oleh

Masdar F. Mas’udi : Titik Temu Sunni-Syiah Pada Kalimat La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah

_MG_0342Satu Islam, Jakarta – Mencari titik persamaan antara Sunni dan Syiah sangat banyak ditemukan diantara keduanya. Konklusi paling esensial antara dua mazhab besar Islam itu ada pada kalimat “La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah”.

Hal itu disampaikan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Masdar Farid Mas’udi pada acara diskusi Forum Jum’at dengan tajuk “Titik Temu Sunni-Syiah” yang diselenggarakan oleh Gusdurian di Wahid Institute Jakarta, Jum’at malam, 7 Februari 2014.

“Selain kalimat “La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah” itu, terkhusus bagi kalangan NU,  Gus Dur pernah mengatakan bahwa NU adalah Syiah minus Imamah,” tegas Masdar.

Namun menurutnya jika dicari perbedaannya, menghadapkan antara Sunni dengan Syiah secara diametral pada posisi yang berhadapan tidak salah juga. Pasalnya menurut Masdar Wahabipun termasuk Sunni.

Lebih lanjut Ia mengatakan Wahabi adalah Sunni yang ekstrim. Ia menilai posisi NU berada diantara dua kutub yang tidak bisa ketemu yakni ekstrim kanan yang Syiah dan ekstrim kiri yang Wahabi.

“Jadi NU berada pada titik tengah,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak umat Islam belajar dari sejarah umat-umat terdahulu yang jatuh ke dalam kubangan konflik internal sebagaimana yang pernah dialami umat Nasrani antara Katolik dan Protestan.

Ia memberikan contoh bahwa konflik internal umat Nasrani telah menelan korban hingga 1/3 dari total keseluruhan pemeluknya baik dari Katolik ataupun Ptotestan.

Diskusi mencari titik temu Sunni-Syiah yang diselenggarakan Gusdurian ini dipimpin oleh Ketua Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Zuhairi Misrawi.

Sebagai moderator Zuhairi Misrawi dengan joke-joke segarnya menyelipkan pesan persatuan antar Sunni-Syiah. Menurutnya gagasan persatuan kedua mazhab tersebut bukan hal baru. Menurut lelaki kelahiran Madura itu gagasan  titik temu Sunni-Syiah sudah dilakukan oleh Syeikh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti dari Kairo Mesir tahun 1960-an.

Ditambahkan Zuhairi Misrawi, gagasan Syeikh Mahmud Syaltut tersebut langsung disambut ulama syiah asal Iran dengan membentuk Lembaga Ulama Iran dengan agenda merespon ide persatuan umat Islam.

“Lalu sekarang masih adakah titik temu Sunni-Syiah? Menurut saya titik temu tersebut harus dilanjutkan. Sunni-Syiah bersatu untuk kemajuan bangsa Indonesia,” Ujar Zuhairi Misrawi semangat.

Lebih lanjut ia mengaku titik temu Sunni-Syiah di Indonesia sudah terjadi pada masa mendiang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurutnya perjuangan Gus Dur dalam upayanya mempertemukan Sunni-Syiah harus dilanjutkan oleh Gusdurian.

Sementara itu pembicara dari Syiah, KH. Jalaludin Rakhmat atau Kang Jalal mengatakan antara Sunni-Syiah ada titik temunya dan titik pisahnya. Titik temu keduanya mencapai 999.999 titik.

Menurutnya  salah satu titik temunya saling menghormati dan saling mencintai antar keduamya.

“Titik pisahnya hanya pada masalah penafsiran wasiat Nabi. Syiah mengklaim ada wasiat Nabi kepada Sayyidina Ali RA, sementara Sunni mengklaim tidak ada wasiat tersebut,” papar Kang Jalal.

Acara yang dipenuhi hadirin itu meluber hingga  keluar ruangan. Diperkirakan berjumlah dua ratusan hadirin dari berbagai kalangan. Acara ini selain menghadirkan Atase Kebudayaan Iran, Mr. Ebrahimiyan, juga mendatangkan grup Nasyid dari Iran “Zarb Ava” yang membawakan lagu-lagu rohani sebelum acara dimulai.

Pada akhir acara dibagikan seratus kitab suci Al-Qur’an asal Iran oleh Gusdurian sebagai upaya menampik tudingan bahwa Al-Qur’an Syiah berbeda dengan Al-Qur’an Sunni. (ET)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed