oleh

Bahrain Eksekusi 2 Aktivis Syiah Meski Diprotes Organisasi HAM

Rezim di Bahrain telah mengeksekusi dua orang Syiah meskipun ada permintaan dari kelompok-kelompok HAM untuk menghentikan eksekusi mereka. Al-Wefaq, kelompok oposisi terkemuka, mengumumkan syahidnya Ali Mohamed Hakim al-Arab dan Ahmed Isa Ahmed Isa al-Malali, keduanya dinyatakan bersalah atas apa yang disebut tuduhan ‘teror’.

Malali dan Arab dinyatakan bersalah dalam persidangan massal yang melibatkan 60 orang pada Januari 2018. Keduanya telah ditolak semua kemungkinan naik banding di pengadilan.

Seruan menit terakhir untuk menghentikan eksekusi mereka yang segera dikeluarkan oleh pelapor khusus PBB tentang pembunuhan di luar proses hukum, Agnès Callamard.

Callamard mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa orang-orang itu diduga disiksa, dicegah menghadiri persidangan mereka dan dijatuhi hukuman mati tanpa kehadiran di pengadilan.

Direktur penelitian Timur Tengah Amnesty International, Lynn Maalouf, juga memperingatkan eksekusi itu adalah “pertunjukan penghinaan yang sangat memalukan bagi hak asasi manusia”.

“Hukuman mati itu adalah serangan yang menjijikkan pada hak untuk hidup dan hukuman yang paling kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat. Penggunaannya mengerikan dalam semua situasi, tetapi akan lebih mengejutkan ketika dikenakan setelah pengadilan yang tidak adil di mana para terdakwa disiksa untuk ‘mengaku’,” katanya.

Bahrain merupakan negara pulau yang berlokasi strategis, dengan pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS. Mayoritas penduduk Bahrain merupakan pemeluk Muslim Syiah, namun negara itu dipimpin oleh keluarga Sunni.

Kelompok-kelompok hak asasi internasional termasuk Amnesty International, Human Rights Watch, dan pakar hak asasi manusia AS mendesak Bahrain untuk menghentikan eksekusi dua aktivis tersebut pada Jumat (26/7), terkait dugaan pengakuan yang diperoleh melalui penyiksaan.

“Saat dalam tahanan, para pria itu disiksa oleh petugas keamanan termasuk melalui sengatan listrik dan pemukulan. Kuku kaki Ali Mohamed al-Arab juga dicabut,” kata Amnesty International dalam sebuah pernyataan. Pihak berwenang membantah tuduhan penyiksaan dan penindasan terhadap kelompok oposisi, dan mengklaim mereka melindungi keamanan nasional dari terorisme.

Kelompok aktivis hak asasi manusia yang bermarkas di London, Institut Hak-hak dan Demokrasi Bahrain (BIRD), mengatakan “eksekusi ini menandai salah satu hari paling gelap di Bahrain”.

“Tampaknya pemerintah Bahrain merencanakan ini dengan cermat, mengatur waktu eksekusi bertepatan dengan reses legislatif di Amerika Serikat, Uni Eropa dan Inggris, untuk menghindari pengawasan internasional,” kata Direktur BIRD Sayed Ahmed Alwadaei dalam sebuah pernyataan.

Di London pada Jumat malam, seorang pengunjuk rasa ditangkap karena masuk tanpa izin ke area diplomatik dan naik ke atap kedutaan Bahrain. Sebuah video yang di-posting di YouTube menunjukkan pria itu membentangkan spanduk yang menyerukan Perdana Menteri baru Inggris Boris Johnson untuk turun tangan menghentikan eksekusi. [PT/CNN]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed