oleh

Camii Mosque, Masjid Terbesar di Jepang

081209_masjid1
Bagian dalam Camii Mosque (Putri/detikTravel)

 

 

Satu Islam, Tokyo – Sejuk, tenang dan rasa penuh damai menyelimuti seluruh hati jamaah yang datang. Pilar-pilar besar memberi kesan megah di antara bangunan yang mengisi suatu wilayah di Tokyo. Inilah Camii Mosque, masjid terbesar di Jepang.

Berkeliling di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Saat berjalan di Indonesia, tak sulit menemukan masjid karena negara ini memang mayoritas umat Muslim.

Berbeda dengan Jepang. Muslim yang minoritas di sana membuat masjid sulit ditemukan di sana. Saya pun penasaran dengan keberadaan masjid di Jepang.

Bermodalkan browsing di internet, akhirnya saya menemukan Camii Mosque. Masjid ini berada di Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo.

Untuk mencapainya, turis bisa memanfaatkan sarana transportasi kereta di Tokyo. Ya, untuk mencapai banyak tempat wisata, jalur kereta Tokyo memang sangat bisa diandalkan. Meski rutenya cukup rumit, dengan transportasi ini Anda bisa menjangkau banyak tempat.

Nah, turis yang ingin datang ke Camii Mosque, bisa turun di Stasiun Yoyogi Uehara. Kebetulan, saya berangkat dari Stasiun Harajuku. Lokasinya tak begitu jauh dari Yoyogi Uehara.

Dengan alasan ingin menikmati suasana, saya pun menuju Camii Mosque dengan jalan kaki. Setelah melewati 2 stasiun, akhirnya saya tiba di Camii Mosque. Posisinya tak jauh dari Stasiun Yoyogi Uehara.

Dari kejauhan tampak jelas kubah besar. Menara tinggi juga menjadi pertanda jelas bagi traveler yang mencari Camii Mosque seperti saya.

Namun apa yang tampak di hadapan berbeda dengan apa yang ada di bayangan saya. Awalnya, benak ini membayangkan sebuah masjid berukuran besar dengan halaman yang luas. Terlebih mengingat informasi yang didapat kalau Camii Mosque merupakan masjid terbesar di Jepang.

Nyatanya, yang ada di hadapan adalah masjid kecil yang terdesak di antara bangunan padat di Tokyo. Letaknya bersebelahan bahkan nyaris dempet dengan bangunan kanan-kirinya. Bangunan yang dilapis ubin marmer mendominasi masjid.

Alih-alih memiliki halaman luas, pagar saja tak ada sebagai pembatas antara masjid dan jalanan di luar. Sesaat, saya bingung menemukan jalan menuju ruang salat. Sebuah pintu terbuka di bagian depan masjid. Namun ternyata pintu ini menghubungkan wisatawan untuk masuk ke ruang seperti perpustakaan masjid.

Berjalan ke samping masjid, sebuah tangga tampak menghubungkan bagian bawah masjid dengan atas. Perlahan, saya melangkahkan kaki menapaki tangga.

Benar saja, tangga ini mengantarkan wisatawan menuju ruang salat. Masuk ke dalam, ruang salat terbagi dua lantai yakni lantai atas dan bawah. Khusus untuk wanita yang tak mengenakan pakaian muslim, sebelum masuk ke dalam masjid disediakan jilbab untuk dikenakan.

Lantai bawah ditujukan sebagai tempat salat pria, sedangkan lantai atas ditujukan untuk tempat salat wanita. Untuk wudu, turis bisa datang ke ruangan yang ada di bagian bawah.

Melihat sekeliling, ternyata masjid ini merupakan masjid Turki. Tak heran, desain masjid mirip seperti masjid atau camii yang ada di Turki.

Berbagai interior bernuansa Turki juga mengisi masjid. Bahkan, Al Quran di dalam masjid juga berasal dari Turki, terlihat dari keterangan tempat pembuatan dan bahasa yang digunakan pada terjemahan Al Quran.

Tak terasa waktu salat akhirnya tiba. Berjamaah, saya ikut dalam deretan shaf salat. Pria asal Turki tampak menjadi imam salat, lengkap menggunakan gamis besar.

Karena menjadi satu-satunya masjid di wilayah ini, jamaah yang salat tak hanya orang Jepang. Jamaah yang ikut dalam salat beragam, ada yang dari Timur Tengah, Indonesia, atau bahkan Jepang.

Rasa tenang pun langsung mengisi seluruh lerung hati usai salat di sana. Beratapkan langit gelap Tokyo, saya melangkahkan kaki menuju Stasiun Yoyogi Uehara. Pulang ke hotel pun tak pernah setenang ini.(Detik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed