oleh

AS Kirim Pasukan Tambahan, IRGC: Iran Dapat Hantam Kapal Induk AS dengan Mudah

Rudal balistik berpresisi tinggi Iran mampu dengan mudah menghantam kapal induk Amerika Serikat (AS) yang berada di laut. Demikian pernyataan yang dilontarkan komandan pasukan Garda Revolusi Iran Hossein Salami ditengah ketegangan dua negara.

Dalam pidato yang disiarkan televisi Iran, Salami mengatakan teknologi rudal buatan dalam negeri Iran telah mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

“Rudal-rudal ini dapat menghantam kapal induk di laut dengan presisi yang tepat. Mereka diproduksi di dalam negeri dan sulit untuk dicegat serta dihantam dengan rudal lain,” kata Salami seperti dilansir dari Sputnik, Rabu (19/6/2019).

Salami tidak merinci jenis rudal yang dia maksud.

Pernyataannya mengikuti komentar minggu lalu oleh komandan pasukan pertahanan Iran yang memperingatkan musuh untuk tinggal sejauh mungkin dari perbatasan Iran di tengah lonjakan ketegangan regional.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa AS akan melanjutkan ‘kampanye tekanan’ terhadap Iran dalam upaya untuk mencegah agresi. Tetapi ia menambahkan bahwa AS tidak ingin memulai perang.

“Presiden Trump tidak menginginkan perang dan kami akan terus mengkomunikasikan pesan itu sambil melakukan hal-hal yang diperlukan untuk melindungi kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah,” kata Pompeo, berbicara kepada wartawan di Pangkalan Angkatan Udara MacDill di Florida.

Iran telah membangun gudang persenjataan teknologi rudal dalam negeri selama bertahun-tahun, termasuk Sayyad 2 dan Sayyad 3, dan berbagai rudal permukaan ke udara dan rudal anti-kapal. Awal tahun ini, Teheran meluncurkan rudal jelajah jarak menengah Hoveyzeh di sebuah pameran pertahanan. Senjata itu dikatakan memiliki jangkauan lebih dari 1.350 km, memberikan jangkauan luas ke Timur Tengah, dan dikatakan mampu terbang dengan ketinggian rendah, di bawah radar musuh.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat ke level tertinggi dalam beberapa pekan lalu menyusul serangan sabotase terhadap dua tanker di Teluk Oman, tak jauh dari pantai Iran. AS segera menyalahkan Iran atas serangan itu, menuduh bahwa Teheran adalah satu-satunya negara dengan sumber daya dan kecakapan untuk bertindak dengan tingkat kecanggihan yang tinggi. Teheran mengecam Washington atas tuduhannya, dengan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif mengatakan AS membuat klaimnya tanpa sedikit pun bukti faktual atau tak langsung.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Iran tidak akan berperang melawan negara mana pun. Pernyataan itu dilontarkannya setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan lebih banyak pengerahan pasukan ke Timur Tengah.

Dalam sebuah pidato, Rouhani menolak upaya AS untuk mengisolasi Iran dengan menyebut upaya itu tidak akan berhasil. Ia lantas menyebut Presiden AS Donald Trump tidak berpengalaman dalam urusan internasional.

Namun ia menegaskan jika Teheran tidak mencari konflik.

“Iran tidak akan berperang melawan negara mana pun,” ujar Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi pemerintah.

“Terlepas dari semua upaya Amerika di kawasan ini dan keinginan mereka untuk memutuskan hubungan kami dengan seluruh dunia dan keinginan mereka untuk menjaga iran tetap tertutup, mereka tidak akan berhasil,” ucapnya seperti dilansir dari Reuters, Selasa (18/6/2019).

Kekhawatiran akan konfrontasi antara Iran dan musuh bebuyutannya, Amerika Serikat, meningkat sejak Kamis pekan lalu ketika dua kapal tanker minyak diserang di dekat jalur pelayaran strategis Hormuz. Washington menuding Teheran sebagai pelaku. Namun Iran membantah terlibat dalam serangan itu.

Pejabat menteri pertahan AS, Patrick Shanahan, kemudian mengumumkan pengerahan sekitar 1.000 tentara ke Timur Tengah. Shanahan mengatakan pengiriman itu bertujuan defensif, mengutip kekhawatiran tentang ancaman dari Iran.

Penempatan pasukan AS yang baru merupakan tambahan dari penambahan 1.500 pasukan yang diumumkan bulan lalu sebagai tanggapan terhadap serangan kapal tanker pada bulan Mei. Washington sebelumnya memperketat sanksi, memerintahkan semua negara dan perusahaan untuk menghentikan impor minyak Iran atau dibuang dari sistem keuangan global.
(sindo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed