris dalam perang Irak, dua bulan lalu mengatakan, ada rencana penggulingan pemerintahan pada November mendatang yang dimulai dengan demonstrasi spontan tapi sebetulnya dirancang oleh sejumlah pihak di Irak.

Para pendukung Saadi melancarkan protes di Twitter dengan menggalang tagar “Kami adalah Abdulwahab Al-Saadi”.

Saadi kerap menolak keterlibatan milisi Iran dalam operasi militer yang dipimpinnya. Saadi yang menjalani pelatihan militer di AS dan menolak keterlibatan Iran di negaranya dipandang sebagai orangnya Washington di militer Irak.

Selama enam hari demo di seantero Irak, ada alasan memang massa yang didominasi kaum muda turun ke jalan. Mereka menuntut lapangan kerja, pemerintahan lemah dan banyak yang korupsi. Pasokan listrik dan air juga bermasalah. Tapi semua itu bukan alasan demo ricuh menjadi ajang kekerasan.

Demonstran membenarkan mereka melihat para penembak jitu di atas bangunan. Mereka menyasar para demonstran yang mendekat ke Lapangan Tahrir. Seorang pemuda tewas ditembak penembak jitu. Ada bukti foto memperlihatkan kejadian itu. Demo ini pada akhirnya adalah konflik kepentingan antara AS dan Iran.

Keputusan Mahdi baru-baru ini membuat dia tidak disukai AS. Mahdi menyatakan Israel bertanggung jawab atas kerusakan lima gudang senjata militer Irak dan tewasnya seorang komandan militer Irak di perbatasan Irak-Suriah. Mahdi juga membuka jalur al-Qaim di antara Irak dan Suriah yang membuat pejabat di Kedutaan AS di Baghdad keberatan. Mahdi juga mengungkapkan keinginannya membeli senjata anti serangan udara S-400 dan perlengkapan militer lain dari Rusia.

Tak hanya itu Mahdi juga sepakat dengan China untuk membangun infrastruktur di Irak dengan imbalan minyak dan menyetujui kesepakatan listrik sebesar USD 284 juta kepada perusahaan Jerman, bukannya perusahaan AS. Mahdi juga hingga kini masih membeli listrik dari Iran dan menjalin perdagangan dengan Negeri Mullah, mengabaikan sanksi AS terhadap Iran. [olah data MERDEKA]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed