oleh

28 Safar, Hari Wafatnya Nabi Muhammad Saw

See the source image
Kawasan makam Nabi Muhammad Saw di Madinah

Pada permulaan tahun ke-11 hijrah, Nabi terserang sakit dan kemudian wafat. Saat sakitnya, Nabi sudah mulai marah, ia naik ke mimbar dan berpesan dengan kaum muslimin, mereka saling mengucapkan sayang dengan sesama mereka dan mereka mengatakan: Jika seseorang memiliki hak untuk melakukan hal yang buruk dan hal yang buruk dan berhasil, kami akan mencoba untuk menerima balasan. [1]

Menurut penukilan Shahih Bukhari, salah satu dari kitab Ahlusunnah yang paling penting, pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah, para sahabat yang suka pergi, beliau ingin menulis wasiat agar dengan berkatnya tidak akan pernah tersesat. Beberapa orang dari para hadirin mengatakan: penyakit ini telah mengalahkan Nabi saw (dan dia mengigau) dan kami telah memiliki Alquran dan itu sudah cukup bagi kami. Dengan memperhatikan pada hadis pena dan kertas dimana Nabi saw bersabda, ” Bawakan kepadaku selembar kertas dan sebuah pena untuk saya tuliskan sesuatu bagi kalian, tidak akan tersesat .”

Dan juga dengan memperhatikan pada Hadis Tsaqalain dimana Nabi melihat bersabda, “Aku telah berusaha di tengah-tengah Anda dua perkara yang mana selama Anda berpegang teguh terhadapnya, kalian tidak akan pernah tersesat, kedua perkara itu adalah Alquran dan Ahlulbait-ku.”

Kedua hadis ini memiliki satu tujuan. Yakni Rasulullah melihat kemampuan mempertegas masalah keimamahan Imam Ali. Menurut keyakinan ulama Syiah, tujuan Nabi adalah memperkokoh keimamahan dan kekhilafahan bagi ‘itrah keluarga sucinya, namun sebagian dari orang-orang yang hadir akan tahu apa yang akan dilakukan, dan mereka berusaha mencegahnya. [2]

Khalifah kedua juga dalam dialognya dengan Ibnu Abbas mengakui bahwa Nabi saw mencemaskan nama-nama orang yang sedang sakit dan mengatakan bahwa setelah itu, namun saya (Umar) dengan rasa penuh terhadap Islam dan demi saya dapat menjaga hal itu. [3]

Di dalam Shahih Muslim, yang juga merupakan salah satu kitab yang paling penting bagi Ahlusunah dituliskan tentang tragedi penilikan dari terjemahan ini. Dalam kitab yang sama, misalnya, Sahih Bukhari, Ibnu Abbas senantiasa terus mempersengahkan peristiwa ini dan menganggapnya sebagai bencana yang besar. [4]

Nabi saw wafat pada tanggal 28 Safar tahun 11 H / 632, atau dalam sebuah episode pada tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun yang sama di usianya yang ke 63. sebutan yang tercantum di dalam buku Nahjul Balaghah, kompilasi ajal Nabi datang, berdiri di antara dada dan leher Imam Ali.[5]

Dan kompilasi itu, di antara putra-putri beliau yang hidup hanya Sayidah Fatimah . Putra-putranya yang lain adalah Ibrahim yang lahir satu atau dua tahun sebelum beliau wafat, semua telah meninggal dunia. Jasad suci Nabi melihat dimandikan dan dikafani oleh Imam Ali as dan dibantu oleh beberapa orang dari keluarga dan dimakamkan di dalam yang sekarang berada di dalam Masjid al-Nabawi. (ws)

 

Catatan kaki

  1. Ibnu Sa’ad,  Al-Thabaqāt al-Kubrā , jld. 2, hlm. 255
  2. Syarafuddin, al-Murāja’āt, hal. 245; terjemah bahasa Persia: Munāzharāt, hal. 4
  3. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld.12, hal. 20-21.
  4. Shahih Muslim , jld.3, Kitab al-Washiyah, bab 5, hlm.1259.
  5. Nahjul Balāghah , terjemahan Sayid Ja’far Syahidi, Khotbah 202, hlm. 237.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.