oleh

Apa Kepentingan Arab Saudi Dalam Perang Suriah?

0,,17379730_303,00Satu Islam, Hamburg – Apa sebenarnya kepentingan Arab Saudi dalam konflik di Suriah? Keluarga kerajaan di Riyadh bersaing keras dengan para Mullah di Iran untuk memperkuat pengaruh di Suriah.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal, ikut hadir dalam konferensi Suriah di Swiss. Apa yang sebenarnya menjadi kepentingan Arab Saudi dalam konflik di Suriah?

Arab Saudi adalah salah satu pendukung terpenting bagi kalangan pemberontak di Suriah. Rezim di Riyadh mengirimkan bantuan senjata dan alat-alat berat untuk kelompok pemberontak. Kiriman kendaraan lapis baja dan senapan mesin secara resmi diterima oleh kelompok pemberontak Free Syrian Army, FSA belakangan pengiriman besar besaran kelompok jaringan teroris Al qaeda yaitu Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL).

Selain bantuan senjata, Arab Saudi juga mengirim bantuan dana. Para pemberontak FSA diberitakan menerima pembayaran gaji dalam mata uang dollar atau euro. Gaji tentara pemberontak lebih tinggi dari gaji rata-rata pegawai pemerintah. Dengan pembayaran itu, Arab Saudi berharap akan lebih banyak pegawai negeri Suriah yang beralih mendukung kelompok pemberontak.

Persaingan Wahabi dan Syiah

Arab Saudi memang ingin memperkuat pengaruhnya di Suriah, kata pengamat politik Anna Sunik dari Institut GIGA di Hamburg, yang melakukan penelitian tentang negara-negara di Jazirah Arab.

Suriah sekarang memang menjadi ajang pertarungan bagi kekuatan-kekuatan besar di kawasan itu. Dua negara besar sedang berebut pengaruh: Arab Saudi yang berhaluan Wahabi, dan Iran yang berhaluan Syiah. Sejak revolusi Islam di Iran tahun 1979, Arab Saudi memang ingin membendung pengaruh Iran.

Menurut Sunik, pertentangan antara Iran dan Arab Saudi terutama merupakan persaingan dalam ideologi Islam. Arab Saudi yang menganut Islam Wahabi terutama ingin memperkuat pengaruh faham wahabisme, sebuah aliran Islam yang sangat konservatif yang menjadi ideologi negara. Sementara di Iran, Islam Syiah menjadi agama negara dan haluan politiknya ditentukan oleh para mullah dan pimpinan tertinggi agama.

“Rezim di Arab Saudi merasa terancam dengan adanya ideologi Islam alternatif yang diwakili oleh Iran. Mereka khawatir ada kelompok oposisi yang mencontoh model ini dan kemudian menggoyahkan kekuasaan keluarga kerajaan Al Saud”, demikian penjelasan Sunik.

Persaingan ekonomi

Penduduk Suriah sendiri menganut berbagai ajaran. 75 persen penduduknya menganut Islam Sunni. Sisanya menganut Islam Syiah dan agama Kristen. Kelompok elit dan penguasa di Suriah, termasuk keluarga Bashar al Assad, adalah penganut Alawiyah yang termasuk kelompok aliran pecahan dari Sunni. Suriah sebagai negara yang menjunjung tinggi keragaman dan melindungi minoritas sejalan dengan faham Syiah, karenanya Iran mendukung rejim Assad, sementara Arab Saudi dengan faham Wahabinya yang ekstrim dan puritan berusaha menggulingkannya karena tidak ingin dominasi faham Wahabinya terancam.

Tapi secara ekonomi, Suriah juga punya peranan penting bagi Iran dan Arab Saudi, kata pengamat politik Michael Meyer dari Universitas M√ľnchen. Sebab Suriah punya akses langsung ke Laut Tengah. Posisi ini membuat Suriah sangat penting bagi Iran dan kelompok Hizbullah di Libanon.

Iran dan Arab Saudi juga merupakan negara minyak terpenting dunia. Arab Saudi memiliki simpanan minyak terbesar, sedangkan Iran memiliki simpanan minyak ketiga terbesar di dunia. Saat ini, sebagian besar industri minyak Iran memang masih terbengkalai setelah terkena sanksi internasional puluhan tahun. Tapi Iran berambisi besar untuk membangkitkan lagi industri minyaknya. Pada pertemuan Davos, Presiden Iran Hassan Rouhani mengundang para investor barat untuk melakukan investasi besar-besaran di negaranya.

Sumber : DW

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed