Home / Opini / Cara Pandang Salafisme punya kemiripan dengan Filsafat Positivisme. Ada Apa?

Cara Pandang Salafisme punya kemiripan dengan Filsafat Positivisme. Ada Apa?

Satu Islam, Jakarta – Salafisme menawarkan sebuah gambaran tentang Islam yangg cukup digdaya: Islam sebagai doktrin objektif yang tidak hanya benar, tetapi juga simple, gamblang, koheren dan mudah diakses.

Tetapi Islam juga terbangun di atas basis tradisi tekstual yang komplekls, penuh kontestasi dan kontradiksi dalam perkembangannya selama berabad-abad. Tentu hal yang lazim. Lalu dari mana datangnya pencitraan Islam sebagai doktrin objektif, simple, dan gambalng tersebut?

 

Citra Islam yang dibangun dan ditawarkan oleh Salafisme ini sepertinya lebih banyak kemiripan dengan tradisi dan gerakan intelektual positivisme yang pernah berkembang di Eropa abad ke 19 dan 20,dan kemudian menjalar ke tempat lain.

Ada 3 asumsi positivisme : 1. ilmu hanya valid jika berdasarkan pengalaman. Statement dan ujaran yg tak berbasis pengalaman tidak valid.

Asumsi 2: ilmu pada hakikatnya nominalistik. Ilmu hanya menawarkan generalisasi dan abstraksi yg berangkat dari fakta dan data empiris. Ilmu tidak menambah konten dan substansi fakta atau data.

Asumsi 3: penilaiaan dan statemen-statemen normatif tidak memiliki substansi empiris, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai ilmu.

Dari 3 asumsi tadi, dapat dipahami bahwa kepentingan positivisme sebagai sebuah tradisi filsafat adalah untuk (1) menjaga pengumpulan data tanpa mediasi dan pengaruh ekspektasi normatif dan bias teoritis, dan (2) menawarkan teori yang empiris dan universal.

 

Kendati pernah dominan, positivisme sudah didiskreditkan dan tak lagi diikuti di akademi-akademi ilmu penegetahuan sejak tahun 70an. Karya Thomas Kuhn misalnya, ttg struktur revolusi ilmu pengetahuan, salah satu karya yang melemahkan tradisi positivisme

Namun demikian, asumsi positivisme dan cara berpikir positivis masih tetap dominan di luar akademi dalam bentuk “common sense” dan adagium dangkal yg kerap kita dengar dalam percakapan, atau kita baca dlm textbook dan buku2 sains populer. Misal: “ilmuwan harus objektif”

Ada aestetika dan atraksi tersendiri dari positivisme yang menyebabkan aliran filsafat ini tetap populer di kalangan masyarakat terdidik. Sepertinya ia menawarkan sebuah model ilmu objektif yang terbebas dari kekangan ideologi dan opini personal.

Aestetika dan atraksi inilah yang sepertinya juga ada dalam cara pandang salafisme tentang Islam. Salafisme menawarkan pendekatan kepada Islam yang sangat menekankan sentralitas observasi empiris.

Dalam tradisi salafisme agama harus berbasis pada data empiris (Qur’an, Hadith). Tanpa basis tersebut, sebuah statement hanya menjadi sekedar opini dan spekulasi, bukan ilmu.

Al-Qur’an dan Hadith, dari sudut pandang salafisme dapat didekati apa adanya, dapat dibaca secara gamblang, dan maknanya diakses, tanpa memerlukan pelbagai mediasi. Siapa saja bisa mengaksesnya.

 

Ini tentu kontradiktif, karena seperti kita tahu, banyak kaum salafisme membaca al-Qur’an dan Hadith dari terjemahan. Bukankah terjemahan itu juga mediasi? Jikalau mambaca teks aslinya, kan jg butuh ilmu linguistik. Salafisme dan Positivisme adalah keduanya menganut pendekatan nominalistik terhadap ilmu. Ilmu berbasis pada fakta. Ilmu hanya menjabarkan dan mengeneralisir ajaran Islam yang sudah sepenuhnya terkandung dalam data primer (Qur’an, hadith)

Ilmu tidak boleh menambah sesuatu yang substantif pada data. Ilmu ulama hanya menjabarkan, tidak ada penambahan apa-apa (walaupun yg baik-baik dan positif), karena setiap penambahan akan merusak kualitas ilmu. Sebuah bid’ah dholalah!

Kemiripan terakhir: kendati ilmu agama secara esensial bersifat normatif, tetapi kaum salafisme sepertinya membedakan antara ilmu yg hakiki (dan normatif), dan penilaiaan serta opini-opini  yang kendati normatif dan baik, tidak dianggap sebagai ilmu.

Dengan kata lain, seorang ulama bisa saja memberikan wejangan-wejangan  yangg baik dan mengajarkan ajaran yangg luhur. Tetapi, selama wejangan dan ajaran tersebut tidak berbasis pada data empiris (dalam hal ini Qur’an, sunnah) maka tidak dapat disifati sebagai ilmu.

Sebagai penutup: Saya tidak mengatakan bahwa Salafisme dipengaruhi oleh Positivisme. Hanya ada kemiripan antara keduanya dalam asumsi-asumsi  epistemologis.

 

Tentu dalam sejarahnya ada pertautan antara salafisme dan positivmse dalam ranah pergumulan imperialis seperti institusi pendidikan modern, kurikulim sains, birokrasi moderen. Namun pertalian keduanya lebih ambigu, kompleks, dan tidak stabil.

Yang jelas, seperti pendekatan positivisme terhadap ilmu, tradisi salafisme menganggap bahwa sebuah agama yang valid adalah agama yang rasional. Asumsinya: agama lemah jika tidak rasional. Pertanyaannya, kenapa agama harus rasional? Sejak kapan agama harus rasional? Wallahu a’lam

Sumber: Ismail Fajri Alatas

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *