oleh

AWAL YANG HILANG DAN KEBENARAN YANG BERSEMBUNYI

Oleh : Biiznillah

Sekitar 66 juta tahun lalu dengan kabar yang masih simpang siur. Sekelompok meteor yang terbakar panas dan terseret arus gravitasi, tumbang dari antariksa. Menghujani bumi dan mengakhiri era keemasan reptil-reptil raksasa. Langit bumi berpijar membawa angkara murka dari cakrawala. Meteor dengan lesatan melebihi kecepatan peluru menembus kerak bumi di teluk Meksiko. Mendorong inti terdalam bumi yang panas untuk bergetar dan merangsang efek tektonik di seluruh belahan bumi.  Pecahan-pecahan meteor yang tergerus atmosfir bumi berterbangan dilangit seperti anak panah bermata api.

Bumi bersimbah hujan debu beberapa bulan setelahnya. Tumbuhan-tumbuhan mati.  Lautan bergolak menghancurkan seluruh ekosistem tanpa terkecuali. Tiada lagi kehidupan. Semuanya kembali hening. Seluruh rantai makanan hancur  atau terjeda. Bumi mengalami fase paling nadir setelah trauma benturan ini. Namun lambat laun tiba-tiba sebuah kehidupan kembali muncul. Kematian satu generasi membuka gerbang kebangkitan ekologis lainnya. Panas ternyata tidak selalu berasosiasi kematian. Efek Hidrotermal benturan meteor membangkitkan sebuah kehidupan baru.

Sebuah mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan suhu tinggi mengemban mandaat alam semesta untuk melanjutkan kehidupan. Mengembara sebatang kara dibumi untuk berevolusi. Para saintis berpendapat bahwa benturan meteor jutaan tahun lalu justru merupakan awal dari rantai kausalitas yang memungkinkan untuk memunculkan spesies manusia. Tanpa benturan ini, kemungkinan sejarah Evolusi akan sangat berbeda. Mungkin saja, spesies manusia memiliki probabilitas kecil untuk muncul dalam daftar taksonomi makhluk hidup. Dengan kata lain, jika hujan meteor tidak terjadi, maka manusia tidak akan pernah ada. Sekarang mungkin kita kembali bertanya, darimanakah kita sebenarnya?.

Seluruh inskripsi kuno maupun tulisan-tulisan modern, baik yang berasal dari kalangan filosof maupun para ilmuwan selalu mendeskripsikan kehidupan yang terpusat pada kisah manusia. Para kritikus di zaman modern menimpali bahwa seluruh kebudayaan yang berkembang terlalu antroposentrik. Terlalu berpusat pada manusia dan terkesan mengabaikan eksistensi makhluk lain.

Tentu saja, tidak ada seorang idiot di muka bumi ini yang terpikir untuk menulis mengenai sejarah dinasti dinosaurus atau kura-kura. Tapi di abad pertengahan, persepsi ini berubah sejak ilmu biologi menulis tabel determinan mengenai animal kingdom  dan plantea kingdom yang berisi uraian mengenai taksonomi makhluk hidup. Tapi sekali lagi, sejarah mencatat bahwa ilmu pengetahuan ini seolah didikasikan kepada manusia, lantaran tak ada satupun hewan ataupun tumbuhan yang tertarik untuk mempelajarinya. Kedua entitas ini hanya peduli pada konsumsi, reproduksi dan respirasi. Entah manusia yang terlalu dominan, atau memang alam telah mengklasifikasikan tipe-tipe makhluk hidup sehingga dengan hadirnya manusia di atas bumi dapat diketahui siapa yang mengendalikan laju sejarah kehidupan di atasnya.

Pastinya, diantara seluruh peserta evolusi di alam semesta, salah satu spesies berhasil muncul kepermukaan dan bertahan hidup hingga saat ini. makhluk-makhluk berjalan tegak yang dengan fasih menatap bintang-bintang dimalam hari. Menulis jutaan naskah yang sebagian bertahan namun lapuk dan sebagian lagi musnah ditelan masa lalu. menjadi rahasia tak terungkap, ratusan ribu tahun lamanya.

Berdasarkan usia alam semesta yang dapat diprediksikan, umat manusia hadir kepermukaan alam semesta ini dengan sedikit  terlambat. Terjebak rangkaian evolusi untuk merangkai susunan genetik yang panjang untuk memiliki tubuh seperti saat ini.  Namun dengan segala kisah sedih keterlambatan ini, kita tetap berhasil muncul kepermukaan. Para paleantologis percaya bahwa dengan menemukan sisa-sisa kehidupan masa lampau, kita dapat menemukan fakta-fakta tentang  misteri keberadaan kita dan alam semesta. Sayangnya kemampuan riset mereka hanya mampu mencapai angka 11.700 tahun kebelakang. Akumulasi masa lalu yang tidak cukup tua untuk dibandingkan dengan usia alam semesta yang sebenarnya. Pengembaraan menuju awal kandas dengan cara ini.

Sebagaimana naskah-naskah yang lenyap, kisah awal pembentukan alam semesta juga terlewatkan dari kesaksian umat manusia. Dapat dipastikan, bahwa tak ada seorangpun manusia yang hadir saat kali pertama helium dan hidrogen melakukan fusi yang menyebabkan pendaran bersuhu tinggi berpilin dalam ruang dan waktu. Pemandangan dahsyat ini telah berlalu begitu jauh. Belum ada instrument yang memadai dari teknologi yang pernah diciptakan umat manusia saat ini untuk kembali kemasa itu.

Para filosof memiliki teori yang beragam, kenapa manusia dapat eksis dipermukaan alam semesta sebagai salah satu anggota kehidupan kosmik. Adalah Heraklitos yang memandang bahwa alam semesta sebagai entitas yang tidak memiliki awal dan akhir. Satu-satunya yang abadi adalah paradoksial yang bersifat permanen. Katanya, panta chorei kai ouden manei, “segala sesuatu mengalir, tak ada satupun yang abadi”. Kelak dikemudian hari, Descartes yang secara tidak sengaja pergi liburan ketaman hiburan melihat patung artemis bergerak maju mundur karena dorongan air di saluran pipa. Gagasan brilian muncul dalam fikiran Descartes, semua kejadian dialam semesta ini sangat mekanistis. Alam semesta bergerak hingga pada aspeknya yang paling elementer memunculkan semua fenomena. Entah bagaimana akhirnya semua kejadian berakumulasi membentuk kehidupan, termasuk manusia. Pendapat ini masih relevan hingga saat ini. setidaknya menggambarkan bagaimana alam semesta ini sebenarnya bekerja. Perubahan senantiasa terjadi. Mengantarkan sebagian makhluk kepada kehidupan, dan sebagian lagi menuju kematian. Jarak antara hidup dan mati begitu dekat. Para ilmuwan menemukan fakta bahwa keberagaman hayati yang eksis hingga hari ini di bumi ini adalah kumpulan dari triliunan sell-sell yang hidup yang kemudian hari ketika syarat-syarat alamiahnya mencukupi maka terjadilah melakukan evolusi. Namun semua gerak dan perubahan sebagaimana fikiran Heraklitos dan Descartes, hampir tidak menjawab semua pertanyaan mendasar umat manusia tentang dimanakah sang “awal” itu?

Sell, Makhluk hidup tak kasat mata ini berasal dari berpadunya kepingan-kepingan alam semesta yang mati. Disuatu ketika yang tak penting kapan tepatnya, sebuah kehidupan muncul dari kematian panjang yang membosankan. Hidup untuk sejenak, membuat sedikit arti dari sebuah kematian. Memberikan makna sejati tentang Antropi pada para astrofisikawan. Kepingan-kepingan alam semesta ini berpadu untuk hidup dan berpencar untuk mati. Alam semesta seolah mengerut dan mengembang. Dalam inti sell, sebuah aktifitas mirip proses digestif terjadi untuk mengolah  begitu banyak molekul. Sebuah sell harus mempertahankan proses sirkulasi dan sekresi agar kehidupannya terus berlangsung. Mempertahankan perpisahannya dengan kematian alam semesta.

Seperti sebuah mesin, Proses sirkulasi didalam sell ini membutuhkan Energi untuk dapat terjadi. Energi adalah daya tak kasat mata yang dimiliki alam semesta untuk melakukan sebuah proses. Daya ini tak dapat diciptakan atau di musnahkan. ia bersifat fundamental dan ada begitu saja. Tak tau kenapa, namun demikian adanya. Jadi setidaknya pada ribuan tahun lalu, tak penting kapan tepatnya, pada sebuah moment tertentu tiba-tiba  sebuah proses kimia terjadi membentuk sebuah sell yang mendapatkan akses untuk melibatkan energi dalam proses kebangkitannya dengan menggunakan sistem transfer energi bernama Adonesine Trhiphosphate (ATP). kepingan alam semesta yang memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan mensirkulasikan Energi didalam sell sehingga proses kehidupan terjadi.

Ketika sell membutuhkan energi untuk mensirkulasikan molekul, maka komponen sell yang bertugas akan mengambilnya dari ATP agar energi yang terpendam didalamnya mengalir dan menggunakan energi tersebut untuk mensirkulasikan molekul. Proses ini terjadi begitu saja hingga saat ini. Makhluk mutliselluler seperti tumbuhan, hewan dan manusia memiliki suplay milyaran ATP dalam tubuhnya yang digunakan oleh sell untuk terus hidup. Walaupun tak satupun inmuwan yang mengetahuan darimana ATP  berasal, namun mereka mengetahui, bahwa seluruh komponen biologis dibumi ini dipenuhi dengan kepingan penuh energi ini.

Ribuan tahun selanjutnya, suatu barak energi raksasa yang terbang di samudra kosmik menjadi salah satu sumber bagi sell untuk melakukan proses kimia di dalam tubuhnya.  Matahari, bintang terdekat yang setiap saat menembakkan foton ke bumi membuat sell-sell purba dapat mengolah molekul-molekul dalam tubuhnya melalui proses Foto Sintesis menjadi Glukosa yang penuh energi sebagai makanan. Glukosa merupakan makanan yang renyah dan mudah di konsumsi sekaligus penuh dengan energi yang dapat di olah dalam ATP yang kemudian dapat disirkulasikan kedalam seluruh komponen tubuh.  Di suatu waktu yang tidak terduga, sell-sell saling memakan dan menjadikan sell mangsanya sebagai komponen baru yang mensirkulasikan energi dalam tubuhnya. Dengan kata lain aktifitas saling makan antar sell ini membentuk fusi antara dua atau lebih sell. Bagian terdalam dalam sell yang telah berfusi ini berperan sebagai pabrik penghasil energi. Para saintis menyebutnya dengan nama mitokondria.

Waktu berlalu, peran energi dalam menunjang proses sirkulasi dan proses fusi sel-sel purba membentuk kehidupan yang lebih beragam. Dari makhluk multiseluler yang belum jelas bentuknya menjadi hewan air yang kemudian bangkit di daratan. Evolusi terjadi. keberagaman hayati terselenggara. Tumbuh-tumbuhan dan hewan membentuk rantai makanan. Diwaktu yang sama, sebuah spesies yang paling menentukan sedang berusaha bangkit dari kegelapan. Menapaki petualangan panjang evolusi untuk mempertahankan jenisnya hingga suatu saat yang entah kapan mulai mempertanyaan sesuatu yang sangat mendasar, apakah “awal” dari semua ini? apakah “kebenaran”, adakah “kepastian”?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed