oleh

AGAMA DAN MASYARAKAT

Caci maki adalah senjata terakhir orang pandir dan senjata pertama pengecut.

Sekarang jadi “bupati sampah”. Semoga penjahat kemanusiaan yang arogan itu sadar dan memohon maaf kepada para pengungsi korban kebengisannya.

Jika kecewa terhadap realitas konkret agama yang terwakili perilaku penganutnya namun ingin mempertahankan agama, mungkin perlu redefinisi agama.

Disharmoni antara teks-teks agama dengan perilaku penganutnya terjadi sepanjang sejarah. Itulah yang mungkin mendorong munculnya deisme dan sekularisme.

Dalam masyarakat yang mayoritasnya beragama bahkan terkesan fanatik, toleransi, kejujuran, kesantunan dan nilai-nilai agama itu sendiri justru kurang tampak.

Di negara yang masyarakatnya tidak beragama atau tidak peduli, toleransi, kesantunan dan kejujuran lebih terlihat ketimbang dalam masyarakat beragama.

Bila agama dianut karena keberhasilannya menciptakan masyarakat yang toleran dan beradab, mestinya itu menjadi kenyataan. Nyatanya tidak.

Kadang agama ini dianut bukan karena dianggap berhasil menciptakan masyarakat yang baik (karena itu tidak faktual) namun karena harapan-harapan penganutnya.

Layak dihormati karena ilmunya. Layak diteladani karena amalnya. Layak disenangi karena pesonanya. Layak dipuji karena dermanya. Layak dicintai karena jiwanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed