oleh

CINTA ANTARA KECEWA DAN BAHAGIA

Mencintai bukan tak harus memiliki. Mencintai memang tak membuat yang dicinta menjadi milik pecinta.

Dalam kasus cinta, “memiliki” kerap dipahami sebagai mengunci hati yang dicintai atau dipahami sebagai kehendak mengawininya.

Mencintai adalah aksi yang didorong oleh kebutuhan emosional yang sering dipahami sebagai kebutuhan biologis dan sosial.

Mencintai adalah aksi sepihak. Yang dicintai tak selalu meresponnya dengan cinta atau membalasnya dengan kadar cinta yang sama.

Pada dasarnya, bila “memiliki” berarti “menguasai”, manusia tak bisa memiliki apapun, termasuk dirinya sendiri.

Dalam perspektif teologi, manusia tak punya hak menguasai sesama.

Karena memahami “mencintai” sebagai hak memiliki, banyak orang kecewa saat tak berhasil memiliki yang dicintainya.

Banyak juga yang kecewa karena mengira balasan cinta yang diperolehnya sebagai kesediaan dimiliki, padahal saling mencintai adalah mutualisme kebutuhan emosional.

Istri bukan milik suami dan sebaliknya. Anak bukan milik orangtua dan sebaliknya. Rakyat bukan milik pemipin negara dan sebaliknya

Atribusi kepemilikan dalam kehidupan manusia dan makhluk lainnya adalah konvensi semata.

Cinta kepada sesama adalah karunia bila dirawat dengan kesadaran teologis bahwa cinta sejati adalah lebur dalam DIA.

Mencintainya adalah masalah hati. Mengikatnya adalah masalah norma hukum dan agama.

Bebaskan dirimu dari doktrin ngawur tentang cinta. Bebeskan dirimu dari Syirik dalam “mencintai” agar tak kecewa dan trauma.

Kecewa adalah akibat pasti dari glorifikasi cinta dan memaknainya sebagai kepemilikan.

Tak cinta? Bisa menderita tapi pasti tak kecewa.
Cinta? Pasti bahagia tapi bisa kecewa.

loading…


News Feed