oleh

Benarkah Ada Koneksi Antara Blues dan Islam?

benarkah-ada-koneksi-antara-blues-dan-i-791fad
Sejarawan Sylviane Diouf, percaya bahwa musik blues berkaitan dengan Islam – Foto: amazonaws.com

Satu Islam, Virginia – Blues, musik tradisional asal Amerika Serikat yang berkembang pada zaman perbudakan kulit hitam, ternyata masih memiliki hubungan dengan agama Islam. Meskipun masih diperdebatkan oleh para ahli, ada baiknya kita mendalami kaitan-kaitan yang terjadi dalam masalah ini.

Perbudakan di Amerika pertama dimulai pembelian budak asal Afrika di Amerika Utara, Virginia, pada tahun 1619. Penjualan perbudakan terus berlanjut, hampir dari seluruh negara bagian di Afrika diambil untuk dijadikan budak di ladang-ladang tembakau milik tuan tanah di Amerika. Lebih dari 30% di antaranya adalah orang-orang asal Muslim.

Gerhard Kubik, seorang profesor etnomusikologi di Universitas of Vienna, percaya bahwa banyak musisi blues masa kini menggunakan nada, vibrasi dan cengkok-cengkok Arab-Afrika yang apa pada bahasa sehari-hari yang digunakan oleh para budak-budak asal Afrika Barat di Amerika. Ada juga yang mengatakan bahwa cengkok dari blues memang mirip suara kaum Muslim saat adan. Kubik menulis dalam bukunya AFRICA AND THE BLUES bahwa “Gaya vokal dari banyak penyanyi blues menggunakan melisma (melodi), gelombang intonasi dan sebagian warisan budaya dari hampir seluruh wilayah Afrika Barat yang punya kontak langsung dengan dunia Arab-Islam Maghreb sejak abad ketujuh dan kedelapan.”

Levee Hover Camp salah satu lagu blues yang menjadi awal pergerakan blues ditemukan mirip dengan suara para muslim ketika membaca kitab mereka. Sylviane Diouf, sejarawan asal Amerika di bukunya Serbant Of Allah mengatakan hal tersebut. Dalam suatu talkshow, karena audiens merasa ragu dengan pernyataan Sylviane tersebut, dia memutarkan salah satu ayat dalam kitab kaum Muslim dan kemudian memutarkan lagu Levee Hover Camp. Penonton mulai menyadari, ada kesamaaan dalam dua lagu yang ia putarkan.

Orang-orang Amerika berpikir bahwa blues ditemukan pada tahun 1890an dan awal 1900an di Louisiana, Mississipi dan Alabama, Amerika Selatan. Memang pada awalnya banyak sekali pertunjukan blues di daerah tersebut.

Penampil blues yang pertama tidak dapat dibuktikan bahwa itu adalah orang-orang Afrika Barat atau bukan. Jika kita melihat kembali sejarah perbudakan di Amerika, ruang gerak para budak sangat dibatasi. Mereka tidak boleh berkumpul antara budak, sehingga musik yang mereka temukan langsung berada dalam kendali penuh orang kulit putih sebagai tuan mereka. Tanpa adanya persetujuan sang tuan, mereka tak diperbolehkan memainkan apapun.

Setelah mendapatkan persetujuan dari tuan-tuan mereka, para budak ini dapat memainkan blues secara bersamaan dengan pengawasan orang kulit putih. Bukan hanya orang hitam,tetapi orang kulit putih pun ikut meramaikan, mereka memainkan musik secara bersama-sama.

Dalam perkembangannya blues mengalami perbuahan dari tahun ke tahun. Musik blues juga menjadi akar hampir segala jenis musik yang ada saat ini. Musisi-musisi besar seperti Robert Johnson, B.B King, Muddy Waters adalah legenda blues yang pernah ada di dunia. Banyak juga orang berkulit putih yang memainkan blues seperti Stevie Ray Vaughan, Eric Clapton, John Mayer.

Memang kebenaran tentang kaitan-kaitan blues dengan Islam masih dalam perbincangan para ahli. Tentu sah-sah saja apa yang mereka perdebatkan. Yang tidak boleh kan mengakui atau mengambil karya orang lain kan? Bukan begitu?(Kapanlagi.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed