oleh

AS Akui Aneksasi Golan Israel, Timur Tengah Bersiap untuk Perang

Semua pihak tak diragukan lagi berperan dalam memicu konflik. Tidak ada yang menginginkan terlalu banyak konflik, tetapi pertempuran tampaknya akan sulit dikendalikan. Pengumuman Trump tentang Golan telah menghasilkan peluang baru bagi pasukan Arab dan Islam yang ingin menegaskan kredensial kepemimpinan dalam perjuangan melawan Israel.

 

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepati janjinya hari Senin (25/3) untuk mengakui aneksasi Israel atas Dataran Tinggi Golan, Timur Tengah tengah bersiap untuk perang.

Untuk ketiga kalinya dalam dua minggu, sebuah roket jarak jauh telah ditembakkan dari Jalur Gaza ke Israel, menghancurkan sebuah rumah hari Senin (25/3) pagi dan melukai tujuh warga sipil.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bertekad mempersingkat waktu kunjungannya ke Washington. Israel telah mengerahkan militernya. Para pemimpin Hamas, faksi militan Palestina yang menguasai Gaza, telah dilaporkan memasuki persembunyian.

Hanya dua pekan sebelum pemilihan umum di Israel, konflik bersenjata telah bergerak ke zona merah. Hampir semua pihak yang terlibat memiliki alasan untuk menyambut eskalasi terbatas. Mereka juga memiliki alasan untuk mencegah permusuhan pecah terlalu jauh. Tetapi baku tembak tampaknya sulit dihentikan.

Krisis terbaru dimulai tanggal 16 Maret 2019 ketika dua roket Hamas mendarat di daerah Tel Aviv. Tidak ada yang terluka dan Hamas mengatakan serangan itu adalah tidak disengaja. Israel dan Mesir menyebut serangan itu sebagai “ketidakmampuan.” Israel kemudian melakukan serangan balasan terbatas yang melukai dua warga Palestina. Hamas menghindari melakukan balasan dan membatalkan protes yang dijadwalkan di perbatasan.

Semua pihak jelas lebih suka menghindari konflik. Namun, deeskalasi cepat semacam itu sekarang tidak mungkin, terutama bagi Netanyahu, yang tidak boleh terlihat lemah menjelang pemilu.

Di sisi lain, mudah untuk melihat mengapa seseorang di Gaza memutuskan untuk memicu krisis militer. Hamas berada dalam masalah politik. Hamas menghadapi demonstrasi kemarahan oleh warga Gaza di bawah papan protes berbunyi, “Kami ingin hidup,” memprotes salah urus, kebrutalan, dan otoritarian Hamas. Hamas merespons dengan melakukan lebih banyak penindasan.

Berbagai protes tersebut merupakan manifestasi terbaru dari berkembangnya krisis kemanusiaan dan pemerintahan yang dihadapi Hamas, yang belum menemukan cara untuk membawa bantuan kemanusiaan internasional dan rekonstruksi ke wilayah yang dikuasainya yang penuh sesak, miskin, dan berada di bawah karantina.

Mungkin tidak semua pemimpin Hamas menginginkan perang baru. Hamas mengatakan bahwa serangan roket tersebut tidak disengaja, secara tidak masuk akal menyalahkan serangan terbaru sebagai akibat dari “cuaca buruk.”

Tanggal 16 Maret 2019, Netanyahu memiliki alasan untuk menghindari konflik besar lainnya dengan Hamas untuk mengalihkan perhatian dari pemilihan Israel. Kali ini dia tidak punya banyak pilihan. Menambah kemungkinan konfrontasi bersenjata, Mesir memberi isyarat kepada Hamas bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi dari serangan lanjutan terhadap Israel tanpa bantuan.

Baca Juga: Provokasi Trump yang Tak Berguna atas Dataran Tinggi Golan

Selain itu, baku tembak yang terbatas namun kuat dapat membantu Netanyahu melawan kuatnya ancaman pemilihan yang ditimbulkan oleh Koalisi Biru-Putih yang dipimpin oleh tiga jenderal terkemuka.

Antagonis utama Israel lainnya, pasukan paramiliter Hizbullah yang bermarkas di Libanon dan para pelindungnya dari Iran, tampaknya tak sabra untuk terjun dalam perang. Iran telah tertatih-tatih akibat sanksi ekonomi Amerika Serikat dan tekanan lainnya yang kian intensif, dan sedang mencari peluang untuk menunjukkan kekuatan militernya di tingkat regional.

Pengumuman Trump tentang Golan telah menghasilkan peluang baru bagi pasukan Arab dan Islam yang ingin menegaskan kredensial kepemimpinan dalam perjuangan melawan Israel. Pengakuan Trump atas aneksasi Israel terhadap Golan dan Yerusalem dapat terbukti sangat berguna bagi Iran dan proksi Syiahnya. Tidak dipercaya oleh banyak orang Arab, mereka sekarang dapat menyamar sebagai kampiun kepentingan Arab dan Muslim terhadap ekspansi Israel dan imperialisme AS.

Mereka juga akan melihat kesempatan untuk mencegah Hamas dianggap berjasa dalam memimpin konfrontasi atas nama Islamis Sunni, menguntungkan Turki yang baru-baru ini percaya diri dan sekutu Ikhwanul Muslimin, alih-alih Iran.

Namun semua pihak juga punya alasan untuk berhati-hati. Hamas mengetahui bahwa mereka akan kehilangan konflik militer berkelanjutan dengan Israel. Bahkan manfaat politik yang dicarinya tergantung pada bagaimana dapat lolos tanpa banyak kerusakan di Gaza sehingga akan memicu kemarahan publik lebih lanjut.

Netanyahu bisa meraih keuntungan politis dari baku tembak singkat, tetapi tidak jika Israel diseret ke dalam perang yang berlarut-larut di Gaza, kehilangan tentara atau menderita serangan roket yang merusak pusat-pusat populasi, maupun mendapatkan kecaman internasional.

Hizbullah dan Iran juga tidak ingin Israel melancarkan serangan udara habis-habisan terhadap aset dan kemampuan baru Hizbullah di Suriah, atau bahkan di Lebanon, mendegradasi dan menghapuskan banyak keuntungan mereka dari perang Suriah.

Baca Juga: Bahayanya Keputusan Trump tentang Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Gaza

Konflik singkat di Timur Tengah sekarang tampaknya mungkin terjadi, dengan semua pihak melihat potensi manfaat. Tetapi begitu pertarungan dimulai, mundur kembali akan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. (Bloomberg/MMP)

Hussein Ibish
peneliti senior di Arab Gulf States Institute di Washington, Amerika Serikat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed