oleh

Apa Perbedaan Migran, Pengungsi dan Pencari Suaka?

migran-tenggelam
Foto: ibtimes.co.uk

 

Satu Islam, London – Beberapa hari terakhir koran-koran dan situs Eropa, juga di Indonesia, kerap dipenuhi gambar orang-orang terdampar di pantai Yunani, Turki, Prancis, dan lainnya.

Mereka berasal dari Turki, Pakistan, dan negara-negara Afrika. Sebagian koran menyebut mereka migran. Lainnya menggunakan kata pengungsi dan pencari suaka untuk mengidentifikasi mereka.

Terkadang, bahkan terlalu sering, ketiga kata itu; migran, pengungsi, dan pencari suaka, sering digunakan secara bergantian dan salah. Padahal arti kata ketiga kata itu berbeda, dan kesalahan penggunaan membawa implikasi besar secara hukum, pendataan, dan ilmiah.

Berikut sedikit penjelasan tentang perbedaan ketiga kata itu.

Migran

Oxford English Dictionary mendefinisikan migran, atau migrant, sebagai orang yang berpindah — temporer atau permanen — dari satu ke tempat, atau negara, lain.

Perpindahan disebabkan berbagai alasan. Orang yang berpindah dengan alasan mencari kehidupan lebih baik, atau untuk bekerja, disebut migran ekonomi.

Tidak sedikit pula yang bergerak untuk alasan keluarga atau belajar. Namun, sering pula orang melarikan diri dari konflik dan penganiayaan. Mereka juga disebut migran, tapi tak jarang disebut pengungsi.

Migran adalah kata yang netral, tapi kata itu kini berkonotasi merendahkan dan menegakan prasangka.

Agustus lalu Al Jazeera mengatakan tidak akan lagi menggunakan kata migran untuk menyebut orang yang terombang-ambing di Laut Mediterania.

“Kata migran menjadi tidak akurat untuk cerita orang-orang yang lari dari konflik di Suriah,” tulis editor Barry Malone.

Menurut PBB, mayoritas orang yang tenggelam di Laut Mediterania melarikan diri dari perang, konflik, penganiayaan, kelaparan, dan kemiskinan.

Perdebatan serupa juga terjadi pada penggunaan istilah migrasi dan imigrasi. Migrasi adalah istilah umum, yang menggambarkan pergerakan orang dari satu ke daerah lain.

Imigrasi adalah sub-kategori yang biasanya mengacu pada orang pindah ke negara lain untuk tinggal permanen.

United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan tahun 2013, 232 juta orang — sekitar 3,2 persen penduduk dunia — tinggal di luar tanah asal mereka. Migrasi internal, atau perpindahan dari satu ke lain wilayah dalam satu negara, juga meningkat.

Pengungsi

Pengungsi didefinisikan sebagai orang yang dipaksa meninggalkan negara mereka untuk menghindari perang, penganiayaan, atau bencana alam.

Konvensi 1951, berkaitan dengan Status Pengungsi adalah dokumen hukum yang mendifinisikan pemegangnya sebagai pengungsi dengan segala hak-hal dan kewajiban hukum negara tempat pengungsi itu tinggal.

Konvensi menggambar pengungsi sebagai seseorang yang karena ketakutan dianiaya, alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada kelompok sosial tertentu, atau perbedaan politik, berada di luar negara tempatnya menjadi warga negara. Atau mereka yang takut dan dengan berbagai alasan tidak ingin kembali ke negaranya.

Dalam satu masa dalam sejarah, banyak orang dipaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat lain untuk menghindari perang, penganiayaan, konflik, dan lainnya.

Menurut PBB, jumlah orang yang secara paksa dihalau keluar, pada tahun 2014, mencapai 59,5 juta. Dekade lalu, jumlahnya jauh lebih kecil, yaitu 37,5 juta.

Salah satu konsekuensi nyata dari konflik di Timur Tengah adalah banjir pengungsi di Laut Mediteranea, dengan korban tewas tenggelam mencapai 2.000 orang.

Pencari Suaka

Pencari suaka adalah seseorang yang telah ditetapkan mendapatkan suaka dan sedang menunggu keputusan apakah klaim diterima. Di Inggris, pencari suaka adalah orang yang meminta pemerintah memberikan status pengungsi dan sedang menunggu hasil aplikasi mereka.

Untuk menjadi pemohon suaka dan diakui sebagai pengungsi di Inggris, orang harus berada di wilayah Inggris. Alasannya, klaim tidak bisa dibuat dari negara asal.

Jika aplikasi ditolak dan individu tidak memiliki klaim lain untuk mendapat perlindungan, seseorang harus secara sukarela kembali ke negara asal mereka. Atau mereka dipaksa kembali, alias dideportasi.

Ini mungkin tidak aman bagi seseorang untuk kembali sebelum terjadi perubahan di negara si pencari suaka. Pencari suaka bisa dihukum karena menggunakan paspor palsu untuk pergi dari negara asal. Bukan tidak mungkin klaim suaka akan ditolak.

Di Jerman, orang mengajukan aplikasi suaka mencapai 173 ribu, dan negeri itu menjadi penerima klaim suaka terbesar pada tahun 2014. AS di tempat kedua dengan 121 ribu aplikasi. Inggris hanya menerima 31 ribu aplikasi suaka baru.

Sumber: Inilah.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed