oleh

HORMATI KEYAKINAN LAIN

Tolok ukur komitmen adalah kesiapan menerima konsekuensi dan risikonya. Keyakinan adalah pilihan dan karunia, bukan beban.

Karir, status, atribut & sumber nafkah tidak akan pernah menomerduakan keyakinan pilihan Keyakinan adalah bukti kehadiran anda sebagai manusia merdeka.

Manusia pemilih keyakinan tak akan mengutamakan karir dan akseptabilitas saat keyakinannya harus dibela dan dijunjung tinggi.

Pemilih keyakinan tak galau, tak panik, tak mencari simpati dan tak malu mempertahankan keyakinannyan di hadapan jutaan mulut pencaci.

Kemerdekaan menikmati keyakinan lebih mahal dari sorak sorai teman, senyuman tetangga, pujian atasan. Ia bahkan lebih berharga dari hidup.

Keyakinan yang dipilih tidak akan pernah sekelas dengan keyakinan yang dijejalkan atau keyakinan yang terbentuk karena keterlanjuran determinan.

Keyakinan yang dibangun diatas aksioma-aksioma rasional pasti terintegrasi dengan kognisi, prilaku, sikap dan responnya serta responsibilitasnya.

Memilih keyakinan bukan seperti menebak kuis atau memenangkan lelang. Mengambil keputusan memilihnya adalah revolusi intelektual dalam diri pemilih.

Karena memilih keyakinan adalah revolusi intelektual mestinya pemilih tidak menunggu undangan untuk menyumbangkan pikiran & lainnya demi keyakinannya.

Keyakinan yang kamu pilih adalah inti kemerdekaan yang Tuhan pun tak mau mengubahanyaa bila kau tak mau mengubahnya.

Memilih keyakinan tidak mematikan nalar kritis, tidak meliburkan logika, tidak melelehkan individualitas dan tidak meruntuhkan privasi.

Orang yang berkeyakinan karena keterlanjuran atau penjejalan atau karena provokasi sudah mengalami kematian intelektual. Ia adalah organisme tanpa nalar.

Manusia pemilih keyakinan kadang mungkin menyerahkan harta bahkan merelakan kepergian kekasih tapi sedetikpun tak membiarkan keyakinannya dihina.

Keyakinan, menurut Ibnu Sina adalah perfeksi dalam etape-etape emanasi. Ia adalah kebahagiaan sejati.

Di puncaknya intelektus-intelektus prima; para nabi & filsuf bertengger.

News Feed