oleh

Alasan Janatin-Tohir Pakai Nama Usman-Harun di Singapura

a1847d125f59360cfbba53dfbd647cc1_LSatu Islam – Kala jasad Pahlawan Dwikora Usman dan Harun – pengebom MacDonald House Singapura dalam konfrontasi Indonesia vs Malaysia – tiba di Jakarta, Presiden Soeharto langsung menganugerahi keduanya gelar Pahlawan Nasional. Tapi nama asli sang pahlawan sebenarnya bukan Usman dan Harun, yang kadung diresmikan sebagai nama resmi sang pahlawan.

Soeharto juga menyediakan sebuah pesawat Hercules yang khusus diterbangkan untuk menjemput jenazah keduanya dari Singapura pada tahun 1968. Pangkat mereka pun dinaikkan satu level secara anumerta, plus bintang penghargaan paling tinggi di negeri ini, serta makam di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tak hanya itu, buku sejarah menuliskan, hampir satu juta orang mengiringi jenazah mereka dari Kemayoran, Markas Hankam, hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Kecintaan yang saat itu begitu tulus dan rasanya pantas diberikan, mengingat militansi Usman dan Harun dalam membela kepentingan negara. Segala strategi mereka lakukan untuk menembus pertahanan Singapura, termasuk mengganti nama. Seperti diketahui, dalam rangka sabotase objek-objek vital Singapura, Janatin bertugas di wilayah Basis II.

Basis II beroperasi di Semenanjung, dengan beberapa subbasis: Subbasis X di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran Singapura, Subbasis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai, Subbasis T berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor, dan Kuala Lumpur, dan Subbasis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Tugas utama Basis II ini mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan, melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah
masing-masing, melaksanakan perusakan, sabotase pada obyek militer maupun ekonomi. Juga mengadakan propaganda, perang urat syarat, pengumpulan informasi, plus aktivitas kontra intelijen.

Usman dan Harun pun berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Subbasis dengan menggunakan motor boat, kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I pimpinan Kapten Paulus Subekti. Di sinilah keduanya bertemu kembali dengan Gani bin Arup, sahabat akrab mereka sejak lama.

Sebagai Komandan Tim, Usman berusia lebih tua dari Harun, ia pun lebih berpengalaman di bidang militer, tetapi ia kurang menguasai pemahaman wilayah Singapura. Sementara Harun hafal betul kondisi dan tempat-tempat di Singapura, karena ia pernah tinggal di sana. Namun saat itu mereka mendapati, penjagaan yang dilakukan di daerah musuh begitu ketat dan sukar ditembus. Satu-satunya jalan menyamar sebagai pedagang yang berpura-pura akan memasukkan barang dagangan ke Malaysia dan Singapura.

Strategi ini tampaknya cukup berhasil. Banyak sukarelawan yang berhasil menyusup, begitu juga dengan data-data penting. Nah, saat bolak-balik mencari informasi dan menentukan sasaran sabotase itulah, agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, nama Usman dan Harun digunakan. Jadi, nama Usman dan Harun yang “resmi digunakan” sebagai sebutan buat dua Pahlawan Nasional ini sebenarnya bukan nama asli.

Nama asli Usman adalah Janatin, yang setelah disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali, menjadi Usman bin Haji Muhammad Ali. Sedangkan nama asli Harun adalah Tohir, setelah dipermak nama lengkapnya menjadi Harun bin Said. Selain penggantian nama, Harun juga diuntungkan berkat wajahnya yang kecina-cinaan, sehingga dengan mudah bisa mencari informasi di daerah lawan. Dengan nama samaran itulah Usman, Harun, dan Gani mengobrak-abrik wilayah Singapura.

Hingga akhirnya, MacDonald House luluh lantak, Janatin dan Tohir pun diabadikan sebagai pahlawan, meski dalam nama samaran yang dilahirkan di medan perang, Usman dan Harun.

Sumber : sayangi.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed