Home / Opini / Aliran dan Mazhab dalam Islam

Aliran dan Mazhab dalam Islam

Oleh: Abdul Hakim

Bagi kebanyakan orang dalam masyarakat kita kalau ada yang bertanya apa aliran keagamaannya, kemungkinan besar mereka akan kesulitan untuk menjawab secara lugas pertanyaan tersebut. Hal sedemikian bisa terjadi karena pada umumnya di kalangan masyarakat kita, Islam diajarkan secara monolitik menurut aliran teologis tertentu tanpa diperkenalkan kepada mereka mengenai apa sesungguhnya aliran tersebut.

Tetapi, kalau kepada mereka ditanyakan apa mazhab yang mereka ikuti, saya yakin sebagian besar akan menjawab bahwa mereka mengikuti mazhab Syafi’i, karena di Indonesia mayoritas umat Islam mengikuti mazhab tersebut. Atau kemungkinan ada yang menjawab mengikuti NU, yang bisa diidentikkan sebagai pengikut mazhab Imam Syafi’i itu. Atau ada kemungkinan lain, mereka akan menjawab mengikuti Muhammadiyah, sebagai salah satu representasi dari kalangan Muslim yang mengidentifikasi diri mereka yang sebaliknya sebagai tidak mengikuti mazhab tertentu.

Dari keterangan tersebut dapat diambil kesimpulan awal bahwa bagi umumnya masyarakat Muslim Indonesia, mereka lebih memahami agamanya sebagai  sebuah mazhab fikih tertentu tanpa terlalu mempedulikan, atau lebih tepatnya tidak terlalu menyadari,  apa yang menjadi aliran teologis dari keyakinan agamanya. Dan, bahkan boleh jadi mereka meyakini bahwa demikianlah Islam itu dan tidak ada yang lain dari itu.

Namun, seiring perjalanan waktu, terutama setelah munculnya beberapa kelompok di tengah masyarakat Muslim Indonesia, seperti Wahabi dan Syiah, lalu muncul wacana tentang aliran Sunni (Ahlu Sunnah) dan Syiah. Sejak itu mulailah timbul kesadaran di tengah umat Islam mengenai apa sesungguhnya aliran keagamaan yang mereka ikuti selama ini. Dan dengan itu mereka mulai mengindentifikasi diri berdasarkan aliran-aliran teologis yang ada di dalam Islam itu.

Bertitik tolak dari berkembangnya kesadaran baru itu, kemudian di kalangan umat mulai muncul ketegangan antar kelompok-kelompok yang berbeda aliran tersebut, yang kalau di masa sebelumnya lebih terkait dengan soal-soal furuiyah (seperti yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah), saat ini persoalannya beralih kepada hal yang lebih bersifat ushuliyah, yakni terkait dengan prinsip-prinsip agama. Pada titik inilah mulai muncul apa yang kini kita kenal sebagai isu Sunni dan Syiah.

Sejak itu pula ketegangan dan permusuhan berlatar sektarian antara pengikut aliran Sunni dan Syiah muncul ke permukaan. Bagi kalangan Muslim yang mulai menyadari identitas kesunniannya, keberadaan Syiah dianggap sebagai ancaman terhadap akidah mereka. Ajaran Syiah dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran Islam yang asli. Dan dalam kaitan ini, salah satu kelompok Islam yang sangat gencar dalam mendiskreditkan kelompok Syiah, adalah dari kalangan penganut faham Salafi (atau dikenal juga dengan sebutan Wahabi), yang mengklaim kelompok mereka sebagai representasi dari Ahlu Sunnah.

Karena minimnya pengetahuan tentang sejarah pemikiran dan perkembangan peradaban dalam Islam, propaganda kelompok Salafi itu ikut memengaruhi pandangan kalangan umat Islam lainnya, yang terpacu untuk ikut memusuhi dan menyesatkan kelompok Syiah itu. Hanya kalangan Muslim terpelajar yang benar-benar mengkaji secara kritis dan mendalam sejarah Islam dari sejak awal dan mulai terbentuknya aliran teologis dan mazhab-mazhab fikih dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, dan Asy’ariyah dalam hal teologi, kemudian mazhab Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali dalam hal fikih, yang bisa secara objektif menerima adanya berbagai perbedaan pemikiran tersebut. Sementara di kalangan Muslim awam, terutama sejak kemunculan dari aliran Salafi-Wahabi pada paruh akhir abad ke 18, ketegangan dan permusuhan di antara para penganut mazhab Islam mengalami eskalasi sampai kepada sikap saling menyesatkan dan mengafirkan.

Hanya melalui pemahaman yang terbuka dan keterlibatan terhadap perkembangan pemikiran dan peradaban dalam Islam yang akan terus bertransformasi seiring lajunya zaman, kaum Muslim dapat diharapkan akan menjadi kampiun dalam era kemajuan ilmu dan teknologi sekarang ini. Apabila tidak demikian, seperti yang kita saksikan sekarang ini, dunia Islam justru menjadi ladang subur tumbuhnya pertentangan sektarian dan kekerasan bernuansa agama, sebagai akibat dari sikap intoleran dan fanatisme keagamaan yang kemudian diperalat oleh para penguasa politik dunia untuk kepentingan ekonomi dan industri militer mereka.

 

 

Check Also

Cara Pandang Salafisme

Cara Pandang Salafisme punya kemiripan dengan Filsafat Positivisme. Ada Apa?

Satu Islam, Jakarta – Salafisme menawarkan sebuah gambaran tentang Islam yangg cukup digdaya: Islam sebagai doktrin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.