oleh

Bentrokan Pecah di Universitas Al Azhar Kairo

Dok : AFP
Dok : AFP

Satu Islam,Kairo – Sejumlah kendaraan lapis baja pasukan antihuru-hara Mesir yang dibantu satuan militer, Jumat (27/12), mendobrak kompleks asrama mahasiswa Universitas Al-Azhar di Distrik Nasr City, Kairo, untuk membubarkan aksi unjuk rasa mahasiswa. Bentrokan pun pecah.

Dikutip dari situs berita KOMPAS, Aparat keamanan menggunakan gas air mata secara masif dan peluru karet untuk memukul mundur ratusan mahasiswa yang terus mencoba melawan. Ketika berita ini ditulis, Jumat(27/12) siang waktu Kairo, suasana di kompleks asrama Universitas Al- Azhar bagaikan perang kota. Asap pekat dari tembakan gas air mata menyelimuti langit di atas kompleks asrama.

Seorang mahasiswa asal Indonesia, Umam Maksum, yang tinggal sekitar 1 kilometer dari kompleks asrama tersebut, menuturkan, bau asap gas air mata bahkan tercium hingga ke rumahnya. Demikian lebih lanjut ditulis dalam situs tersebut.

Sebelumnya, pada Kamis(26/12) malam, seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka dalam bentrok dengan aparat keamanan dan sejumlah warga setempat di sekitar kompleks asrama universitas Islam tertua di dunia itu. Aparat keamanan mengklaim telah menangkap sedikitnya tujuh mahasiswa Al-Azhar pada Kamis lalu.

Gerakan spontan

Para mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Mesir sejak Kamis(26/12) secara spontan berunjuk rasa menolak keputusan Pemerintah sementara Mesir dukungan militer menetapkan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi teroris.

Selain di Al-Azhar, bentrok sengit juga pecah antara mahasiswa Universitas Zagazig, yang terletak sekitar 100 km arah timur Kairo, dan aparat keamanan sepanjang Kamis(26/12). Aparat menyatakan telah menangkap sembilan mahasiswa Universitas Zagazig itu.

Sementara itu, aparat terus memburu dan menangkapi para aktivis IM dan kekuatan politik pendukungnya di seantero Mesir. Aparat keamanan mengklaim telah menangkap 22 anggota IM di Provinsi al-Gharbiyah, arah barat kota Kairo.

Dilanisir juga dari situs berita Agence France Presse (AFP) melaporkan, polisi Mesir mengklaim telah menangkap sedikitnya 148 pengunjuk rasa pro-Islamis di sejumlah kota di Mesir, Jumat. Sementara kantor berita Reuters menyebutkan, satu orang tewas dalam bentrokan antara para pendukung IM dan polisi di Provinsi Minya, Mesir selatan.

Hal itu memicu kecemasan publik Mesir terkait memburuknya situasi keamanan di negara itu. Jalan-jalan utama di Kairo pada Kamis(26/12) terlihat lebih sepi pasca aksi pengeboman di kota Mansoura pada Selasa(24/12) dini hari dan di Distrik Nasr City pada Kamis(26/12) pagi.

Lalu lintas kendaraan pada Kamis(26/12) yang merupakan akhir pekan di Mesir biasanya lebih padat dan macet dibandingkan dengan hari lainnya.

Jumat kemarin merupakan uji coba sejauh mana ancaman pemerintah menghukum para pengunjuk rasa dengan hukuman penjara selama lima tahun hingga hukuman mati akan efektif. Ancaman pemerintah itu dikeluarkan setelah pemerintah menetapkan IM sebagai organisasi teroris.

Mahasiswa Indonesia

Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir Amrizal Batubara mengatakan, pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir, yang sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar, sejauh ini dalam keadaan aman saja.

Amrizal mengatakan, PPMI akan menghubungi pihak keamanan nasional Mesir untuk meminta jaminan keamanan bagi para WNI di Mesir yang sebagian besar adalah mahasiswa.

Ia juga menyampaikan, PPMI akan segera mengeluarkan pengumuman untuk mengimbau seluruh WNI di Mesir agar tak mendekati tempat-tempat unjuk rasa dan tak keluar rumah untuk sementara, kecuali ada kepentingan mendesak.

Perkumpulan mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar asal Indonesia mengusulkan agar tempat ujian semester ganjil bagi mahasiswa Indonesia, yang akan dimulai pekan ini, dipindah ke tempat yang lebih aman.

Selama ini, para mahasiswa jurusan non-agama menempuh ujian di kompleks Al-Azhar di Distrik Nasr City yang saat ini sedang menjadi ajang bentrok.

Saat ini tercatat ada sekitar 4.200 WNI yang tinggal di Mesir. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa Universitas Al-Azhar.(ZM)

Sumber : KOMPAS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed