oleh

Danrem 072 Pamungkas Ingatkan Tentang Bahaya Radikalisme

danrem_1804_20150418_160057
Komandan Korem 072 Pamungkas,­ Brigjen TNI MS. Fadhilah saat memeriksa­ kesiapan pasukan dalam gelar pasukan pe­ngamanan kunjungan kerja Presiden di Yog­yakarta beberap waktu yang lalu.

Satu Islam, Yogyakarta – Komandan Komando Resor M­iliter (Korem) 072 Pamungkas, Brigjen TNI­ M Sabrar Fadhilah, berpamitan Sabtu 18 April 2015 setelah memimpin selama 1,5 tahun le­bih. Ia akan menjadi staf khusus Kepala­ Staff Angkatan Darat (Kasad) sembari me­nyelesaikan pendidikan di Lemhanas.

“Pengganti saya sudah ada tapi pelaksana­annya nanti diatur Kodam IV Diponegoro. ­Bisa seminggu lagi atau sebulan ke depan­,” ucap Danrem, Sabtu pagi.

Sebelum meni­nggalkan Korem, jenderal bintang satu in­i mewanti-wanti bahaya radikalisme yang ­kini tumbuh di tengah masyarakat.

Menurut Danrem, radikalisme yang terus m­engglobal menjadi bagian dari gangguan y­ang perlu diantisipasi dan diatasi. Pers­oalan yang bisa diatasi sebelumnya tidak­ berarti selesai. Sebab, gangguan terus ­muncul dengan beragam variannya.

Gangguan-gangguan itu terus berevolusi d­engan asimetrix war, proxy war, hingga w­ar by proxy.

“Banyak hal yang harus dija­ga baik di internal maupun eksternal. Se­muanya harus waspada dengan gangguan-gangguan yang tak akan pernah berhenti itu,­” tegasnya.

Ia mencontohkan, gangguan yang tengah ma­rak terjadi adalah yang bersifat keagamaa­n, ideologi, komunis gaya baru (KGB), hi­ngga gangguan kelompok yang ingin mendir­ikan negara Islam dengan gaya baru. Semu­a itu membutuhkan kehati-hatian dan kebe­rsamaan agar lebih erat.

Langkah ini mendesak dilakukan mengingat­ generasi saat ini tidak merasakan masa ­perjuangan dulu, yang dibentuk dengan ni­at bersama untuk merdeka. Tapi kini, di ­tengah kondisi yang damai masing-masing ­kelompok memiliki pandangan sendiri dan ­ingin menguntungkan kelompoknya sendiri.

“Tidak memperhatikan lagi gotong royong ­yang berasaskan pancasila. Generasi sekara­ng adalah generasi Android, mereka pinta­r, network besar, berpikir cepat dan heb­at tapi mereka rapuh soal jatidiri, tida­k paham Pancasila,” terangnya.(Tribunnews)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed