oleh

Belajar Dari Kepiting

Satu Islam, Jakarta – Seorang teman yang kebetulan tinggal di Filipina bercerita pagi ini kepada saya tentang “Mental Kepiting.” Menurut beliau itu frasa yang umum digunakan disana untuk menunjuk tipe orang yang ‘susah melihat orang lain senang, dan senang melihat yang lain susah.’

Saya terdiam sejenak, dan memberanikan diri bertanya. Kenapa kepiting, Pak? Kenapa bukan mental tikus atau kodok misalnya?

Mendengar pertanyaan saya yang tampaknya ‘terlalu’ polos, beliau terkekeh di ujung sana dan bersiap untuk mencerahkan saya yang memang hobi bertanya (dibaca: bawel -Red.)

“Begini dek, kamu pernah melihat keranjang berisi kepiting atau ketam di pasar tradisional? Atau jangan-jangan malah tidak pernah karena menurutmu kepiting hanya ada di supermarket?”

Dari nada suaranya saya hampir yakin beliau sedang menahan simpul tawa di ujung senyumnya. Saya langsung menjawab, “Tentu saja pernah Pak. Saya dulu, duluuu sekali memang suka belanja kepiting langsung ke pasar. Malah kadang-kadang saya berburu ke pasar lelang hasil laut. Tapi sekarang mah iya, lebih sering belanja di supermarket karena lebih praktis dan tidak dalam jumlah banyak juga belinya.”

“Bagus kalau kamu pernah. Apa kamu pernah memperhatikan juga bagaimana pedagang itu menaruh kumpulan kepitingnya dalam keranjang? Sepasang capitnya kadang tidak perlu diikat. Cukup letakkan bergerombol saja dalam keranjang yang cekung. Kenapa? Karena kalau ada satu ekor kepiting yang hendak memanjat keluar, maka teman-temannya akan beramai-ramai menarik oknum ini. Supaya bergabung bersama dalam lembah penderitaan mereka. Misery loves company. Bahasa kekiniannya meratap bersama.”

Saya jadi terdiam. Dan merasa malu dengan kondisi masyarakat kontemporer ini. Terutama malu kepada diri saya sendiri. Ternyata mau diakui atau tidak, faktanya masih banyak yang bermental kepiting di sekitar kita. Yang ingin mencuri impian dan cita-cita kita. Yang kerap pesimis, mengejek, bahkan menertawakan keras-keras. Berulang kali mengatakan “hal itu” tidak mungkin terjadi, memang kamu siapa, jangan mimpi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sekarang, saya disadarkan ternyata pelajaran-pelajaran kehidupan itu bisa didapatkan darimana saja. Dalam wujud apa saja. Termasuk kepiting.

Saya teringat dulu di masa duduk di bangku sekolah. Kalau dimarahi ibu karena nilai ulangan saya hanya mendapat angka 7. Dengan bangganya saya langsung membela diri, “Bu, si A malah cuma dapat 5 lho.. . Masih pinteran saya dk, dan aripada dia kan.” Alhasil hukuman belajar dalam kamar 2 jam saya dapatkan, ditambah larangan menonton tv malamnya.

Bapak di ujung sana yang mendapati saya terdiam, sepertinya menjadi curiga dan bertanya lagi. “Dek, kenapa diam? Ada sesuatu yang salah?” Karena malu terpergok melamun sejenak, saya jawab asal aja “Saya takjub kok Bapak yang di Filipina sana bisa ngerti bahasa kekinian segala.. hahaha..”

Akhirnya pembicaraan itu pun ditutup. Terimakasih untuk secangkir tegukan teh yang manis ini di pagi hari ya, Pak. Syukron.

 

Oleh: Putri Intan hanya untuk pembaca satuislam.org

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed