oleh

Arab Saudi Serukan Dunia Beraksi atas Penyitaan Kapal Inggris oleh Iran

Arab Saudi menyerukan aksi komunitas internasional untuk menghentikan pembajakan kapal tanker minyak dan kapal kargo lainnya oleh Iran di Teluk Persia.

“Setiap gangguan kebebasan lalu lintas maritim internasional merupakan pelanggaran hukum internasional dan komunitas internasional harus melakukan apa yang diperlukan untuk menolak dan mencegahnya,” kata Kabinet Arab Saudi dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Arab News, Rabu (24/7/2019). Pernyataan Kabinet Saudi itu sebagai respons atas penyitaan kapal tanker minyak Stena Impero Inggris oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di Selat Hormuz pada Jumat pekan lalu.

Arab Saudi sebelumnya dilaporkan kantor berita Mehr, setelah lebih dari dua bulan menahan kapal tanker Happyness-1, milik Perusahaan Tanker Nasional Iran (NITC) yang mengangkut lebih dari 1 juta barel bahan bakar minyak. Awalnya mengalami kerusakan di Laut Merah, lepas pantai Jeddah, Arab Saudi, pada 30 April. Kapal tersebut akhirnya dibawa ke pelabuhan di Arab Saudi untuk mendapat perbaikan. Namun setelahnya, pejabat Saudi mencegah kapal tanker itu meninggalkan pelabuhan Jeddah, meski telah membayar biaya pemeliharaan dan perbaikan seperti yang diminta pemerintah Saudi. Otoritas Saudi baru membebaskan kapal tanker itu beserta seluruh awak kapalnya, yakni 24 warga Iran dan dua warga Bangladesh.

Kapal tanker Inggris yang disita Iran sedang menuju pelabuhan di Arab Saudi, tapi tiba-tiba berubah arah setelah melewati Selat Hormuz di mulut Teluk Persia. Inggris menyebut penyitaan kapal tanker minyak itu sebagai tindakan pembajakan oleh negara Iran.

Ketegangan antara Iran dan Inggris kian meningkat, awalnya negara kerajaan ini merebut kapal tanker milik Teheran dan di Gibraltar, aksi yang dilakukan Iran disinyalir sebagai aksi balas dendam. Inggris adalah salah satu pihak Eropa dalam perjanjian nuklir Iran tahun 2015, yang ditarik oleh Presiden Donald Trump tahun lalu dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran.

Sementara itu, Iran pada hari Selasa memperingatkan dengan nada ancaman bahwa seluruh kapal pengiriman yang berada di kawasan Teluk Persia berada dalam pantauan.

“Kami mengamati semua kapal musuh, terutama Amerika, poin demi poin dari asal mereka sampai saat mereka memasuki wilayah ini,” kata Laksamana Muda Hossein Khanzadi, Kepala Angkatan Laut Iran. “Drone merekam gambar,” katanya lagi.

“Kami memiliki gambar lengkap dan arsip besar lalu lintas harian dan waktu demi waktu dari pasukan koalisi dan Amerika,” imbuh dia.

Prancis, Italia, Belanda dan Denmark mendukung rencana Inggris untuk misi gabungan Angkatan Laut Eropa untuk melindungi kapal-kapal pengiriman di Selat Hormuz. Spanyol, Swedia, Polandia dan Jerman juga menyatakan minat mereka.

Inggris mengatakan misi itu dapat dijalankan oleh komando gabungan Perancis-Inggris dan tidak akan secara langsung melibatkan Uni Eropa, NATO atau pun Amerika Serikat.

Irak, yang menganggap Iran dan AS sama-sama sebagai sekutunya, mengatakan pada hari Selasa bahwa Teheran telah meyakinkan Baghdad bahwa akan ada kebebasan navigasi di laut internasional di kawasan Teluk Persia.

Menurut Kementerian Perminyakan Irak, Iran telah mengomunikasikan hal itu kepada Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi selama kunjungannya ke Teheran pada hari Senin.

“Presiden Iran Hassan Rouhani (memberi) jaminan kepada delegasi Irak…soal jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz dan penghormatan terhadap hukum internasional yang menjamin itu,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Irak telah mengupayakan peran mediasi untuk meredakan ketegangan AS-Iran di kawasan Teluk Persia. Baghdad khawatir akan terkena dampak dari meningkatnya eskalasi antara Washington dan Republik Islam Iran, karena Irak menjadi tempat milisi pro-Iran sekaligus pasukan AS. [SINDO/KOMPAS/CNN]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed