Home / Internasional / AS keluar dari kesepakatan Nuklir Iran: Siapa yang Terluka ?

AS keluar dari kesepakatan Nuklir Iran: Siapa yang Terluka ?

Donald Trump Mengumumkan Penarikan Diri Dari Perjanjian Nuklir Iran

Satu Islam- Washington, 11 Mei 2018

Presiden AS Donald Trump telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) dan akan memperbarui sanksi terhadap Iran. 

Trump merevisi perjanjian Nuklir pada masa pemerintahan  Barack Obama dan menyebut bahwa perjanjian tersebut “cacat pada intinya” dan akan mengarah pada perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

Trump memberi label kepada Iran sebagai “sebuah rezim teror besar”, ia mengatakan bahwa kesepakatan itu membuat  Iran melebihi batasan pada kemampuannya untuk memproduksi bahan nuklir selama 15 tahun, hanya menunda negara itu dari memperoleh bom nuklir.

“Sudah ada cukup penderitaan, kematian dan kehancuran, biarlah berakhir sekarang,” kata Trump.

Langkah ini mengirim kejutan ke seluruh dunia, dan analis mengatakan keluarnya AS kemungkinan akan memiliki efek sebaliknya yang dimaksud Trump. Mereka mengatakan itu bisa malah memperburuk konflik di Timur Tengah, mengguncang Iran dan mengisolasi AS di panggung internasional.

Tirta Parsi, penulis “Losing an Enemy: Obama, Iran, and the Triumph of Diplomacy”, mengatakan alasan utama di balik penarikan Trump adalah “karena itu memiliki nama Obama di atasnya”.

Trump  melunasi ikrar kampanye utama dalam menarik diri dari perjanjian pada Tahun 2015, bekerja antara AS, Iran, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, dan Cina. Musuh Iran, Arab Saudi dan Israel, telah lama menentangnya. 

Kembali di Tepi Jurang

Menempuh  langkah seperti itu adalah  “bencana”, keluarnya AS dari kesepakatan ini menempatkan Timur Tengah “kembali ke jurang perang”.

Ketegangan dapat meningkat yang  berlangsung di Timur Tengah, mulai dari Yaman , di mana koalisi pimpinan Arab Saudi telah memerangi pemberontak yang didukung Iran selama lebih dari tiga tahun, atau di Suriah , di mana intervensi Iran untuk mendukung Presiden Bashar al-Assad telah membuat marah Israel.

Parsi juga menggambarkan keputusan AS sebagai “pukulan” kepada Presiden Hassan Rouhani dan pasukan moderat di Iran. Ini “akan memperkuat tangan para garis keras” dan menempatkan mereka ” jauh lebih radikal dan agresif”, katanya.

AS juga tidak akan terpengaruh, lanjutnya.

Pengumuman Trump akan “mengisolasi” hubungan AS dan ketegangan dengan sekutu-sekutunya di Eropa, katanya, mencatat bahwa Inggris, Perancis dan Jerman, yang merupakan pihak dalam perjanjian itu telah berjanji untuk menghormati perjanjian itu, sementara Trump telah berjanji untuk menghukum negara-negara yang berdiri di samping Iran.

Fatemeh Aman, seorang analis politik yang berbasis di Washington DC, mengatakan keputusan Trump adalah karena khawatir atas pengaruh politik Iran yang semakin meluas di Timur Tengah.

“Keputusan tersebut mungkin telah diperkuat oleh pemilihan baru-baru ini di Libanon di mana sekutu Iran telah menang dan pemilihan umum mendatang di Irak di mana politisi pro-Iran siap untuk menang,” katanya kepada Al Jazeera.

Dia mengatakan keputusan itu akan memiliki “konsekuensi mengerikan pada kelas menengah Iran” dan setuju dengan Parsi bahwa itu akan memberanikan kekuatan konservatif yang menentang pemerintah Rouhani.

Pukulan Ekonomi

Mohammad Marandi, Profesor di Universitas Teheran, mengatakan sanksi baru akan “menyakitkan untuk sementara waktu”.

Namun, ia mencatat bahwa kesepakatan itu tidak membawa kebangkitan ekonomi yang diharapkan oleh Iran, karena banyak sanksi AS tetap ada meskipun ada kesepakatan. Perekonomian sekarang dalam terjun bebas sementara nilai mata uang telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir.

Namun Marandi berharap Iran bisa mengatasi krisis dengan bantuan sekutu baru.

“Di tingkat internasional, hubungan kami dengan China dan Rusia telah berkembang. AS telah, pada kenyataannya, mendorong tiga negara lebih dekat satu sama lain,” katanya.

“Posisi regional kami berbeda satu dekade yang lalu juga. Iran memiliki sekutu regional yang kuat dan hubungan baik dengan negara tetangga.”

Dia mengatakan dia meragukan jika langkah AS dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan.

“Tidak seorang pun di Iran akan mau bernegosiasi dengan AS selama Trump berkuasa,” katanya. “Tidak ada alasan untuk berbicara dengan mereka karena mereka tidak bisa dipercaya.”

Iran menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi sebelumnya, dan jika setuju untuk membuka kembali perjanjian itu, kemungkinan akan “mengambil sikap yang lebih keras,” katanya. “Tapi itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat”.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *