oleh

Belajar Harmonisasi Islam dari China

Satu Islam, Jakarta – Carilah ilmu hingga ke Negeri China. Pepatah ini tidaklah salah. Banyak hal yang bisa dipelajari dari China, termasuk perkembangan Islam di negeri tirai bambu tersebut.

Pengurus Dewan Masjid Indonesia Heri Sucipto dan rombongan, baru saja melakukan kunjungan ke China selama sepekan lebih. Di sana, ia mengenal banyak hal mulai dari kultur hingga perkembangan Islam di China.

“Saya berkunjung ke Masjid Xiao Tao Yuan di Kota Shanghai Jumat pekan lalu. Saya salat Jumat di sana dan bertemu dengan imam masjid Syekh Chien Musa,” ujar Heri kepada detikcom, Rabu 29 Maret 2017

Menurut Heri, umat muslim di China sangat harmoni dalam menjalani kehidupan antarumat beragama. Muslim menjadi minoritas di China, tetapi kegiatan ibadah di sana tidak pernah mendapat gangguan dari pihak manapun.

Hingga kini, sedikitnya ada 40 ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah China. Bahkan, hingga kini masih ada pembangunan masjid-masjid baru di daratan China.

“Masyarakat Islam setempat secara swadya melakukan pembangunan masjid-masjid tersebut,” ungkapnya.

Berbeda dengan Indonesia, di China tidak memiliki dewan masjid. Semua urusan masalah Islam di China ditangani oleh Asosiasi Islam di negeri itu.

“Adapun khusus dalam hal pengurusan masjid, semuanya menjadi tanggung jawab dewan pengurus masjid masing-masing, atau semacam Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Indonesia,” lanjutnya.

Di Shanghai sendiri jumlah umat Islam berkisar 140 ribu muslim, dan 100 ribu muslim yang tidak tinggal tetap di sana. Sementara total jumlah penduduk kota Shanghai ada 26 juta, di mana kota ini menjadi kota metropolitan dan bisnis terbesar dan termodern di China.

“Meski dalam hal kehidupan keagamaan, termasuk Islam, pemerintah China membantu baik fasilitas dan pendanaan, mereka tetap menerima sumbangan untuk pembangunan masjid dari pengurus masjid lain maupun masyarakat umum,” paparnya.

Namun mengenai pembangunan dan perbaikan masjid di sana, tetap menjadi urusan sendiri umat Islam. Seperti halnya di Indonesia, masjid di sana juga mengelola dana zakat, infak dan sedekah.

“Dana itu diperuntukkan untuk pemberdayaan masjid dan umat Islam,” ucapnya.

Sebagai upaya untuk menyambung tali silaturahmi di kalangan umat Islam di China, Imam Musa kerap melakukan kunjungan ke masjid-masjid di wilayah Shanghai dan sekitarnya. Dalam perbincangan dengan imam masjid, menurut Heri, masyarakat Muslim sangat bersyukur karena Islam di China berkembang bebas.

Budaya Lokal

Imam masjid menggabungkan budaya lokal dalam pelaksanaan ibadah. Salah satunya dalam penyampaian khotbah, selain menggunakan bahasa Arab, juga menggunakan bahasa mandarin.

“Soal perkembangan Islam di China, tidak sedikit orang China yang masuk Islam lantaran pernikahan,” tuturnya.

Untuk memakmurkan masjid, terdapat ruangan khusus untuk mempelajari Islam di masjid tersebut. Ruangan tersebut berada di lantai dua yang berisi museum perjalanan Islam di China.

Di museum tersebut terdapat sejumlah kitab kuno yang sudah diterjemahkan dan Alquran sumbangan dari sejumlah umat Islam negara lain yang telah mengunjungi. “Sayang, di sana belum ada Alquran dari sumbangan umat Islam Indonesia,” tuturnya.

“Beberapa masjid yang saya kunjungi, semuanya menyediakan fasilitas meja dan kursi untuk Shalat bagi usia lanjut. Selain itu, masjid yang bersih dan rapi, juga terdapat alat CCTV di setiap sudutnya,” lanjutnya.

Melihat China yang berkembang menjelma menjadi negara maju, juga Islam di dalamnya yang cukup baik dan berkembang dengan kebebasan menjalankan ibadah, patut mendapat dukungan dari umat Islam di belahan lainnya termasuk Indonesia.

Sinergi dan dialog di antara Muslim internasional, termasuk antara Muslim Indonesia dan China, diperlukan guna membantu membangun kesejahteraan, kemajuan dan perdamaian dunia. Seperti halnya dianjurkan oleh Islam, hikmah dan pengetahuan positif dari manapun datangnya, harus kita ambil.

“Dan yang tidak baik dan tidak sesuai dengan prinsip dan falsafah hidup bangsa kita, tentu kita tinggalkan. Dan di China, banyak hikmah yang patut kita ambil dan kembangkan,” pungkas Heri.

Sumber: detikcom

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed