Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / ‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

10403228_762581987121656_7491133048322400246_n
Majalah Al Imam. @repro – Dok : Atjeh Post

Satu Islam, Lhokseumawe – “AL-IMAM bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

Itulah editorial pembuka yang ditulis Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam majalah Al-Imam. Editorial itu kemudian dikutip William R. Roff, seorang profesor sejarah ketika membahas tujuan penerbitan majalah Al-Imam dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism (1967)”.

Al-Imam merupakan majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Majalah Islam berbahasa Jawiy tersebut terbit di Singapura pada tahun 1906 hingga permulaan 1909 “Al-Imam megumandankan suara pembaruan demi kebangkitan bangsa-bangsa Islam dari kelenaan,” kata Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, di Lhokseumawe, belum lama ini.

***

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) menyebutkan, Al-Imam mengambil haluan majalah Al-Manar yang terbit lebih dulu di Mesir. Al-Manar diterbitkan ulama muda bernama Sayyid Rasyid Ridha, sembilan tahun lebih awal dari Al-Imam.

“Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syaikh Thahir Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syeikh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

Keterangan lebih lengkap diulas dalam dalam buku Hamka, “Ayahku, (1950) ”. Mulanya terbit majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris atas prakarsa ulama bernama Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin. “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum Muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka.

Majalah Al-Urwatul Wutsqa terbit perdana 5 Jumadil Awwal 1301 Hijriah (13 Maret 1884 Masehi) hingga 18 nomor (edisi). Nomor terakhir terbit bulan Zulhijjah 1301 H. Usia majalah itu tidak sampai setahun lantaran dilarang beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris.

Lima tahun kemudian atau 1315 H/1898 M, seorang ulama muda Sayyid Muhammad Ridha yang sangat terpesona dengan tulisan-tulisan dalam majalah Al-Urwatul Wutsqa lantas menemui gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Pada tahun tersebut Sayyid Muhammad Ridha menerbitka majalah Al-Manar sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap.

Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha mengisinya dengan pandangan-pandangan Islam yang baru. Dalam Al-Manar juga dimuat tafsir Al-Quran menurut sistim Syaikh Muhammad Abduh. Majalah yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

Masih menurut Hamka dalam buku, “Ayahku”, pengaruh Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar meresap ke Jawa, sehingga orang-orang Arab pada 1905 mendirikan perkumpulan “Jami’at Khair”. Dan di Singapura terpengaruh pula seorang hartawan keturunan Arab, Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy, sahabat karib ulama asal Minangkabau yang baru pulang dari Mesir dan lulusan Al-Azhar, Syaikh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari.

Pada satu hari bulan Jumadil Akhir 1324 H (Juli 1906 M) terbitlah nomor (edisi) perdana majalah Al-Imam. Mudir (Direktur) majalah Islam itu adalah Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Pada edisi kedua (Agustus 1906) kemudian dijelaskan bahwa pengarang (penulis) majalah ini Syaikh Taher Jalaluddin tersebut.

Dalam edisi pertama Al-Imam turut disalin sebuah makalah dari majalah Al-Urwatul Wutsqa yang berkepala (berjudul) “Wazakkir fa innaz-zikra tanfa’ul mukminin. Pada edisi kedua disalin pula makalah Al-Urwatul Wutsqa yang terkenal yaitu “Al-Qadha dan Al-Qadar”. “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” tulis Hamka dalam buku, “Ayahku”.

Edisi kedua lantas diisi dengan rubrik taya jawab, pembaca/pelanggan majalah bertanya, Al-Imam menjawab. Akhirnya majalah itupun mulai mendapat tantangan akibat banyak lawan, termasuk yang mengejek Syaikh Taher, namun langsung ditangkis Syaikh Al-Kalaliy.

Pada edisi 12 jilid II terbit 1 Jumadil Awwal 1326 H (Juni 1908 M) dengan tegas Al-Imam menulis: “Al-Imam adalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

“Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka lagi.

Dalam buku “Áyahku”, Hamka kemudian menjelaskan mulanya penerbitan majalah Al-Imam seluruhnya atas belanja Syaikh Al-Kalaliy. Kemudian melalui usaha ulama bernama Sayyid Muhammad bin Agil dan Sayyid Syaikh Al-Hadi didirikan sebuah “limited” yang khas untuk penerbitan itu dengan modal 20 ribu ringgit.

Sayanganya, menurut Hamka, penerbitan Al-Imam tidak dapat dilanjutkan karena sudah banyak saingan dengan terbit surat kabar lainnya. “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu”.

Sayyid Muhammad bin Agil berusaha mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

Dua tahun kemudian atau 1911 M, terbit majalah Al-Munir di Padang, lanjutan dari Al-Imam. Majalah Al-Munir terbit atas gagasan H. Abdullah Ahmad, ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Majalah Islam pertama di Sumatera ini terbit perdana 1 April 1911.

Haji Abdul Karim Amrullah Danau, ayahnya Hamka kemudian berperan mengisi majalah ini terutama dalam menjawab soal-soal menyangkut agama, satu rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam masa itu.

Dalam tulisannya tentang majalah Al-Imam yang dimuat majalah Panji Masyarakat Nomor 201 tanggal 15 Juni 1976, Hamka menyebutkan bahwa dalam kebangkitan Islam di Indonesia dari sudut kewartawanan dan majalah sebagai mass-media, tidak dapat dipungkiri majalah Islam yang mula-mula terbit ialah Al-Imam. Majalah ini terbit perdana 23 Juli 1906 dan dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar Singapura.

“Dalam kata pendahuluannya, penerbitnya Syaikh Al-Kalaliy menyatakan bahwa dia merasa terpanggil buat menerbitkan majalah Islam ini untuk membangunkan bangsa dan kaummnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun. Rasa citanya kepada Wathan (Tanah Air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkanya,” tulis Hamka dalam artikelnya itu.

Hamka menilai bahasa Melayu yang dipakai Al-Kalaliy mulai halus, tidak lagi seata-mata terikat kepada bahasa Arab.

Al-Kalaliy juga menulis, “Sungguhpun kami bukan daripada orang sini dari pihak keturunan, tetapi daripada mereka itu dari pihak peranakkan. Istimewa pula telah kami sukakan negeri mereka itu wathan bagi kami. Betapa tidak, padahal sudah meminum kami akan air-susunya, dan telah tumbuh daripadaya daging dan darah kami, dan telah terbit daripadanya nikmat perhiasan kami”.

Pada edisi empat yang terbit Ramadhan 1324 H/19 Oktober 1906 M, kata Hamka, disebutkan bahwa penertib majalah itu Syaikh Al-Kalaliy sedang berangkat ke Cirebon (Jawa Barat). Selama beliau dalam perjalanan ke tanah Jawa itu, pimpinan penerbitan dirangkap penulis majalah, Syaikh Muhammad Taher Jalaluddin.

Hamka menyebut Al-Imam mendapat perhatian besar dari ulama-ulama yang sepaham. Nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antaranya, terdapat wakilnya di Betawi Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab. Di Padang Panjang, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal Dr. H. Abdullah Ahmad). Di Danau Maninjau, Haji Abdul Karim bin Syaikh Kisaa-iy (kemudian dikenal Dr. H. Abdul Karim Amrullah), dan lainnya

***

Taqiyuddin menyebut tulisan-tulisan hasil karya Syaikh Al-Kalaliy jarang dipublikasikan, sehingga tokoh penting ini terlupakan di Aceh. Bahkan, berbagai kalangan di Lhokseumawe tidak tahu jika ulama dan juga saudagar berkebangsaan Arab yang meninggal dunia dan makamya berada di kota ini, pernah menjadi Direktur Al-Imam, majalah Islam pertama di Dunia Melayu. “Konon lagi melihat karya-karyanya dan majalah itu,” ujarnya.

Cucu dan cicit Syaikh Al-Kalaliy yang masih hidup dan menetap di Lhokseumawe juga tidak tahu dan tak pernah melihat majalah Al-Imam tersebut. “Yang saya tahu, dulu beliau punya banyak koleksi kitab dan buku. Setelah beliau meninggal dunia, diwakafkan oleh anaknya, Hamidah kepada pengelola sekolah Muhammadiyah di Lhokseumawe,” kata Abdul Azis, 80 tahun, cucu Syaikh Al-Kalaliy kepada saya di rumahnya, beberapa hari lalu.

Akan tetapi, Azis tidak tahu persis apakah di antara koleksi tersebut ada kitab dan buku karangan Syaikh Al-Kalaliy.

Saya kemudian mendatangi perpustakaan di kompleks SMA, SMP dan SD Muhammadiyah Lhokseumawe. Petugas perpustakaan SMA dan SMP menyatakan tidak ada buku dan kitab kuno di tempat ini. Petugas itu juga memeriksa database perspustakaan, tidak ada buku atau kitab karangan Al-Kalaliy. “Yang ada di pustaka ini semuanya buku-buku keluaran terbaru. Kalau majalah yang ada majalah Muhammadiyah, tidak ada majalah masa lampau,” kata petugas perpustakaan SMP Muhammadiyah. SMP Muhammadiyah Lhokseumawe lahir lebih awal dari SMA.

Sasaran penelusuran berikutnya adalah Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe. Sebab lokasi panti anak yatim ini dulunya rumah Syaikh Al-Kalaliy. “Dulu ada kitab-kitab Arab, koleksi beliau (Al-Kalaliy) kitab-kitab kuning karena beliau masa hidupnya geu seumeubeut (mengajarkan ilmu agama Islam), selain sebagai saudagar,” kata Ustadz Baihaqi, mantan pimpinan panti asuhan tersebut.

Kitab-kitab koleksi Syaikh Al-Kalaliy, menurut Ustadz Baihaqi, sudah hilang lantaran banjir berulang kali mengepung panti asuhan. Kata dia, sebagian dari kitab kuning tersebut sudah ada terbitan terbaru dan mudah ditemui di toko kitab/buku. Soal majalah Al-Imam, Ustadz Baihaqi mengaku tidak tahu ada atau tidak di antara koleksi Al-Kalaliy.

Saya lantas mengembara ke dunia maya untuk mencari manuskrip majalah Al-Imam, namun belum membuahkan hasil walau berbagai situs perpustakaan sejumlah Negara sudah saya akses. Akhirnya, tiga hari lalu, saya menemukan sebuah artikel di salah satu laman yang melansir tulisan tentang kekayaan Minangkabau di Negeri Orang. Di bawah artikel yang tayang sejak penghujung 2008 tersebut ada komentar salah seorang pembaca dan menanyakan: “apakah di sana ada manuskrip majalah Al-Imam, Singapura?”

Pertanyaan tersebut segera saya kirim balik ke alamat email si penanya. Keesokannya, sebuah balasan surat elektronik dari pemilik email bernama Zico Pratama Putra, MSc., membangkitkan harapan. Ia mengirim file salah satu edisi majalah Al-Imam berbahasa Jawiy hasil scan. Namun, Zico meolak menyebut sumber manuskrip yang ia koleksi tersebut.

Anggota riset pada sebuah organisasi Indonesia berbasis di Duisburg, Jerman, ini tertarik dengan sejarah meski lembaganya fokus pada riset teknologi dan bisnis. “Saya, Alhamdulillah, saat ini sedang fokus melanjutkan studi S3 (program doktoral) di Duisburg, Jerman,” tulis Zico.

Zico turut mendiskusikan tentang peredaran majalah Islam itu sebagaimana disebut Hamka dalam bukunya, “Ayahku”. Kata Zico, “Tampak bahwa sekalipun zaman dulu persebaran logistik terbatas dan orang belum banyak bisa membaca, tapi majalah Al-Imam punya jalur distribusi oleh para ulama di Indonesia”.

File majalah Al-Imam kemudian saya serahkan kepada peneliti sejarah dan kebudayaan Islam untuk bahan penelitian. “Ini salah satu yang selama ini kita cari, meski hanya satu edisi tapi cukup penting, kita akan mencari edisi-edisi lainnya dari majalah Al-Imam itu,” kata Taqiyuddin.

Taqiyuddin menilai penting untuk digali tulisan-tulisan karya Syaikh Al-Kalaliy, termasuk yang dimuat dalam majalah Al-Imam.  Hasil karya tersebut akan menjadi bahan penelitian untuk diangkat ke ruang publik agar menambah pengetahuan generasi saat ini dan masa depan.

***

Dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism (1967)”, William R. Roff  turut mengutip isi salah satu artikel perdana yang diterbitkan majalah Al-Imam. Artikel yang membicarakan tentang “Tugas yang Tepat: Apa yang paling Dibutuhkan untuk Kebaikan Rakyat Kita.”

Penulis artikel tersebut menegaskan tugas para pemimpin rakyat untuk mendiagnosa dan memberikan resep mujarab untuk penyakit yang diderita  rakyatnya. Ia kemudian menyebutkan, “Barangkali dapat dikatakan bahwa suatu hal yang paling kita butuhkan adalah keterampilan kerja dan pertanian, atau pengetahuan tentang bagaimana mempertahankan negara kita dari musuh-musuhnya, atau bahwa kita perlu pendidikan untuk menyelamatkan kita dari rawa apatis dan kemalasan, atau bahwa kita harus belajar untuk bersatu demi kebaikan bersama”.

“Semua ini benar. Tapi satu hal yang akan memperkuat dan mewujudkan semua keinginan kita adalah pengetahuan tentang perintah agama kita. Agama merupakan penyembuh terbukti untuk semua penyakit yang diderita oleh masyarakat kita.”

Begitulah pesan penting lewat artikel majalah Islam Al-Imam yang dipimpin Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy.(Atjehpost)

Check Also

Tradisi Buka Luwur di Makam Sunan Kudus Peringati 10 Muharam

Satu Islam, Kudus – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi masyarakat Kabupaten Kudus dan sekitarnya …

One comment

  1. Assalamualaikum wr.wb.
    Mohon maaf akhi/ukhti.. Barangkali tidak keberatan untuk membantu saya sedang membutuhkan file majalah al imam yg dimaksud untuk tugas penelitian saya di Badan litbang Kementerian Agama.
    Barangkali bisa kirim ke email saya udinlajnah@gmail.com sungguh saya amat sangat berterimakasih atas bantuannya.
    Saifuddin 085216444501 (wa)
    Jazakumullah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.