oleh

Abaikan Sanksi AS, Cina Lanjutkan Kerja Sama dengan Iran

Abaikan Sanksi AS, Cina Lanjutkan Kerja Sama dengan Iran

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying menyatakan, Beijing mengabaikan sanksi AS terhadap Iran, dan akan tetap melanjutkan kerja sama dengan Tehran.

Chunying hari Senin (4/11) mengatakan, Cina menentang implementasi sanksi AS terhadap Republik Islam Iran.

“Cina menyambut penyelesaian yang logis dan tepat. Oleh karena itu akan tetap menjalin kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Iran,” ujar Jubir kemenlu Cina ini.

Pada 8 Mei 2018, Presiden AS, Donald TrumpĀ mengumumkan negaranya keluar dari JCPOA dan menerapkan sanksi nuklir terhadap Iran.

Periode kedua sanksi AS terhadap Iran yang meliputi sektor migas dan petrokimia dimulai 4 November 2018.

Banyak negara dunia, terutama Cina dan Rusia menentang keputusan AS tersebut, dan menyatakan akan tetap melanjutkan kerja sama dengan Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani akan tetap menjual hasil minyak bumi dan mengabaikan sanksi yang kembali diberlakukan oleh AS.

“Saya dengan bangga menyampaikan bahwa kami akan mematahkan sanksi ilegal dan tak adil yang telah melanggar peraturan internasional,” kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi.

Melansir dari AFP, sanksi baru AS terhadap Iran mulai kembali diberlakukan pada Senin (5/11/2018) dan menyasar sektor energi serta perbankan yang vital.

Hal itu sebagai bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk memaksa Iran mengekang program nuklir dan misilnya, serta dukungan Teheran terhadap pemberontak Yaman, Suriah, Lebanon dan bagian lain dari Timur Tengah.

“Amerika ingin memangkas penjualan minyak Iran hingga nol, tetapi kami akan terus menjual minyak, untuk mematahkan sanksi,” kata Rouhani.

Pemberlakuan kembali sanksi AS terhadap Iran bermula dari Presiden Trump yang memutuskan keluar dari Kesepakatan Nuklir 2015 pada Mei lalu. Trump beralasan, kesepakatan tersebut tak mampu membatasi program pengembangan nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, sanksi yang dijatuhkan kali ini adalah sanksi terberat yang pernah diberlakukan terhadap Iran. Meski demikian, pada pemimpin Iran menolak adanya kekhawatiran terkait dampak sanksi terhadap ekonomi negara.

“Ini adalah perang ekonomi melawan Iran, tapi Amerika harus belajar bahwa mereka tidak bisa memaksakan kekuatan terhadap Iran. Kami siap untuk menghadapi tekanan apa pun,” kata Rouhani.

Sebelumnya pada Jumat (2/11/2018), pemerintah AS juga sempat mengumumkan adanya kelonggaran bagi delapan negara untuk tetap dapat membeli minyak dari Iran.

Pengecualian diberikan kepada negara yang dinilai masih sangat bergantung dengan pembelian minyak dari Iran untuk menjalankan perekonomian mereka.

Selain itu juga demi mencegah terjadinya ketidakstabilan harga minyak mentah dunia. Tak diungkapkan delapan negara yang dimaksud, namun para pengamat meyakini di antaranya termasuk China, India, Korea Selatan, Jepang dan Turki. (pt/msn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.